Jumat, 17 Oktober 2008

KISAH TAK MESTI SEMPURNA

Suatu malam sehabis pulang kerja, saya iseng-iseng menghidupkan pesawat televisi. Mata saya kemudian terpaku di channel televisi yang menayangkan debat menarik antara mantan mantan aktivis jalanan yang dulu menentang rezim Soeharto. Setelah sekian waktu berjalan dan rezim otoriter Orde Baru tumbang, para akativis itu pun kemudian mencari rumah mereka sendiri-sendiri. Ada yang menjadi birokrat, jurnalis, pengusaha atau juga masuk partai politik. Tetapi banyak juga yang masih setia di jalanan menyuarakan aspirasi rakyat dari pinggiran. Nah, diskusi malam itu adalah antara aktivis-aktivis yang masih setia di jalanan seperti Yenni Rossa Damayanti, Henri Siregar dari PBHI dan Sangab salah seorang pendiri Forkot versus aktivis-aktivis yang sekarang hijrah ke parpol semacam Budiman Sudjatmiko di PDIP, Dita Indah Sari di PBR dan Pius Lustrilanang di Gerindra.

Akankah hijrah mereka ke partai politik dapat menyegarkan kambali gedung parlemen yang mulai menjauh dari suara rakyat ? Ataukah mereka akan terseret arus menjadi budak uang dan kekuasaan seperti yang kita lihat sekarang ini di Senayan ? Bagaimana integritas dan konsistensi moral mereka dapat terjaga manakala Pius yang dulu menjadi korban penculikan sekarang malah bergabung dengan mantan-mantan penculiknya di Gerindra. Dita Indah Sari yang getol di jalur kiri lewat aksi-aksi buruh, PRD maupun Papernas sekarang tergabung di PBR yang notabene partai berhaluan Islam yang jelas-jelas sangat bertolak belakang. Pun juga Budiman Sudjatmiko, mantan ketua PRD, yang dulu sangat bersuara keras menentang kediktatoran masuk ke partai yang masih feodal dan sangat bergantung pada figur tertentu serta mengandalkan dinasti politik Soekarno semacam PDIP. Itulah mengapa diskusi itu benar-benar menarik ?!

Menurut saya pribadi, keputusan mereka-mereka yang bergabung dengan parpol itu tidak dapat disalahkan. Tidak mungkin mereka selamanya berjuang di jalanan, bergelut di bawah terik matahari sambil dorong-dorongan dengan aparat keamanan manakala usia mereka mulai merambat tua. Tentu ada jalur-jalur lain bagi perjuangan mereka yang lebih elegan. Salah satunya ya masuk ke parlemen itu. Ibarat orang berpacaran, di masa muda bebas kesana-kemari mencari tambatan hati yang pas tetapi pada akhirnya hanya ada satu yang menjadi rumah terakhir diantara begitu banyak pilihan. Tentu saja walau sudah mantap di rumah yang baru, masa lalu tetaplah membekas dan menjadi bagian yang tak tergantikan pada jiwa kita. Pun juga dengan aktivis-aktivis itu, idealisme yang sudah terasah lama di jalanan semoga saja tidak luntur. Toh, seumpama mereka nanti benar-benar bisa masuk senayan, itu adalah hasil perjuangan mereka menegakkan demokrasi di negeri ini sejak masih muda dulu.

Terakhir saya hanya ingin mengatakan, kisah hidup tak mesti sempurna. Mereka yang dulu sangat kita cintai tetapi di kemudian hari ternyata memilih jalan hidup lain yang mungkin berseberangan dengan nurani kita, seperti para akativis itu, haruslah tetap kita beri penghormatan yang layak atas pilihan-pilihannya. Semoga hati dan cinta mereka masih tetap sama seperti dulu, seperti halnya kita yang selalu rindu dengan pencerahan-pencerahan baru. Viva kaum marginal !!

Virgo,18-10-08

Selasa, 14 Oktober 2008

SOK TUA SOK BIJAK

Suatu malam, saya menyempatkan potong rambut di sebuah salon kecil di kota saya. Tak dinyana, salon yang biasanya sepi mamring ini mendadak ramai sekali. Antrinya minta ampun. Sepertinya hampir semua salon di kota saya pada Hari Minggu itu memang membludak. Yah, mungkin karena udara di kota saya akhir-akhir ini mendadak panas bukan kepalang. Pergantian musim dari kemarau ke penghujan kiranya yang membuatnya begitu. Rambut yang tumbuh lebat di kepala tentu semakin membuat gerah sekujur badan. Pun demikian dengan saya. Kepala ini semakin terasa berat menyandang rambut tak beraturan yang mulai menjalar sampai krah baju. Padahal saya benar-benar bermimpi memiliki rambut panjang. Mengingat bagian depan kepala saya sedikit membotak, saya selalu berandai-andai seperti Piyu Padi. Tapi alih-alih seperti musikus kondang itu, setelah saya amati benar-benar kok muka saya menjadi semakin aneh. Semakin lucu. Semakin memperlihatkan aroma kejenakaan Saya jadi sering tertawa geli memandang sosok wajah ini di depan cermin. Duh...gusti, ini anugerah atau bencana baik yang patut disyukuri...hehe.

Bukan masalah pergantian cuaca atau rambut yang mulai rontok yang menjadi sasaran utama posting saya kali ini sebenarnya. Tapi suara-suara yang selalu menggelitik nurani saya. Suara-suara yang selalu berdengung : kamu sudah tua, apa yang telah kauperbuat dalam hidup ? Apa jasa dan tenagamu bagi kehidupan ? Adakah makhluk lain merasa nyaman dengan keberadaanmu di dunia ? Ataukah engkau hanya menjadi pelengkap derita saja ? Pertanyaan-pertanyaan yang kadang menelisik sampai jauh ke dalam pikir saya. Membuat saya banyak melamun, mengingat-ingat masa lampau sambil membayangkan masa-masa yang akan datang. Yah, begitu banyak lika-liku dan cerita di dalamnya. Terkadang jalan hidup memang tak seperti yang kita kehendaki, tapi pada akhirnya kita tetap harus bersyukur. Betapa tuhan telah menyuratkan cerita begitu berwarna pada diri kita. Belum tentu orang lain memilikinya. Tinggal kita mengolahnya dengan sedikit rasa agar bisa memberi arti bagi diri kita sendiri, orang lain ataupun lingkungan sekitar.

Dan memang saya harus benar-benar bersyukur. Setelah saya renungkan, banyak juga catatan kebaikan dan nilai kemanfaatan saya di dunia. Walau tentu saja banyak juga keburukan yang saya lakukan. Manusia tidak ada yang sempurna. Yang terpenting kita selalu berupaya berbuat baik dan bermanfaat bagi sesama. Apapun itu. Insyaallah niatan itu akan dapat saya lakukan.

Kebetulan sekali pula banyak sahabat yang hari-hari belakangan ini bertukar pikiran dengan saya. Dan secara garis besar masalah yang mereka hadapi adalah sama : kebingungan atau ragu memilih arah jalan hidup ketika di hadapan mereka terbentang begitu banyak pilihan untuk merenda masa depan. Terkadang memang sulit hidup diantara pilihan-pilihan. Tetapi begitulah kehidupan. Tidak semuanya dapat kita raih. Sebenarnya menurut saya, apapun pilihan kita itu adalah baik. Asal ada tanggungjawab dan dilakukan dengan sepenuh hati. So...maju terus dengan pilihan dan impian-impianmu kawan. Buat Pak Dhe...jalan hidupmu masih saya olah menjadi sebuah masterpiece. Semoga engkau tetap istiqomah tanpa riba di jalur syariah sekalipun mimpimu merengkuh nunuk tak bakal pernah kesampaian...hehe. Buat lepex, jangan pernah menyerah bro, sekalipun rembulan tak dapat kauraih setidaknya engkau masih bisa memandangi raut wajahnya di malam hari. Sinarnya senantiasa menghiasai malam-malam indah kita. Buat Fa, selamat berkarya di kota kembang. Jangan lupa, kalo nanti dapat kawan mojang priangan yang pahen dan berambut lurus panjang kaya Luna Maya butuh pendamping hidup yang agak nyentrik dalam penampilan maupun pemikiran, kasih saja curriculum vitae saya...hehe.

Sebagai penutup, saya akan menukilkan kata mutiara yang saya dengar di radio pagi tadi. Hidup bukanlah melakukan segalanya. Hidup adalah melakukan sesuatu. Tentang maksud kata-kata itu, silakan Anda jabarkan sendiri...hehe.

Salam,

Senin, 29 September 2008

PULANG

Semua orang ingin pulang. Saat pulang, saya bisa berefleksi, mengingat kenangan masa kecil sambil menerawang masa depan.” ( Happy Salma, artis dan penulis )

Ramadhan sebentar lagi berakhir, saatnya untuk pulang bagi para perantau. Semua yang pergi pasti akan pulang. Sejauh bangau terbang akan kembali pula ke sarangnya. Masa kini dan masa depan sekedar muara dari masa lalu. Maka, masa lalu itu penting meskipun tidak harus menjerat langkah. Pulang mencerminkan sikap rendah hati, bahwa sesukses apapun, sehebat apapun, manusia harus selalu ingat pada asal-usulnya.

Seperti diungkapkan Happy Salma, artis yang belakangan sibuk menulis cerpen, pulang tidak hanya diartikan kembali ke rumah tetapi dapat diartikan pula kembali ke masa lalu dimana kita berawal. Maka yang tergambar di hadapan kita adalah masa kecil, orangtua dan orang-orang terdekat yang membimbing kita menapak dunia. Sesuatu yang mungkin kita lupakan seiring derasnya arus kehidupan. Oleh karena itu, momen lebaran adalah saat untuk menengok ke belakang, menghadirkan lagi makna keluaraga, kerabat dan sahabat.

Maka demikianlah, Hari Raya Idul Fitri, terutama di negara kita, merupakan sesuatu yang luar biasa. Idul Ftri merupakan moment penting bagi umat Islam untuk tutup buku dan membuka lembaran baru. Tutup buku dalam artian menghapus setiap kesalahan kepada sesama manusia dan dosa kepada Allah SWT selama setahun berlalu dengan bermaaf-maafan dan memohon ampun kepada-Nya. Membuka lembaran baru dalam arti memulai kembali perjalanan hidup setelah dinyatakan kembali dalam kesucian.

Idul Fitri juga merupakan moment yang ditunggu-tunggu banyak orang. Istilah ied yang berarti kembali, menjanjikan hikmah yang luar biasa bagi kehidupan umat manusia. Setidaknya ada beberapa hikmah yang dapat diraih, antara lain kembalinya ikatan silaturahim, kembalinya kepekaan sosial dan kembalinya manusia ke fitrahnya.

Buat kawan-kawan semua, yang kebetulan membuka blog ini, saya selaku makhluk tuhan yang hina, pasti banyak salah dan lupa, baik itu saya sengaja maupun tidak saya sengaja. Karenanya, dari lubuk hati terdalam dan dengan kerendahan hati, saya mohon maaf yang setulus-tulusnya. Semoga ke depan kita dapat melalui hari yang lebih baik, selalu dalam naungan-Nya.

Sementara buat kawan-kawan yang menjalani ritual kepulangan alias mudik, saya doakan selamat sampai kampung halaman bertemu dengan sanak saudara, handai taulan dan nantinya kembali lagi ke perantauan atau tempat bermukim yang sekarang dengan selamat pula. Puisi dari Joko Pinurbo berjudul Tiada berikut ini mungkin bisa menyegarkan pikir kita tentang arti sebuah kepulangan dan betapa berharganya kasih orang tua terutama seorang ibu :

Tiada pengembara yang tak merindukan
sebuah rumah, bahkan jika rumahnya hanya ada
di balik iklan yang ia baca di perjalanan.

Tiada rumah yang tak merindukan seoarang ibu
yang murah berkah, bahkan jika ibu tinggal ada
di bingkai foto yang mulai kusam.

Lebih baik punya ibu daripada punya rumah,
kata temanku rumahnya konon baru enam
sementara sosok ibunya belum juga ia temukan.

Ya lebih baik punya keduanya, kata saya
dan entah mengapa airmatanya leleh perlahan.

Salam hangat selalu….

Rabu, 24 September 2008

TENTANG RUU APP


Hari ini, setelah sekian lama bersemadi dalam keheningan, saya tertarik kembali untuk menulis. Yah, sekedar corat-coret untuk memperbaharui blog. Topik yang menarik minat saya adalah tentang pro dan kontra RUU APP yang mulai marak kembali. Kabarnya sebentar lagi rancangan undang-undang ini akan segera ditetapkan. Banyak demo yang mendukung segera disyahkan, banyak pula yang menentang. Konon kabarnya Bali dan Papua adalah daerah yang mayoritas menentang keras. Mereka khawatir RUU ini bila jadi disyahkan akan memberangus kreasi dan tradisi berkeseniaan mereka yang sudah berlangsung selama ini.

Pendapat saya tentang hal ini sederhana saja, bila masih ingin Bhinneka Tunggal Ika dipertahankan seyogianyalah negara berdiri diatas semua golongan. Negara boleh mengakomodir keinginan dan tuntutan golongan tertentu tetapi jangan sampai mengesampingkan kepentingan golongan lain yang mungkin lebih minoritas. Tentang kepornoan dan punishmentnya sebenarnya telah termaktub dalam berbagai kitab suci agama, yang tingkatannya lebih tinggi dari undang-undang yang notabene bikinan manusia. Biarlah masing-masing diri pribadi yang menafsirkan dan mempertanggungjawabkan secara moral kepada tuhan dan lingkungannya. Saya rasa manusia mempunyai akal budi yang lebih tinggi dari makhluk lain sehingga dapat mengukur peradabannya sendiri tanpa harus terbelenggu dengan peraturan atau undang-undang tertentu.

Ada juga yang berpendapat bahwa RUU APP ini adalah bentuk perlindungan Negara kepada perempuan yang selama ini banyak mengalami pelecehan dalam berbagai bidang.
Yah, begitulah. Setiap ada konotasi cabul atau porno selalu mengarah kepada sosok perempuan. Dalam berbagai hal yang berkaitan dengan sex dan sejenisnya perempuan sepertinya selalu menjadi obyek penderita. Jarang yang menyentuh kaum laki-laki. Bagi saya pribadi, perempuan adalah makhluk yang indah dan mulia, yang wajib dihormati hak dan pilihan-pilihannya. Biarkanlah mereka merdeka dan menggunakan anugerah fisik yang dikaruniakan tuhan dengan lepas tanpa belenggu yang mengikat kebebasan ‘kemanusiaannya’ untuk berpikir dan berkreasi mandiri. Toh, nanti masyarakat dan lingkungan sendiri yang akan menilai. Sebagai perbandingan, sekalipun berpakaian lebih tertutup, saya yakin banyak laki-laki lebih menganggap seksi dan menghargai Luna Maya daripada Dewi Persik ataupun Julia Perez yang banyak mengumbar aurat. Artinya, tingkat ‘keunggulan’ perempuan terletak bagaimana ia mencitrakan diri dalam pandangan publik tanpa terlalu over dalam segala hal. Dan saya rasa banyak perempuan menyadari hal ini.

Perihal pornografi dan pornoaksi ini juga berkaitan dengan makin menurunnya kadar moral generasi muda sekarang ini. Undang-undang ini, menurut beberapa orang yang mendukungnya juga bertujuan untuk menanggulangi kemorosotan akhlak anak bangsa semisal pergaulan bebas yang berujung berbagai tindakan krimiminalitas. Menurut saya, undang-undang apapun belum tentu dapat menanggulangi kecanggihan teknologi modern yang memungkinkan kita tergiur budaya asing yang menjejalkan kebebasan tanpa batas. Jalan terbaik adalah mengintensifkan kembali pendidikan moral dan agama baik di dalam keluarga ataupun lembaga-lembaga pendidikan umum. Sudah selayaknya pendidikan moral mendapat jatah yang banyak dalam kurikulum-kurikulum sekolah. Dan yang terpenting setiap elemen bangsa benar-benar serius dalam bidang yang dikerjakannya sehingga memberi contoh generasi baru bahwa moral yang baik akan menumbuhkan hasil dan kehidupan yang baik pula.

Jadi, bila sekarang ini banyak pro kontra menyoal masalah kepornoan, saya hanya ingin berkata, marilah kita berpikir jernih. Kalau dipikir-pikir, kita lahir ke dunia inipun setelah terjadi perbuatan porno oleh pendahulu-pendahulu kita…

Sabtu, 30 Agustus 2008

HANYA INGIN BERCERITA...

Apa yang kita cari di dunia ? Kesana kemari tiada henti. Kadang gembira bukan kepalang dan semangat pun berkobar-kobar bila hati sedang berbunga-bunga. Hidup terasa indah dan sayang untuk dilewatkan begitu saja. Kali lain ketika hati sedang gundah, hidup terasa begitu menyesakan dan menjemukan. Monoton dari waktu ke waktu. Kehidupan seperti bergulir lambat.

Itulah mungkin seninya hidup. Ada suka ada duka. Ada senang ada susah. Ada keberhasilan, ada juga kegagalan. Tanpa itu semua mungkin kehidupan terasa hambar. Kurang greget dan kehilangan ruhnya. Tanpa itu semua kita juga akan stagnan. Berhenti di satu titik dan terbelenggu oleh sebuah kemapanan. Manusia akan kehilangan daya pikir dan cipta yang merupakan keunggulan kita dibanding makhluk-makhluk lain.

Dalam hubungannya dengan sang pencipta, saya jadi teringat lagunya Ahmad Dhani dan almarhum Chrisye, Jika Surga dan Neraka Tak Pernah Ada. Menurut saya lagu ini adalah lagu religi terbaik yang pernah muncul bila mau digolongkan sebagai sebuah lagu religi seperti yang sebentar lagi akan marak di negeri ini dalam menyambut perhelatan agung Ramadhan. Lagu tersebut mengandung pesan apabila surga dan neraka tak pernah ada, amal dan dosa juga tak pernah dicatat, apakah kita masih mau mengingat-Nya. Apakah kita masih khusyu menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya? Apakah kita juga masih mengklaim kesucian kita diatas yang lain dengan dalih sebagai pengikut tuhan yang paling setia, paling taat dan paling benar ?

Kali lain, saya juga teringat dengan kuis iseng-iseng yang dibuat oleh penyair Hasan Asphahani dalam blognya beberapa waktu yang lalu. Ia memberi tanya, apakah yang akan kita lakukan bila tuhan membebaskan kita dalam sehari saja untuk melakukan apa saja tanpa ada dosa atau hukuman apapun itu. Dan jawabanpun akhirnya beragam. Bagi seorang yang sudah melekat iman dan takwanya kepada sang pencipta sampai ke hati dan tulang sumsum, mungkin perbuatan baik adalah sebuah keniscayaan sedang perbuatan buruk adalah sebuah kenihilan. Tanpa pahala dan dosa pun mereka tetap taat kepada-Nya. Kebalikannya bila seseorang memang sudah bengal dari sononya. Perbuatan buruk adalah sebuah kepastian sedang perbuatan baik tentu saja adalah sebuah ketololan. Sementara kebanyakan dari kita berada ditengah-tengah kedua kaum itu. Perbuatan baik selalu berusaha kita lakukan dan impikan sambil dalam hati terus berusaha mencecap dan mencicipi perbuatan-perbuatan buruk. Tapi itulah kebanyakan dari kita. Kodrat manusia yang selalu ragu-ragu di persimpangan, dimana sebenarnya bisa memilih belok ke salah satu tikungan, berhenti atau malah kembali ke titik awal.

Maka demikianlah, tidak mengherankan bila memasuki bulan Ramadlan nanti kehidupan sekeliling kita mendadak sangat religius padahal pada hari-hari lain biasa-biasa saja atau malah cenderung berada di luar jalur agama. Tempat-tempat hiburan malam sepi atau bahkan tutup sama sekali padahal biasanya hingar bingar sampe pagi. Orang-orang yang tiap harinya lupa sembahyang lima waktu pun jadi giat ke masjid. Artis-artis yang wara-wiri di layar kaca dengan bangga mempertontonkan lekuk tubuhnya kini berbusana tertutup rapi. Mereka seperti yang akan segera kita lihat di televisi dengan khidmat mendengarkan ceramah atau pengajian dari ustadz-ustadz kondang yang mendadak selebritis. Anak-anak muda yang biasanya pacaran seenaknya di tempat-tempat terbuka kini mulai juga megurangi intensitasnya. Yang perempuanpun mulai gemar berpakaian agak tertutup padahal pada bulan lain dengan santainya mejeng di mal atau tempat keramaian lain hanya ber-tink top atau bercelana pendek ria. Alhasil, griya-griya busana muslim pun mulai diserbu pembeli. Walau sebenarnya mereka adalah korban mode bukan karena ingin berbusana muslim yang baik dan benar. Masak jilbab kok ketatnya minta ampun dan kalo nungging g-stringnya keliatan…hehe.

Itulah fenomena di sekitar kita dan memang seperti itulah adanya. Di waktu lain, setelah Ramadlan berakhir dan bulan baik ini telah menjauh, lambat laun kehidupan pun kembali berjalan normal. Tempat-tempat hiburan malam mulai buka kembali. Artis-artis mulai hot dan seksi seperti dulu. Anak-anak muda sudah merdeka lagi. Dan seterusnya….

Terlepas dari itu semua, saya pikir itu sudah lebih baik dari pada tidak ada kesadaran untuk menengok ke atas sama sekali. Setidaknya dalam setahun ada satu bulan dimana kita bisa bertobat setelah di bulan-bulan lain mungkin kita bermaksiat. Tentang amal ibadah itu urusan Yang Maha Kuasa. Diterima atau tidak itu bukan hak kita untuk menilai. Itu adalah prerogratif sang khalik. Saya jadi ingat ucapan Imam Ali dalam salah satu riwayatnya yang kurang lebih isinya seperti ini : Barangsiapa beribadah kepada tuhan karena takut itu adalah ibadahnya budak, barangsiapa beribadah kepada tuhan karena mengharap pahala itu adalah ibadahnya pedagang, sedangkan barangsiapa beribadah karena cintanya kepada tuhan, entah tuhan ridla (berkenan) atau tidak, itulah sebenar-benar ibadah.

Jadi hanya diri kita sendiri dan tuhanlah yang dapat mengukur seberapa besar cinta kita kepada-Nya. Semoga kita dapat mengisi Ramadlan ini dengan hati jujur dan beribadah dengan ikhlas.

Akhirul kata, selamat menunaikan ibadah puasa bagi kawan-kawan yang menjalankannya….


BeeNet, 30-08-08

Jumat, 22 Agustus 2008

SERAGAM BUAT KORUPTOR


Sungguh mengejutkan dan memberi angin segar bagi pemberantasan korupsi di tanah air apa yang dilakukan KPK dengan jajaran tingginya yang baru belakangan ini. Penjebakan, penyadapan dan penangkapan yang dilakukan terlepas dari pro kontra yang melingkupinya, benar-benar membuat terhenyak masyarakat. KPK tidak hanya mendapatkan tangkapan-tangkapan kelas teri tetapi juga beberapa kakap berhasil dijaring. Salah satu yang menghebohkan dan mendapat porsi besar dari media adalah penangkapan yang dilakukan terhadap beberapa wakil kita di senayan beberapa waktu berselang.

Yah, terpilihnya Antasari Azhar sebagai ketua KPK dulu memang sempat diragukan kapabilitasnya. Tetapi beberapa gebrakan yang dilakukan di awal kepemimpinannya seperti mementahkan keragu-raguan masayarakat itu. Semoga kepercayaan public ini dapat terus dijaga. Jangan sampai seperti yang jamak terjadi di sebagian pemimpin kita, hanya di awal-awal saja mengaum. Selebihnya melempem kalau sudah berhadapan dengan uang atau kekuasaan yang lebih tinggi. Malu dong Pak Antasari dengan cambang lebatnya kalo tak berani membabat koruptor-koruptor yang lebih kakap lagi...hehe.

Satu lagi gebarakan KPK yang menghenyakan kita beberapa hari lalu adalah rencana pembuatan seragam khusus bagi tahanan kasus korupsi (koruptor). Sesuai dengan keterangan M Jassin, salah satu petinggi KPK, seperti dilansir beberapa media, masyarakat diminta partisipasinya untuk urun rembug masalah ini. Rencananya seragam ini tidak akan ditenderkan, karena nominalnya masih dibawah 50 juta. Awal tahun depan diharapkan sudah dapat terealisasi.

Maka demikianlah, rame-rame orang berusaha membuat desain seragam khusus ini. Tv, koran, majalah seakan berlomba-lomba memuat rancangan seragam yang pas. Dan sudah dapat ditebak, beraneka desain seragam akhirnya bermunculan. Negeri kita memang penuh dengan bakat-bakat seni yang luar biasa. Alhasil, desain yang bermunculan malah terkesan sangat fashionable. Kaya warna dan kemungkinan bisa juga jadi trendsetter mode...hehe. Pernah sepintas saya lihat, ada yang menawarkan seragam mirip kostum pemain bola. Bagus sekali desainnya, melebihi desain timnas PSSI yang semakin lama semakin ngga karuan desain kaosnya itu. Wah...bisa-bisa para koruptor malah tambah pede pake kostum seperti ini...:D

Menurut saya, ide tersebut juga cukup baik asal pelaksaannya juga lurus-lurus saja. Tidak malah menimbulkan kolusi atau korupsi-korupsi baru. Bagi saya mungkin hanya satu seragam yang pas bagi koruptor. Murah dan dijamin ngga rentan dengan korupsi. Apa itu ? Kain mori atau kain kafan...hehe. Artinya hukuman matilah yang tepat bagi koruptor. Logikanya, pembunuh berantai yang membunuh beberapa orang saja dihukum mati, apalagi koruptor yang mencomot uang rakyat bermilyar-milyar hingga dimungkinkan lebih banyak orang yang mati karenanya. Alangkah indahnya juga kalo para koruptor itu bertobat sebelum menjalani eksekusi hukuman mati kemudian dengan kostum yang putih bersih satu per satu memasuki pintu-pintu ilahi....hehe.

Saya memposting ini tidak ingin menakut-nakuti siapa saja. Hanya bercanda dan bergurau semata. Bila banyak hal tentang kematian di dalamnya, tidak lain hanya berusaha mengingatkan kita semua bahwa mati adalah hal yang wajar dan biasa. Semua akan mengalaminya cuma bagaimana kita mempersiapkan dan menyikapinya. Ngga nyambung ya? Memang saya sering ndleming dan sok tua akhir-akhir ini. Lepas dari itu semua, maju terus KPK. Ciptakanlah negera Indonesia yang sejahtera bebas dari korupsi, kolusi dan nepotisme.....

giant, 22-0808

Foto : diambil dari sini

Rabu, 20 Agustus 2008

KETIKA ROKOK (AKAN) MENJADI HARAM....



Indonesia adalah sorga luar biasa ramah bagi perokok,
tapi tempat siksa tak tertahankan bagi orang yang tak merokok

..... ..................................................................

Di sebuah ruang sidang ber-AC penuh,
duduk sejumlah ulama terhormat merujuk
kitab kuning dan mempersiapkan sejumlah fatwa.
Mereka ulama ahli hisap.
Haasaba, yuhaasibu, hisaaban.
Bukan ahli hisab ilmu falak,
tapi ahli hisap rokok.
Di antara jari telunjuk dan jari tengah mereka
terselip berhala-berhala kecil,
sembilan senti panjangnya,
putih warnanya,
ke mana-mana dibawa dengan setia,
satu kantong dengan kalung tasbih 99 butirnya,

...........................................................


Bait-bait diatas saya cukil dari puisinya Taufik Ismail berjudul Tuhan Sembilan Senti. Kalo mau menyimak lebih lengkap puisi panjang ini, silahkan baca disini...hehe. Anda semua mungkin sudah bisa menebak mengapa saya pajang puisi tersebut diatas. Yah, tentu saja tak jauh dari rencana MUI mengeluarkan fatwa haram tentang rokok. Mengingat barang tersebut mempunyai cerita dan sejarah panjang dalam hidup saya, maka mau tak mau saya terusik juga untuk sekedar menuliskan beberapa hal mengenai rokok dan segala problematika yang melingkupinya.

Semua perokok dalam hati kecil pasti berkeinginan untuk berhenti merokok dan mengharapkan orang-orang yang dicintainya tidak merokok. Semua perokok juga tahu bahwa menghisap sebatang rokok lebih banyak mudharatnya daripada manfaat yang diperoleh. Saya bisa memastikan hampir seratus persen berpikir seperti itu. Lalu mengapa mereka sulit berhenti merokok ? Tak mudah untuk menjawabnya. Tradisi merokok memang sudah terlalu mengakar dan membudaya. Di setiap petak kehidupan di negeri ini hampir tidak bisa dilepaskan dari rokok. Semua kalangan menjadi penggemar dan pecandu rokok. Bila rokok sudah menjadi kebutuhan yang utama, maka segala hal akan berjalan kacau tanpa rokok. Lihatlah fakta-fakta berikut !? Lik Minto akan pusing-pusing dan tidak bisa bekerja dengan giat apabila tidak ditemani sebungkus rokok setiap harinya. Tor, adik saya, tidak bisa begadang tiap malam membuat program-program komputer tanpa sebatang rokok di sela-sela jemarinya. Mas Beno, seorang seniman, merasa bumpet pikirannya dan tidak bisa menghasilkan karya-karya yang bagus tanpa kepulan asap dari mulutnya. Begitu juga ini, pengakuan dari seorang Butet Kertaredjasa bahwa kalau ia tidak enak merokok itu menandakan bahwa dirinya malah sedang sakit. Waduuh...Bukankah kalo begitu rokok telah menjadi semacam dewa bagi setiap pecandunya ??

Saya juga pecandu rokok. Sejak kecil saya sudah akrab dengan barang ini. Dulu, sewaktu masih SD sampai SMP harus mencuri-curi waktu kalo mau merokok. Maklumlah, emak saya paling benci melihat orang merokok. Ada bau asap rokok sedikit saja di dalam rumah beliau sudah mual-mual. Bapak saya konon juga perokok. Setelah kawin dengan emak, beliau berhenti total dari rokok. Menyentuh sedikitpun tidak mau. Bapak saya adalah contoh langka perwujudan sebuah cinta dan kesetiaan hingga detik ini. Saking cintanya hampir setiap kata-kata emak selalu diperhatikan. Berbeda jauh dengan anak-anaknya. Mungkin karena pergaulan dan kondisi yang mengharuskannya begitu, ketiga anak-anaknya sekarang menjadi perokok-perokok kelas wahid...hehehe. Sudah menjadi hal yang umum kalo sekarang di dalam rumah selalu berserakan puntung dan abu rokok. Mungkin dalam hati emak saya akan menangis. Beliau telah gagal mendidik anak-anaknya menjadi orang yang berperilaku dan berpenampilan sehat, terhindar dari rokok. Tapi begitulah, setiap orang pasti ingin berhenti merokok. Tapi sulitnya memang minta ampun. Mak...doakan kami agar dapat segera lepas dari rokok !?

Saya sebenarnya sudah sempat berhenti merokok, malah hampir tiga tahun tidak merokok. Seperti sudah saya katakan di awal, perjalanan hidup saya dengan nicotine amatlah panjang. Kalo dipikir-pikir hampir separuh dari penghasilan saya tersedot olehnya. Sampai suatu saat, saya ketakutan setengah mati. Setelah bertahun-tahun batuk tak kunjung sembuh, badan yang sudah kurus semakin kurus, pada akhirnya saya batuk darah hingga didiagnosa terkena TBC. Saya agak malu juga sebenarnya dengan penyakit ngga elit ini. Takut menular dan dijauhi orang lain. Walau rokok sebenarnya bukan penyebabnya tetapi dengan merokok salah satunya maka penyakit ini akan gampang singgah ke tubuh kita. Gaya hidup saya yang serampangan mungkin yang menjadi pemicunya. Setelah melalui pengobatan intensif selama enam bulan dan berhenti total dari rokok akhirnya saya sembuh juga. Dari sini saya jadi tahu, ternyata banyak juga dari kita yang terkena penyakit orang kumuh ini. Mungkin karena malu dan tidak tahu saja sehingga banyak yang tidak terdeteksi. Setiap kali saya kontrol ke Panti Rapih, ada juga nona-nona cantik, ibu-ibu dan bapak-bapak yang hidupnya wah dijangkiti virus ini. Memang penyakit tidak pandang bulu bukan....hehe??

Maka demikianlah, setelah itu saya berhenti total menghisap rokok. Ritual-ritual merokok setelah habis makan atau waktu kumpul-kumpul dengan orang banyak sudah tidak saya lakukan lagi. Niat dan tekad saya sudah benar-benar bulat saat itu. Waktu terus berjalan, akhirnya pertahanan saya jebol juga. Setelah hampir tiga tahun tidak mengendus rokok barang sebatangpun, kini saya mulai akrab kembali dengan barang ini. Romansa dan kenangan indah masa lalu dengan si tuhan sembilan senti ini seakan menghapus kenangan buruk saya bersama tubercolusis. Walau tidak separah dulu, tapi kembalinya saya ke pelukan rokok sebenarnya adalah sebuah langkah mundur. Yang patut digarisbawahi dari pengalaman saya ini adalah tanpa niat dan tekad yang kuat akan sulit bagi seorang perokok untuk meninggalkan ketergantungannya kepada rokok. Apalagi bila lingkungannya juga perokok. Makin sulit lagi. Seseorang akan benar-benar berhenti merokok jika penyakit mulai menggerayangi tubuh. Begitulah mungkin kesimpulan saya.

Persoalan rokok adalah persoalan yang kompleks di negara kita. Terkait dengan banyak hal. Tidak hanya berkutat pada masalah kesehatan saja tetapi juga menyangkut hajat hidup orang banyak. Memang merokok merugikan kesehatan dan mengancam generasi muda kita tetapi bagaimana nanti nasib buruh-buruh rokok yang bertebaran di negeri ini apabila pabrik-pabrik rokok ditutup. Bagaimana juga nanti nasib petani-petani tembakau dan cengkeh yang kehidupannya bergantung dari sini. Beberapa tahun yang lalu, kehidupan ekonomi kota Kediri lumpuh gara-gara PT Gudang Garam berhenti beroperasi beberapa hari. Ternyata mata rantai produksi rokok itu amat panjang dan melibatkan banyak orang. Mulai dari buruh luar, buruh produksi hingga ke para distributor. Semuanya melibatkan banyak kepala yang menggantungkan kelangsungan hidupnya dari situ. Lha ...bagaimana nanti kalo pabrik-pabrik rokok itu tutup ??

Di sisi lain negara juga mendapatkan pendapatan yang cukup banyak dari cukai rokok. Di saat keuangan negara sedang kacau seperti ini, industri rokok telah menyokong pendapatan negara yang tidak sedikit. Selain itu, event-event besar olahraga seperti sepakbola juga masih bergantung dari sponsor pabrik rokok. Ini juga harus menjadi perhatian bukan ?

Oleh sebab itu, MUI harus berhati-hati bila ingin memfatwakan bahwa rokok itu haram. Jangan sampe seperti yang sudah-sudah, begitu banyak fatwa yang membingungkan dan meresahkan umat. Jangan sampe juga nanti ulama melanggar fatwanya sendiri. Pada kenyataannya banyak kiai dan santri yang menjadi perokok berat ( seperti disindir puisi diatas). Dan saya yakin akan sulit untuk berhenti. Seperti pernah diungkapkan Gus Mus, kiai yang juga perokok, merokok adalah kesalahan kita sejak awal. Membenahinya diperlukan sikap dan pemikiran yang arif dan bijaksana.

Lalu bagaimana sebaiknya langkah yang harus diambil ? Menurut saya kita optimalkan dulu perda-perda larangan merokok di tempat umum yang sudah berlangsung saat ini. Kemudian juga penayangan iklan rokok diatas jam sembilan malam. Menaikkan cukai rokok sampe 65 persen seperti di negara lain juga merupakan langkah yang bagus. Plus kita mengintensifkan kampanye anti rokok dan penyuluhan-penyuluhan tentang bahaya merokok. Sembari itu berlangsung, pemerintah harus secepat mungkin mencetak lapangan kerja baru sebagai pengganti pabrik-pabrik rokok apabila nantinya benar-benar ditutup.

Hal diatas mungkin akan sulit terwujud. Di saat lapangan kerja semakin menyempit dan pengangguran membludak seperti sekarang ini pendapat saya tersebut cuma sebatas wacana pikir semata. Tetapi adakah pemecahan yang lebih baik dari itu ? Silahkan Anda berpikir sendiri....? Saya akan melanjutkan ngrokok yang belum habis ini...hehe.

Ngarep monitor, dikancani tegesan karo sacangkir kopi

Foto : generasi muda yang harus dilindungi dari rokok.....hehe