Sabtu, 15 Mei 2010

MINTEN DAN MINAH

( dimuat di Buletin Sastra Pawon Solo Edisi 28 Tahun III /2010 )

Sudah beberapa hari ia tak kutemukan. Biasanya selalu menungguku di kafe kecil sudut jalan ini. Menikmati secangkir kopi dan beberapa makanan ringan dalam temaram lampu. Aku tak pernah peduli pada tatapan aneh para pelayan kafe atau pasangan lain. Mereka sepertinya menganggap kami pasangan yang ganjil. Tetapi peduli amat. Toh, aku tidak mengganggu dan mengusik kenyamanan mereka.

Pelarian panjangku dari cinta yang remuk redam, tak pernah kusangka sebelumnya, bakal tertambat pada perempuan itu. Aku seperti menemukan kembali gairah hidup. Mungkin karena kami memang sama-sama cocok dalam beberapa hal. Suka minum kopi pahit tanpa gula dan menghisap rokok putih merk yang sama. Dan yang lebih mengagumkanku, ia juga tahu sedikit banyak tentang sastra. Sebuah dunia yang jauh dari pergulatan hidupnya sehari-hari.

“Bapakku dulu pemain ketoprak. Simbokku seorang pesinden. Bapak dan simbok sering mengumpulkan kawan-kawannya di rumah. Banyak dari mereka yang penyair atau penulis hebat. Aku sering diajak berbincang-bincang dengan mereka.Sebenarnya ada darah seni mengalir dalam tubuhku. Bukankah pekerjaan yang kulakoni ini juga bagian dari seni juga…hehe ?!” demikian ia pernah berkata kepadaku, ketika tak sengaja kutemukan beberapa buah buku Pram dan kumpulan puisi Widji Thukul di bawah bantalnya.

Ya, mungkin aku memang sedang jatuh cinta. Sesuatu yang kupikir mustahil dapat kurasakan lagi. Sehabis berjumpa dengannya, entah mengapa banyak puisi dan cerpen bisa kutulis kembali. Sebagian kawan menganggap puisi dan cerpenku hanyalah karya beraroma cinta picisan semata. Tetapi peduli amat. Satu dua diantaranya ternyata bisa juga nampang di koran-koran Minggu.

Aku bertemu dengannya pertama kali sekitar setengah tahun yang lalu. Waktu itu aku masih magang di sebuah koran kriminal. Suatu malam, aku mengikuti operasi penggerebekan satpol PP terhadap panti pijat yang disinyalir beroperasi ganda, selain sebagai panti pijat juga tempat prostitusi terselubung. Banyak perempuan dan juga beberapa laki-laki hidung belang terjaring pada operasi itu. Mereka dikumpulkan semalaman di kantor Pol PP sembari diberikan penyuluhan.

Aku tertegun, perempuan-perempuan itu masih sangat muda. Kecantikan paras wajah dan kemolekan tubuhnya, tak kalah hebat dari artis-artis sinetron belia di televisi. Hanya peruntungan nasib mereka yang jauh berbeda. Tetapi yang membuatku makin tertegun : tak ada gurat malu, sedih ataupun kecewa pada wajah-wajah mereka. Tetap tetawa-tawa dan bersenda gurau dengan genit dan manja. Bahkan sesekali menggoda para petugas dan wartawan yang menguntitnya.

Satu dari perempuan perempuan itu, jauh lebih berumur dari yang lainnya, sangat menarik perhatianku. Kelihatannya ia semacam mucikari di panti pijat plus itu. Menatap wajahnya, aku seperti melihat kembali tahun-tahun berlalu yang sengaja kutinggal berlari. Seraut wajah, ah tetapi bukan, yang kutepis jauh-jauh dari ingatanku. Sontak aku tergeragap, ketika ia mendekatiku.

“ Punya korek api ?”

“Eh, iya. Sebentar…”

Aku masih sedikit gelagapan. Perempuan itu kemudian berdiri di sampingku sembari menghisap rokoknya dalam-dalam. Ia tampaknya berusaha akrab denganku.

“ Dari Jawa ya ?”

Kok tahu ? Mbaknya dari Jawa juga ya ?”

“ Dari jawabanmu yang medok, aku tahu kamu orang Jawa. Pasti Jogja ?”

“ Ah, benar sekali. Tetapi aku berasal dari pelosok Jogjakarta. Jauh di wilayah perbukitan sebelah barat Jogjakarta. Mbaknya Jogja juga ya ?” Kembali kutanya asalnya. Ia tidak menjawab. Perempuan itu hanya membuang pandangannya ke sisi lain ruangan. Aku tahu ia berusaha menyembunyikan asal-usulnya. Kutebak, ia berasal juga dari Jogjakarta. Tetapi dari bagian lain, mungkin dari bagian sebelah timurnya.

“Nggak takut dipenjara, Mbak ?”

“Ngapain mesti takut ? Ini hanya operasi gertak sambal biasa. Nanti juga dilepaskan begitu saja. Lagian banyak dari mereka adalah pelanggan setia panti pijatku”

“Jadi begitu, ya ?”

“Kemarin kita kurang koordinasi. Ada salah seorang anak asuhku yang servicenya kurang memuaskan mereka. Ya, jadilah mereka ngamuk kaya gini.”

Aku mulai akrab dengan perempuan itu. Banyak cerita menarik dapat kukorek dari penuturannya. Ada perasaan aneh setiap kali aku bersitatap dengannya. Ah, mengapa aku seperti mengenal baik perempuan ini. Nada bicara dan tutur katanya, sungguh amat lekat dengan yang kurindui.

Raminten, demikian nama perempuan itu. Orang-orang di sekitarnya biasa memangilnya dengan Minten atau Mami Minten. Usianya jauh sekali diatasku. Mungkin sepantaran dengan bibiku di kampung. Walau begitu, ia pandai sekali menyembunyikan umurnya. Tubuhnya tetap kencang dan padat. Penampilannya juga selalu modis dan gaya seperti anak muda zaman sekarang. Konon, ia dulu mencari ilmu awet muda pada orang pintar di tanah kelahirannya. Dia adalah pengelola panti pijat tersebut. Banyak orang mungkin menganggapnya hanyalah pelacur hina semata. Tetapi bagiku, dia adalah sosok perempuan perkasa yang mampu bertahan dan menaklukan ganasnya rimba ibukota.

Sejak peristiwa penggerebekan itu, kami menjadi lebih sering ketemu. Dia tidak pernah mengajakku ke tempat kerjanya. Takut aku kecanthol anak asuhnya yang masih muda-muda, demikian ia pernah memberi alasan dengan bercanda. Biasanya kami janjian terlebih dulu lewat SMS atau telepon langsung. Di kafe remang-remang sudut jalan ini, kami kemudian memulai petualangan nafsu kami. Bukan hanya masalah birahi, tetapi dengan perempuan paruh baya ini, aku seperti memiliki tautan lebih yang tak pernah kumiliki pada hubunganku dengan perempuan-perempuan lain sebelumnya.

Ah, aku begitu mencintainya. Tetapi dimanakah gerangan perempuan itu sekarang? Sudah berhari-hari ia tak menghubungiku. Nomor ponsel yang diberikannya padaku tak ada yang aktif. Aku benar-benar merindukannya. Mungkin aku memang sedang keblinger cinta. Setiap saat, sosok perempuan di puncak kematangan itu membuyarkan pikiran dan konsentrasiku. Wangi parfumnya yang khas, seperti bunga purba. Rambutnya yang hitam tergerai panjang. Payudaranya yang masih mengkal, terbungkus kutang merah berenda-renda. Pun ketika perlahan ia melepas g-tring tipisnya sambil berdesah ringan. Tersembulah kemudian vagina elok dengan rambut yang dirawat dan dicukur rapi itu. Nafsuku makin menggelegak. Segera kami berpacu dalam lenguhan panjang sampai batas kenikmatan yang tak terhingga. Perempuan itu benar-benar matang, berbeda sekali dengan Minah….

Mendadak ponselku berdering membuyarkan lamunan. Dito, karibku di kampung menelepon.

“Syam, sejak kautinggal pergi Minah seperti orang linglung. Ia minggat dari rumah. “

“Apa? Minggat ?!”

Minah. Aku merasa bersalah kepada gadis itu.



***


Gerimis kecil turun dari langit. Aku masih terpaku sendirian di dalam kafe. Minten tetap tak ada tanda-tanda bakal kesini. Sementara kabar perginya Minah dari desa membuat pikiranku makin tak karuan. Minah atau nama lengkapnya Siti Aminah, gadis manis berkerudung yang bersahaja itu pernah mengisi relung hatiku paling dalam hingga bertahun-tahun. Mungkin juga sampai saat ini.

Di senja yang gerimis seperti ini pula, dua tahun silam aku nekat pergi meninggalkan kampung halaman membawa hati yang porak-poranda karena cinta yang tak pernah sampai. Bukan karena perempuan yang kucintai menolak cintaku, tetapi orang-orang di sekelilingku yang tak pernah menyetujui hubungan kami. Aku memutuskan pergi karena tidak ingin melukai hati banyak orang yang sudah banyak kukecewakan selama ini. Biarlah rasa sakit ini kubawa berlari, hingga nanti mungkin bisa menghilang dengan sendirinya ditelan waktu.

Aku tak pernah tahu, mengapa keluargaku menolak Minah. Padahal semua orang juga tahu dia adalah gadis yang sangat baik. Dia tak pernah mau kuajak macam-macam saat berpacaran. Hubungan kami kebanyakan hanya lewat perantaraan Dito, sahabatku yang masih ada pertalian keluarga dengannya. Juga lewat telepon atau SMS. Itupun setelah kupaksa berkali-kali ia baru mau menerima hadiah handphone pada hari ulang tahunnya ke-16. Usia kami memang terpaut lumayan jauh. Aku sudah bertahun-tahun kuliah sedang dia masih kelas dua SMA. Tetapi itu sebenarnya bukan menjadi soal. Aku dan Minah rela dan sabar menunggu.

Minah hanya tinggal bersama neneknya di sebuah rumah sederhana pinggiran desa. Aku tak pernah tahu dimana kedua orang tuanya. Menurut Dito, bapak dan ibu Minah merantau ke Sumatera. Sekarang sudah menetap dan hidup mapan disana. Tetapi banyak orang bilang, orang tua Minah sedang menjalani hukuman di Nusakambangan. Konon, semenjak kakek neneknya dulu, keluarga Minah terlibat organisasi yang dilarang pemerintah. Oleh sebab itu, mereka dikucilkan warga di pinggiran desa.

Aku masih ingat kemarahan bapak, sewaktu mengetahui hubunganku dengan Minah pertama kali dulu.

“ Syam, mau jadi apa Kau ini ? Hidupmu hanya berkutat pada sastra yang tak jelas manfaatnya itu. Kuliah juga nggak lulus-lulus. Sekarang malah menjalin hubungan dengan perempuan yang tak jelas asal-usulnya ?”

“Memangnya kenapa Pak? Setahuku Minah itu gadis baik, tidak pernah berbuat yang macam-macam. Taat beribadah dan rajin ke masjid…”

“ Apa katamu ? Rajin ke masjid ? Kerudung dan lain-lainya itu hanya kedok semata. Semenjak dari dulu, keluarganya tidak bertuhan. Kafir. Karena itu mereka dikucilkan warga di pinggiran desa.”

Aku tak menghiraukan omongan bapak dan tetap menjalin hubungan dengan Minah. Aku tak pernah bertegur sapa lagi dengan bapak semenjak itu. Kepergianku ke Jakarta pun tak diketahui olehnya. Juga sanak keluargaku yang lain. Aku merasa bersalah kepada mereka.

Gerimis di luar mulai berhenti, malam ini tak jadi turun hujan. Suasana sepi dan lembab. Entah mengapa aku merasa asing. Aku rindu kampung halamanku yang tenang di kaki perbukitan Menoreh. Aku rindu bapak, ibu dan semua keluarga yang lama kutinggalkan. Aku kembali teringat Minah yang kusayangi. Nama dan nomornya masih tertera manis di memori ponselku. Nomor yang kuhadiahkan bersama ponselnya saat ia ulang tahun dulu. Nomor itu tidak kuhapus, namun tak pernah kusentuh sama sekali. Kini, aku seperti ingin memencet kembali nomor ini. Namun aku bimbang dan ragu. Minah, dimanakah engkau kini ?

Mendadak, wajah Minten kembali hadir. Aku harus menemui perempuan itu. Kurapatkan jaket kemudian bergegas keluar dari kafe ini. Segera kustater sepeda motorku menuju panti pijat miliknya.



***


Tidak seperti malam-malam biasanya yang lumayan riuh, panti pijat ini sekarang terlihat sepi. Tak nampak perempuan-perempuan muda yang tertawa cekikikan genit diantara gurau dan serapah beberapa laki-laki. Aku terus berjalan memasuki pintu demi pintu. Seorang perempuan muda, salah satu anak asuh Minten yang masih tersisa, menghampiriku.

“Cari Mami ya Mas ?”

“Ya, dimana dia ? Kok sepi sekali ?”

“Ikut saya Mas !”

Aku mengikuti langkah perempuan muda ini. Ia mengantarku ke sebuah kamar yang lumayan besar dibanding kamar-kamar yang lain.

“ Ini kamar Mami, Mas. Beberapa hari yang lalu ia uring-uringan dan menyuruh pergi kami semua. Hanya aku yang masih disini. Katanya ia ingin menutup panti pijat ini. Mami ingin bertobat dan kembali ke jalan yang benar. Mungkin ini ada hubungannya dengan berita dari kampung, beberapa hari yang lalu. Anak semata wayangnya yang selama ini ia biayai sedang kena masalah.”

“Jadi Minten punya anak ?”

“Benar, Mas. Mami selalu rutin mengirim uang ke kampung. Itu foto anaknya, ketika masih kecil dulu.”

Perlahan, aku mendekati foto yang dibingkai pigura kecil itu. Aku seperti mengenal foto ini. Persis sekali foto Minah kecil yang selalu disimpan Minah dalam dompetnya. Dadaku makin berdegup kencang, ketika memandang foto pada pigura lain disampingnya. Foto sepasang kekasih yang terlihat begitu mesra. Remaja perempuan yang mirip Minah. Aku yakin dia adalah Minten di kala muda. Sedang laki-laki disampingnya, adalah sosok yang sangat kukenal baik. Itu adalah sosok muda bapakku. Kakiku lemas, aku seperti tak menginjak bumi.
Mendadak dua pesan masuk dalam ponselku. Tanganku memencet tombol ponsel dengan gemetar.

“Aku pulang kampung, Syam. Sementara, aku titipkan panti padamu. Minten”

“Mz syamsul, ak tahu kamu di Jkt. Tolong jemput ak di Senen. Minah.”

Aku pusing. Mungkin sebentar lagi pingsan…


Yogyakarta, Januari 2010

Kamis, 14 Januari 2010

IBU INGIN MENIKAH LAGI

( dimuat di Minggu Pagi Edisi I Januari 2010 )

Aku termenung di beranda. Tengah malam lewat. Ibu-ibu tetangga yang rewang di dapur sudah pulang satu per satu. Isteri dan kedua anakku mungkin juga sudah terlelap di kamar, setelah seharian tersandera di dalam bus. Ibu membuatkanku secangkir kopi manis, kemudian segera masuk pula ke dalam kamarnya. Aku teringat telepon Wawan, adikku yang paling bungsu, beberapa malam yang lalu. Telepon yang membawaku pulang ke rumah hari ini.

“Mas, Ibu mau menikah lagi .“

“Apa ? Menikah ? Jangan ngawur kau Wan ?!”

“Benar Mas, aku nggak sedang main-main. Semua orang kampung juga sudah tahu. Ibu selama ini menjalin hubungan dengan Pak Lukito, anak buah Bapak dulu. Aku jadi serba salah sendiri. Sebaiknya kamu pulang dulu. Kamu kan yang paling dekat dengan Ibu”

“Sudah bilang Mas Dantyo dan Ranti ?”

“Belum Mas, aku nggak sanggup ngomong. Sebaiknya kamu saja yang memberitahu !? “

Gila ! Gerangan apa yang membuat Ibu mempunyai pikiran untuk menikah lagi. Sungguh sesuatu yang tak bisa kupahami. Apa kata orang-orang nanti, sudah tua kok mempunyai keinginan yang neko-neko, seperti selebritis di tivi saja. Apa Ibu tak berpikir, bahwa anak-anak dan cucu-cucunya juga akan merasa malu.

“Aku sudah berpikir masak-masak tentang hal ini, Le. Ibu sudah lama menjanda. Tidak ada salahnya to jika menikah lagi. Umur Ibu juga belum tua-tua amat. Lagi pula nanti kalian bisa tenang mengejar karier karena aku sudah ada yang menjaga dan menemani .“

Demikian jawaban Ibu ketika kutanya lewat telepon esok harinya. Dari kalimat dan suaranya, entah mengapa aku merasa Ibu menjadi genit sekarang. Rasa sebal dan jijik mengaliri perasaanku. Semudah itukah Ibu melupakan Bapak ? Memang sudah empat tahun lebih Bapak meninggal, tetapi waktu yang cuma empat tahun tersebut tidak sebanding dengan perjalanan panjang Ibu dan Bapak mengarungi bahtera rumah tangga selama puluhan tahun hingga anak-anaknya besar dan mandiri seperti sekarang. Begitu cepat dan mudahkah manis getirnya kenangan itu terhapus dari ingatan Ibu. Tak kusangka kesetiaan Ibu begitu mudah luntur termakan waktu.

Aku benar-benar tak habis pikir. Ibu kukenal selama ini sebagai sosok yang bersahaja dan tak banyak tingkah, walau ia isteri seorang pejabat pemerintah. Dulu, Bapak adalah pegawai pemerintah daerah yang cukup terpandang di daerahku. Bapak sangat dihormati di lingkungan sekitar karena posisinya itu. Bapak juga biasa turun ke bawah dan berbaur akrab dengan warga masyarakat lain. Hal tersebut tak bisa lepas dari masa kecil beliau yang memang dibesarkan dalam keluarga yang biasa-biasa saja. Karena kerja keras dan nasib baiklah, Bapak bisa merintis karier di pemerintahan daerah. Dan itu semua tak bisa lepas dari dukungan seorang perempuan yang begitu setia mendampinginya. Ibuku.

Ibu dinikahi Bapak dalam usia yang masih sangat muda, mungkin sekitar tujuh belasan tahun. Sedang usia Bapak kala itu dua puluh lima tahunan. Sebuah jarak usia yang lumayan jauh. Tetapi itu bukanlah menjadi soal. Kehidupan rumah tangga mereka berjalan dengan tenang , tanpa gejolak yang berarti. Ibu dan Bapak memainkan perannya dengan baik. Saling berbagi dan mengisi satu sama lain. Seolah bisa saling menutup celah bila ada kekurangan diantara keduanya. Salah satunya adalah sifat Bapak yang keras dan tanpa kompromi berbanding terbalik dengan sifat Ibu yang lembut dan lebih suka mengalah.

Menurut cerita yang kudengar, dulu Ibu rela menjual tanah warisan orang tuanya untuk biaya kuliah Bapak. Mendiang kakek menentang keras kemauan Ibu itu. Tak elok menjual tanah pemberian orang tua, sebab itu merupakan pusaka leluhur yang diberikan dan bisa diolah sampai anak cucu nanti. Apalagi hanya untuk mengejar pendidikan yang hasilnya juga tak bisa diketahui secara pasti. Tetapi tekad Ibu sudah bulat. Tanah itu akhirnya dijual dan Bapak bisa kuliah kemudian diterima kerja sebagai pegawai pemerintah daerah.

Ibu memang tetap hanya sebagai isteri, penunggu rumah semata. Tetapi pengorbanannya tidaklah sia-sia. Selain karier Bapak lumayan melejit, Bapak juga bisa membeli beberapa bidang tanah sebagai ganti tanah warisan yang terjual dulu. Namun yang lebih membanggakan dari itu semua adalah keberhasilan mereka mengantarkan anak-anaknya memperoleh pendidikan yang layak sampai kemudian berkeluarga dan mandiri dengan pekerjaannya masing-masing seperti sekarang ini.

Tak mengherankan pula bila Ibu dan Bapak kemudian dijadikan panutan sebagai pasangan yang harmonis. Sebuah piagam keluarga teladan tingkat nasional dari salah satu instansi pemerintah menghiasi almari ruang tamu sebagai salah satu bukti dari kesuksesan rumah tangga mereka. Sampai Bapak pensiun kemudian terserang stroke, Ibu tetap setia di samping Bapak. Merawatnya dari hari ke hari dengan penuh kasih sayang. Ibu pulalah yang mendampingi dan menuntun Bapak di saat-saat terakhir menjelang akhir hayatnya.

Maka betapa terkejutnya diriku mengetahui Ibu bersemangat untuk menikah lagi. Apalagi dengan Pak Lukito, orang yang pernah begitu dekat dengan Bapak. Aku tak tahu, ada hubungan kerja apa antara Bapak dan Pak Lukito waktu itu. Yang jelas keduanya pernah sangat akrab. Terkadang Pak Lukito seperti bawahan Bapak yang mau saja disuruh ini itu. Di kali lain, Bapak dan Pak Lukito terlihat seperti sahabat atau rekan kerja yang begitu kental. Keduanya sering terlihat tertawa-tawa dan bercanda bersama. Tak terkecuali, Ibu selalu ada diantara mereka. Begitulah, Pak Lukito sepertinya adalah orang kepercayaan Bapak. Selebihnya tak ada yang kuketahui tentang lelaki itu, selain hidupnya yang terus saja melajang.

Dan seperti yang sudah kuduga sebelumnya, saudara-saudaraku yang lain juga tidak setuju dengan keinginan Ibu itu. Mas Dantyo, kakakku tertua, adalah yang paling lantang bersuara. Maklumlah, ia seorang tentara yang kini sedang bertugas di luar pulau.

“Aku tidak akan pulang kalau hanya melihat Ibu begitu. Bahkan takkan pernah lagi kuinjakkan kakiku di rumah bila hal itu benar-benar terjadi. Tolong katakan itu pada Ibu !” suara Mas Dantyo berdenging keras dari gagang telepon.

“Sejak ditinggal Bapak, Ibu menjadi kesepian. Sebagai anak kesayangannya, harusnya Kamu mengerti dan berusaha menjaganya, Mas! “ giliran Ranti, adikku perempuan satu-satunya, angkat bicara.

Aku jadi kesal, sepertinya semua saudaraku melemparkan tanggungjawab kepadaku. Mungkin memang benar, aku adalah anak yang paling dekat dengan Ibu. Tetapi kalau disebut sebagai anak kesayangan, sebenarnya terlalu berlebihan. Ibu dan juga Bapak sangatlah adil dalam membagi kasih sayang. Tidak pernah membeda-bedakan anaknya satu sama lain. Karena sifatku yang terbuka, cenderung santai dan lebih suka mengalah saja yang membuatku seperti mendapat tempat khusus di hati Ibu.

Tetapi omongan Ranti tentang Ibu yang kesepian itu, setelah lama kupikir-pikir, ada benarnya juga. Betapa tidak, sepeninggal Bapak, rumah sebesar itu hanya ditinggali Ibu seorang diri. Pasti banyak hal berkecamuk di hati Ibu, setelah bertahun-tahun di rumah tersebut ia bahu membahu bersama Bapak dalam tiap jengkal peristiwa yang terjadi. Ibu memang tidak mau ikut salah satu anaknya sejak dulu. Padahal aku sendiri sudah memintanya berkali-kali, seperti keinginan anak-anakku yang begitu mencintai neneknya. Mas Dantyo pun melakukan hal serupa, meski ia sering berpindah-pindah tempat karena tugas dari kesatuannya. Begitu pula Ranti, yang telah menetap dan tinggal mapan bersama suaminya di Jakarta, seperti diriku. Hal yang sama juga pernah ditawarkan Wawan, yang masih tinggal dalam lingkup satu daerah dengan Ibu. Tetapi Ibu tetap tak bergeming. Tak mau merepotkan anak-anak, begitu ia selalu memberikan alasan. Jadi mau bagaimana lagi ?

Setelah kuberikan bermacam-macam pengertian, Ibu tak surut langkah pada keinginannya, akhirnya aku mengalah juga. Terserah apa kemauan Ibu, asal Ibu bahagia. Mas Dantyo dan Ranti tetap tak mau ambil peduli. Hanya Wawan yang sedikit melunak, dengan syarat pernikahan itu dilaksanakan sederhana saja, tanpa seremonial yang mewah. Hanya mengundang penghulu dan warga sekitar sebagai saksi. Mungkin ditambah sedikit pengajian nantinya.

Hari pernikahan telah ditentukan. Aku mengajak isteri dan kedua anakku pulang. Aku melihat binar-binar kebahagiaan di mata Ibu. Wajah Ibu terlihat lebih muda dan cantik. Ia duduk dengan anggun disamping Pak Lukito, mengenakan kebaya putih yang dijahitnya sendiri. Aku merasakan semangat baru yang begitu menggelora pada diri Ibu. Yah, aku melihat gairah itu pada diri Ibu. Gairah hidup yang lama redup sepeninggal Bapak. Entah mengapa aku merasa bahagia sekali hari ini. Terasa tangan lembut Ibu mengusap rambutku, saat aku menghampirinya. Mendadak, aku tergeragap….

“Sudah hampir pagi, San. Masuklah, tidak baik tidur di luar rumah. Istirahat yang cukup, besok masih banyak acara. “ .

Ibu membangunkanku sembari merapatkan selimut ke tubuhku. Samar, aku merasa menjadi anak kecil kembali.

***

Hari begitu cerah. Matahari mulai naik sepenggalan. Burung-burung prenjak berkicau riang, berloncatan dari satu dahan ke dahan lainnya. Bapak penghulu pernikahan dari KUA kecamatan sudah datang beberapa saat yang lalu. Begitu pula dengan warga sekitar, mulai meramaikan suasana dengan obrolan riuh sana-sini . Akad nikah akan dilaksanakan tepat jam sembilan pagi.

Waktu terus bergulir. Jam sembilan lewat, mempelai laki-laki belum juga datang. Semua masih menunggu. Di dalam kamar Ibu kelihatan resah. Aku dan Wawan pun mulai was-was. Pak Lukito tidak dapat dihubungi lewat ponselnya. Semua nomornya tidak ada yang aktif. Aku keluar berusaha memberikan penjelasan sebisaku kepada Bapak Penghulu dan para tamu.

Tiba-tiba Pak Kadus mendatangiku kemudian menarikku ke pojok ruangan.

“ Ada apa Pak ? “

“ Tenanglah dulu nak Hasan. Ada berita kurang bagus. Tadi ada warga yang lapor, Pak Lukito tidak bisa datang kesini. Sekarang ia ada di tahanan kepolisian. Menurut kabar ia terlibat perkara besar di pusat kota.”

Aku bingung, bagaimana harus memberitahu Ibu. Baru kuketahui kemudian, Pak Lukito telah lama berurusan dengan pihak berwajib. Ia termasuk dalam jaringan orang-orang besar yang sedang kena perkara di kota. Wajahnya selintas terlihat di koran-koran. Pak Lukito adalah makelar kasus yang melibatkan orang-orang penting di wilayah ini.

Perlahan-lahan aku berusaha menjelaskan masalah ini kepada Ibu. Ibu tampak tidak berekspresi. Matanya menerawang kosong, tangannya sedikit gemetar. Ia terduduk begitu lama, tentu banyak hal bergolak di dalam batinnya. Aku hanya bisa diam.

Hari yang cerah, tetapi aku merasa mendung tebal mulai menggelayut di keluarga kami.

***

Aku memutuskan memperpanjang masa cuti . Isteri dan anak-anakku sudah terlebih dulu balik ke Jakarta. Kondisi Ibu menjadi labil sejak peristiwa itu. Ia sering termenung lama, kemudian tanpa sebab yang jelas, tersenyum-senyum sendirian. Aku menjadi khawatir .

Pagi itu, Ibu mandi dengan khusyu kemudian keluar ke halaman depan. Aku terkesima melihat sosok perempuan yang begitu menawan.Rambutnya yang panjang , tampak elok tersapu sinar matahari pagi. Sementara jarik lurik melilit tubuhnya yang masih basah. Sungguh ! Aku seperti melihat masa lalu. Sosok perempuan anggun, yang entah pernah kutemui dimana.

Perempuan itu masih melangkah di seputar halaman, lalu berhenti sambil tersenyum. Senyum yang makin lama kurasakan seperti tawa berkepanjangan. Perlahan, ia gerai rambutnya yang basah. Sontak aku terkejut, ketika ia mulai melepas selembar kain yang menutup tubuhnya sambil terkikik-kikik.

Aku buru-buru menghambur mendekatinya.

“Ibuuu…!?”

Kp, 26 November 2009

Jumat, 23 Oktober 2009

LELAKI GILA DAN KOTA TUA

( cerpen ini masuk dalam Kumcer Joglo 7 'Mengeja September' terbitan Taman Budaya Jawa Tengah )

Aku mengenalnya semenjak masih kecil. Lelaki paruh baya sinting yang selalu berkeliaran di kota tua kami. Badan kurus mencangkung, rambut panjang gimbal acak-acakan dan jalan terpincang-pincang sambil memanggul buntalan kain di pundak. Bila terkekeh, terlihatlah gigi-gigi menghitam yang tak beraturan. Itulah ciri-ciri khasnya. Benarkah ia sinting atau gila seperti omongan banyak orang ? Aku rasa tidak. Aku tahu lebih banyak tentang laki-laki itu daripada penduduk kota ini lainnya. Nanti kuceritakan, bagaimana aku bisa begitu akrab dengannya. Sepanjang pengamatanku, lelaki gila itu adalah pertanda baik bagi kota ini. Bila ia masih terlihat berkeliaran di jalanan maka aman dan baik-baik sajalah keadaan kota ini. Sebaliknya bila ia menghilang dari penglihatan, awan hitam selalu menaungi kota ini.

Dan sejak beberapa hari lalu aku tak menjumpainya lagi. Entah dimana ia gerangan. Menghilangkan diri atau dihilangkan, tak ada yang tahu. Aku mulai menebak-nebak, dalam waktu dekat pasti akan terjadi sesuatu dengan kotaku tercinta ini.

Aku dilahirkan dan dibesarkan di kota ini, kota tua yang damai dan asri. Walau hanya tergolong kota kecil, kota kami terkenal ke seantero negeri. Banyak orang berdatangan ke sini, terutama untuk belajar atau mengenal budaya kami yang adiluhung. Bahkan banyak dari mereka yang kemudian memilih tinggal disini. Jikalau kembali ke kampung asal, merekapun masih merasa bagian dari kota ini. Setiap ditanya, mereka pasti menjawab : saya adalah warga kota itu, saya pernah tinggal disana, saya juga masih punya saudara disana, anak-anak saya sekolah disana, dan seterusnya.

Demikianlah, kota tua kami tumbuh dengan sederhana namun elegan. Penduduknya terkenal ramah dan terbuka terhadap apa saja. Segala hal dapat bersanding mesra disini tanpa melunturkan tradisi lokal yang terus terpelihara. Setelah lulus kuliah, banyak tawaran kerja bagus menghampiriku. Tapi kuputuskan untuk tetap disini, di kota ini. Sudah beberapa tahun aku menjadi wartawan sebuah koran lokal. Walau penghasilan tak seberapa, aku merasa bahagia dan senang. Jiwaku sudah menyatu dengan hiruk pikuk dan udaranya yang mulai sedikit terserang polusi. Tak mungkin kutemui suasana khas seperti disini, di lain tempat. Mungkin itu juga yang dirasakan Mbah Bono, si lelaki gila itu. Menurut cerita orang-orang tua dulu, dialah saksi dan penjaga kota ini dari waktu-waktu. Entah sejak kapan. Sepanjang usiaku, kulihat wajah dan tubuhnya tidak pernah berubah menjadi lebih tua ataupun lebih ringkih. Tetap seperti itu dari waktu ke waktu.

Tentang nama Mbah Bono yang disandangnya, aku tak tahu pasti. Apakah itu nama asli atau bukan. Yang kuketahui, itulah panggilan orang-orang kepadanya dari dulu. Bagi generasi seangkatanku dan sebelum-sebelumku Mbah Bono adalah legenda hidup yang selalu menjadi dongengan menarik waktu kanak-kanak. Sedang generasi-generasi sesudahku sampai sekarang mungkin menganggapnya hanyalah orang gila biasa seperti halnya orang-orang gila lainnya yang banyak berkeliaran di jalanan. Aku masih ingat, ibu selalu berpesan agar jangan mengganggu dan mempermainkan orang gila, terutama Mbah Bono. Nanti bisa kualat. Walau bagaimanapun keadaannya, mereka adalah manusia juga seperti kita. Semua sudah menjadi kuasa dan kehendak tuhan. Dalam beberapa hal, mereka terkadang mempunyai kelebihan yang tidak bisa kita miliki. Bersyukurlah kita yang terlahir ke dunia dalam keadaan normal dan baik-baik saja. Di kali lain, jika sampai sore aku masih saja bermain-main di luar rumah, ibu sering menakut-nakutiku : ‘ayo cepat pulang dan mandi, nanti ada Mbah Bono lewat, nanti kamu dibawanya serta’. Begitulah, Mbah Bono selalu melekat di pikir kanak-kanak seusiaku dulu. Sebagai orang gila keramat yang harus dihormati dan juga monster yang kadang menakutkan kami.

Tetapi dasar anak-anak, ada juga nakalnya. Kami sering menggoda dan mempermainkan Mbah Bono sewaktu pulang sekolah. Kebetulan sekolah kami dekat jalan raya. Mbah Bono sering mangkal dan melepas lelah di ruko kosong pinggir jalan itu. Ketika ia terlelap, kami menimpukinya dengan kerikil-kerikil kecil. Terkadang malah menyodok-nyodoknya dengan ranting kayu. Begitu terbangun, Mbah Bono langsung uring-uringan dan mengeluarkan kata-kata tak karuan sembari mengejar kami yang lari terbirit-birit. Kebanyakan kami lolos dari kejarannya, tetapi sesekali banyak pula dari kami yang terkejar dan kena balas gebuk tongkat Mbah Bono. Kalau sudah begitu, kami hanya bisa menangis keras-keras yang berujung keributan antara orang tua kami dengan lelaki gila itu. Dan selalu aku titeni*, sehabis Mbah Bono kena damprat orang tua kami, petaka-petaka kecil senantiasa melingkupi kota ini. Entah itu gempa bumi ataupun puting beliung yang tak dinyana-nyana datang.

Suatu kali, aku pernah menanyakan perihal Mbah Bono kepada Bapak. Dugaanku, beliau pasti tahu banyak hal tentang laki-laki itu. Bapakku adalah dosen filsafat sebuah universitas negeri ternama disini. Tetapi entah mengapa orang lebih banyak mengenalnya sebagai seorang budayawan yang tulisannya banyak nongol di koran daripada profesi sebenarnya itu.

Bapak tertawa, sedikit menyepelekan pertanyaanku. Ketika aku hendak berlalu meninggalkannya, ia akhirnya bersedia menjawab. Mbah Bono itu sebenarnya bukan orang gila beneran. Dia adalah orang sakti. Turun-temurun dari leluhurnya memang seperti itu. Kelakuannya seperti orang gila dan menggelandang di jalanan. Mungkin sebagai syarat atau tumbal kesaktiannya. Walau begitu, dahulu kala leluhurnya sangat dihormati disini. Mereka adalah pejuang-pejuang yang turut membebaskan kota ini dari penjajahan asing. Mbah Bono yang kita kenal itu merupakan generasi paling akhir. Tidak pernah ada yang tahu apakah ia masih punya sauadara atau tidak. Yang jelas, usia Mbah Bono sudah seratus tahun lebih. Karena kesaktiannya, ia masih terlihat seperti itu terus dari dulu.

Ah, kupikir Bapak hanya mempermainkanku saja dengan jawabannya tersebut agar aku makin penasaran. Memang seperti itulah kebiasaannya bila dimintai tanya tentang suatu hal. Jawabannya selalu tidak serius tetapi sering dibuat seperti masuk akal. Bila pikiran kita sudah kena jebak kata-katanya, barulah beliau tertawa terpingkal-pingkal. Yang pasti, Bapak memang telah mempengaruhi pikiranku. Aku menjadi makin penasaran dengan sosok Mbah Bono.

Perlahan-lahan akupun mendekati Mbah Bono dan berusaha menunjukkan kepadanya sebagai teman yang baik. Mula-mula ia acuh saja. Tanpa diduga, terkadang ia malah menyerangku. Tetapi lama-kelamaan, akhirnya luluh juga. Lelaki itu mulai jinak dan bisa diajak bercanda walau cuma sebatas tertawa-tawa saja, entah apa yang ia tertawakan sebenarnya. Sesekali kubawakan pula makanan dan yang pasti sebungkus rokok kretek lokal kesukaannya. Kami sering ngrokok bersama di pinggir jalan, memandang lalu lintas kota yang makin bising. Banyak orang lalu lalang memandang kami dengan tatapan aneh. Mungkin mereka juga menganggapku gila. Maklum, semenjak kuliah rambutku tergerai memanjang dan dandananku juga makin tak karuan. Jaket dan celana jeans belel yang robek disana sini selalu kusandang. Aku cuek saja.

Sewaktu aku masih kuliah, angin perubahan dan reformasi sedang berhembus kencang di negeri ini. Demonstrasi mahasiswa besar-besaran terjadi di setiap daerah, tak terkecuali di kota ini. Dan sebagai mahasiswa bandel aku larut juga kesitu. Aku termasuk aktivis yang lumayan terkenal di kampus. Kuliahku keteteran karena waktuku lebih banyak tersita di jalanan, menggalang massa dan terkadang bernegosiasi dengan aparat keamanan. Dan di medan juang mahasiswa jalanan itu pula lagi-lagi aku harus bersinggungan dengan sosok Mbah Bono.

Masih selalu kuingat aksi demo yang berakhir ricuh itu. Semua rencana telah disusun matang dan rapi. Kami mendatangi sebuah kantor partai besar, simbol kekuasaan waktu itu. Tidak akan ada anarkhi, hanya orasi-orasi gertak sambal biasa. Negosiasi dengan pihak keamananpun telah kami lakukan jauh-jauh hari. Awalnya semua berlangsung terkendali seperti rencana. Tetapi menjelang tengah hari yang terik, kekacauan mulai terjadi. Tanpa diduga-duga, entah siapa yang memulai, terjadi adu mulut yang berakhir dengan saling dorong dan lempar batu antara kami dengan aparat keamanan. Banyak pendemo yang ditangkap, tak terkecuali aku. Dalam pandangan samar-samar, setelah kepalaku kena gebuk aparat, kulihat wajah Mbah Bono menyeringai diantara kerumunan massa.

Aku dan banyak kawan aktivis harus mendekam semalaman di sel tahanan. Esok harinya, ketika negosiasi pembebasan kami sedang dilakukan, aku kembali terkaget. Kulihat sekelebat sosok Mbah Bono di salah satu ujung ruangan. Aku menjadi curiga, jangan-jangan Mbah Bono adalah intel yang sedang menyamar. Ia tidak gila sungguhan. Mbah Bono ditugaskan untuk mengawasi gerak-gerik seluruh kota dengan cap kegilaannya. Ia memang sengaja disusupkan diantara kerumunan aksi kemarin. Sialan! Aku dan penduduk kota ini ternyata telah dikibuli oleh lelaki itu, gerutuku dalam hati.

Beberapa hari kemudian setelah aku bebas, yang kucari adalah Mbah Bono. Biasanya dengan mudah dapat kutemukan di jalanan pusat kota. Tetapi setelah kejadian itu, ia seperti menghilang ditelan bumi. Mungkin ia sudah tahu kalau identitasnya terbongkar, pikirku. Kubuka-buka arsip koran lawas tentang beberapa demo terdahulu. Aku terhenyak dan makin yakin kalau Mbah Bono memang intel yang menyamar. Di beberapa foto koran, kulihat bayangan lelaki kurus mencangkung dengan rambut gimbal acak-acakan itu ada diantara keriuhan massa. Aku benar-benar geram. Ingin kucari dia dan kutanyai beberapa hal. Tetapi ia menghilang, tiada yang tahu entah kemana.

Sejak dulu kota kami relatif aman. Walau setiap hari terjadi demonstrasi tetapi secara umum masih dalam batas yang wajar. Entah ini hanya pikiran ngelanturku semata atau bukan, yang jelas sejak menghilangnya Mbah Bono waktu itu, suasana kota menjadi lain. Demo menjadi sering ricuh. Mahasiswa dan massa memblokir jalan dengan membakar ban-ban bekas. Aparat keamanan sering terlihat baku hantam dengan pendemo. Beberapa gedung dan pertokoan bahkan ada yang dibakar massa. Suasana itu berlangsung lumayan lama sampai tumbangnya era terdahulu di negeri ini oleh kaum reformis. Setelah itu keadaan mulai berangsur-angsur tenang kembali. Kulihat sosok Mbah Bono terlihat berkeliaran lagi di jalanan kota.

Di sebuah senja yang basah, kutemui lelaki gila itu di sudut kota. Ingin kuinterogasi dia dengan beberapa pertanyaan tentang beberapa keganjilan yang sering kulihat padanya. Tetapi aku mengurungkan niatku begitu melihat keadaannya. Mungkinkah lelaki gila seperti dia benar-benar intel yang sedang menyamar ? Keadaannya sangat menyedihkan. Diantara guyuran air hujan kulihat ia semakin kurus dan menderita dengan beberapa kali batuk mengeluarkan darah. Banyak sekali luka koreng, terlihat jelas di kakinya. Niatku berubah menjadi iba. Setelah meletakan makanan, kutinggalkan lelaki itu tanpa kata-kata. Tak pernah kuingat-ingat dan kutanyakan lagi keganjilan-keganjilan yang ada padanya. Kuanggap itu hanyalah khayalan semata.

Sampai saat ini, aku menjadi seorang wartawan. Aku tetap berkawan dengan Mbah Bono. Sesekali diantara kejenuhanku mengejar berita, kusambangi Mbah Bono yang sedang duduk-duduk di pinggiran jalan. Kulemparkan sebungkus rokok kretek lokal kesukaannya, kami kemudian merokok sambil mengepulkan asapnya ke udara bersama-sama. Kami tidak pernah ngobrol, hanya saling tertawa. Tawa yang tak pernah kuketahui maknanya, selain sekedar tanda komunikasi semata. Naluri jurnalismeku sebenarnya mengisyaratkan ada banyak rahasia yang tersimpan di dalam sosok sinting dan gila itu. Tetapi hal itu urung kugali lebih lanjut, karena kedekatanku padanya. Aku tak mampu menjejalkan segenap curiga ke wajah polos dan tawa renyahnya yang makin bersahabat.

Beberapa pekan ini, negeriku sedang diramaikan kampanye pemilihan raya untuk memilih pemimpin di negeri kami. Kota tua inipun tak lepas dari hiruk pikuknya, poster dan spanduk calon pemimpin bangsa bergelantungan tak beraturan disana-sini. Hampir setiap hari, alun-alun kota diramaikan oleh pengumpulan massa dan aksi obral janji. Kulihat kota tua ini semakin semrawut dan tidak beraturan. Kesibukan warga kota sedang tersita pada perhelatan besar yang sebentar lagi akan berlangsung. Mungkin hanya aku yang menyadari bahwa banyak hal sedang terjadi di kota ini. Kulihat banyak orang-orang gila baru berkeliaran di jalanan. Mereka tampak liar dan buas. Ada yang masih berpakaian lengkap, ada pula yang sudah compang-camping. Bahkan ada yang telanjang bulat. Aku tak tahu darimana mereka datang. Atau mungkin didatangkan. Yang jelas, kurasakan suasana kota menjadi panas sejak kedatangan mereka.

Aku juga menjadi kehilangan Mbah Bono. Terakhir kali kulihat Mbah Bono di alun-alun kota. Ia tampak cengengas-cengenges diantara keriuhan massa kampanye. Sejak orang-orang gila baru itu bermunculan, aku kesulitan menemuinya. Ia tidak leluasa lagi melenggang sendirian di jalanan. Apalagi sering kulihat, sesama orang gila saling berkelahi, entah memperebutkan apa. Terkadang malah ada yang mati. Mayat mereka tergeletak di jalan, kadang tidak ada yang peduli. Baru ketika mayat-mayat itu membusuk dan mengeluarkan bau tak sedap, orang-orang tersadar dan menyingkirkannya. Mayat-mayat orang gila itu kemudian dikuburkan sekedarnya tanpa nama, konon setelah beberapa organnya dipretheli untuk praktek calon-calon dokter di rumah sakit.Uhh…

Pagi ini, kusambangi gedung besar di pusat kota. Nanti tengah hari disini akan ada konsolidasi massa salah satu peserta pemilihan raya. Aku melihat orang-orang ramai berkerumun di jalan besar di depan gedung. Penasaran, kusibak kerumunan orang itu pelan-pelan. Aku kaget bukan kepalang. Kulihat sosok kurus kerempeng lusuh dengan rambut gimbal acak-acakan tergeletak bersimbah darah, tak bernyawa. Sosok itu kukenal betul : Mbah Bono. Siapa yang tega membunuhnya dengan biadab seperti ini? Pikiranku kemudian berputar-putar. Entah apa yang akan kutulis esok hari di koran.

***

Kota tuaku terasa semakin panas. Gesekan-gesekan antar pendukung peserta pemilihan raya sering terjadi. Tak sedikit korban karenanya, baik nyawa ataupun harta benda. Aku menjadi gerah. Sesekali aku menyendiri di pantai saat lepas malam. Setelah Mbah Bono tiada, aku menjadi merasa sendirian. Tak ada lagi kawan seperti Mbah Bono. Walau aku hanya bisa bertukar tawa, kurasakan ada pertalian hati yang lain dengan lelaki gila itu.

Seperti halnya malam ini, kudatangi pantai kotaku. Tak seperti biasanya, angin bertiup kencang membawa hawa dingin bercampur dengan bau garam air laut. Aku sedikit menggigil. Tiba-tiba bumi terasa bergoyang. Air laut bergolak. Seperti raksasa besar yang rebah, samudera maha luas itu menghambur ke daratan. Aku terpana, tidak bisa berpikir apa-apa lagi. Kakiku menjadi berat dibawa berlari. Aku dan kota tua ini sebentar lagi pasti akan lenyap ditelan gelombang hebat ini. Tiba-tiba kurasakan sepasang tangan meraih dan menepuk-nepuk tubuhku. Seleret sinar kuning jatuh menerpa mukaku dari celah jendela. Mataku masih samar, nafasku terengah-engah. Kulihat sosok tua kurus itu menyulut rokok di samping dipan**. Bapakku.

“Sudah siang, Yusron. Engkau pasti mimpi jelek ?!”

Aku benar-benar bersyukur hari ini.

Yk, Mei 2009.

* titeni : tengerai

** dipan : tempat tidur dari kayu

Rabu, 09 September 2009

SEPATU



Dikin tampak ragu. Sebentar duduk, sebentar berdiri. Mondar-mandir, entah berapa kali ia berjalan menuju pintu kemudian balik lagi. Garuk-garuk kepala, pikirannya sedang menimang-nimang sesuatu.

“Kalau sepatu ini kuambil, nanti Juragan Roni bisa marah besar . Lagian, mengambil barang tanpa seizin yang punya kan dosa ?!”

Ia tarik tangannya dari rak sepatu sembari menghirup udara dalam-dalam.

“Tapi kasihan juga si Udin. Masak ia harus pakai sepatu butut terus tiap lomba. Padahal besok kan sudah sampai tingkat propinsi, pak bupati juga bisa kena malu.”

Bimbang. Wajahnya yang memang sudah kusut tampak semakin kusut. Tangannya kembali menggaruk-garuk kepala yang bagian depannya mulai membotak itu.

“Pak, doakan Udin ya. Besok Udin maju lomba tingkat propinsi di kota. Kemarin regu sekolah Udin menang di tingkat kabupaten”.

Terlintas terus di pikirannya saat tadi pagi, Zaenuddin atau sering dipanggil Udin, minta restu kepadanya akan maju lomba cerdas cermat tingkat propinsi. Dikin mengusap rambut lebat anak sulungnya itu sambil mengucap restu dan doa. Matanya berkaca-kaca, antara trenyuh dan bangga.

Bagaimana Dikin tidak bangga mempunyai keturunan seperti si Udin. Anaknya cerdas dan pintar. Dari SD sampai sekarang, kelas dua SMP, selalu juara kelas. Bea siswapun mengalir deras, meringankan bebannya sebagai kepala keluarga. Budi pekerti dan kelakuannya juga patut dijadikan contoh anak-anak seusianya. Rajin membantu sekaligus homat pada kedua orangtua. Mungkin ini berkat ketekunannya mengaji di langgar.

Tetapi di sisi lain, ia merasa bersalah sekaligus kasihan, tidak bisa memberikan kebahagiaan yang semestinya kepada anaknya itu. Juga kepada isteri dan anak-anaknya yang lain. Dikin hanyalah buruh kecil yang kerjanya serabutan. Apa saja ia lakukan asal menghasilkan uang dan halal menurut agama. Ia sering menangis dalam hati bila ingat beberapa kali dirinya merecoki beasiswa yang diterima Udin. Uang yang seharusnya untuk keperluan sekolah itu, ia gunakan untuk menambal kebutuhan hidup sehari-hari. Memang serba susah hidup sebagai buruh kecil. Apalagi harus menanggung empat orang anak yang masih butuh banyak biaya.

Beberapa hari ini, Dikin diminta menjaga rumah Juragan Roni, seorang saudagar kaya asal Makasar. Selama satu minggu, sang juragan pulang kampung bersama keluarganya. Pembantu dan pekerjanya diliburkan. Ada juga yang diajak serta ke Makasar. Konon, salah satu anaknya yang tinggal di kampung halaman mau menikah. Dalam situasi darurat seperti inilah jasa serabutan Dikin dibutuhkan. Ia memang sering mendapat job apa saja dari Juragan Roni. Dalam beberapa hal, tampaknya ia sangat dipercaya oleh Juragan Roni. Entah mengapa tidak direkrut saja menjadi karyawannya. Mungkin karena curriculum vitae Dikin yang tidak mengenyam bangku sekolah.

Dikin bisa mengenal dan berhubungan baik dengan Juragan Roni tak lepas juga dari sepak terjang Udin. Dulunya, juragan Roni adalah atlet sepakbola nasional yang cukup terkenal. Ketika era galatama masih berkibar, itulah masa-masa kejayaan Juragan Roni di lapangan hijau. Kini di masa tuanya, selain berprofesi sebagai pengusaha, ia juga seorang pencari bibit-bibit unggul sepakbola. Di daerah ini, ia mendirikan sekolah sepakbola walaupun hanya kecil-kecilan. Dan Udin adalah salah satu anak didiknya.

“Dikin, anakmu itu punya bakat sepakbola yang besar. Jika ia mau berlatih keras, suatu saat ia bisa menjadi pemain hebat. Paling tidak seperti aku dulu”.

Demikian Juragan Roni pernah berkata kepada Dikin sambil menghadiahi sebuah sepatu pul di pinggir lapangan. Sepatu bola yang kelihatan uzur tetapi masih terawat baik, berlogo macan terbang. Konon, sepatu itu merupakan sepatu kesayangan dan keberuntungan Juragan Roni. Sebagai seorang striker, banyak gol dihasilkannya dengan sepatu macan terbang itu. Dikin senang bukan kepalang. Dalam hati ia berharap, suatu saat anak kesayangannya itu menjadi pemain sepakbola yang hebat. Ia sering mendengar obrolan anak-anak muda di kampung bahwa gaji pemain bola sekarang gede-gede. Lebih gede dari gaji pegawai negeri sekalipun. Itu baru di Indonesia, belum kalau bisa bermain di luar negeri. Menurut cerita yang baru didengarnya, ada seorang pemain bola yang dikontrak sampai bermilyar-milyar. Jumlah uang yang ia tak tahu berapa hitungannya. Dalam bayangannya, uang sebesar itu cukup untuk menimbun rumahnya yang mulai reot, hampir rubuh.

“Gaji pemain bola di zamanku dulu tidak segede sekarang. Tapi aku bisa nabung. Makanya di masa tua, aku bisa makmur seperti sekarang”

Pikiran Dikin melayang-layang. Juragan Roni yang dulunya pemain bola dan gajinya tidak sebesar sekarang saja bisa jadi orang sukses. Apalagi jika nanti Udin bisa lebih top darinya. Bermain sepak bola di luar negeri dan dilihat berjuta-juta orang di seluruh dunia. Dikin melihat Udin berlari menggocek bola di televisi. Sentuhannya maut, umpan-umpannya matang. Banyak gol indah berawal dari kakinya. Udin dieluk-elukkan banyak orang. Di jalanan ia sering berpapasan dengan orang-orang mengenakan kaus bertuliskan Udin Dikin di belakangnya. Udin Dikin yang tak kalah hebat dibandingkan dengan Zainuddin Zidane. Sementara di rumahnya yang mewah, Dikin hanya ongkang-ongkang kaki sambil bercengkerama dengan cucu-cucunya. Sungguh, kebahagiaan yang tiada tara melihat anaknya menjadi orang sukses. Ia bisa mempertanggungjawabkan kewajibannya sebagai orang tua kepada tuhan, kelak di akhirat.

Wajah sumringah Dikin mendadak pudar dan berubah kecut begitu sadar bahwa khayalannya sangatlah jauh dari kenyataan. Zaenuddin Dikin yang digadang-gadang menyamai kemasyhuran Zainuddin Zidane, pupus sudah. Semua berawal dari sebuah Sabtu siang kelabu. Hari itu, Udin dan kawan-kawannya pulang sekolah beramai-ramai dengan jalan kaki. Mereka tampak gembira, besok sekolah libur. Tak diduga sama sekali, seorang pemuda mabuk mengendarai sepeda motor dengan kecepatan lumayan tinggi menghajar tanpa ampun kawanan itu. Beberapa anak jatuh terkapar. Naas sekali, Udin salah satu diantaranya. Tulang-tulang kakinya patah dan tidak bisa kembali normal seperti sedia kala. Dikin sampai saat ini sangat menangisi peristiwa itu. Peristiwa yang mengubur harapannya yang begitu tinggi pada anak kebanggaannya. Lebih dari itu, Indonesia juga selayaknya berduka : kehilangan calon bintang masa depan dan kemungkinan juara dunia, hanya gara-gara seorang pemuda mabuk !

Tak kalah tragis pula nasib si macan terbang. Sepatu yang pernah mengalami masa keemasan di lapangan hijau itu, kini turut merana mengikuti langkah tuannya yang baru. Meski sangatlah kebesaran di kaki, Udin memaksakan diri memakai sepatu bola itu ke sekolah. Maklum, tiada lagi sepatu yang layak ia pakai. Sepatu pul tak jadi soal, asal masih dapat digunakan. Udin sangat takut dengan Pak Jalal, guru olahraga yang terkenal disiplin dan galak. Bila terlihat ada salah seorang muridnya tak memakai kaus kaki apalagi sepatu, Pak Jalal tentu marah besar. Bisa-bisa ia disuruh pulang, tak boleh mengikuti pelajaran. Itu sudah untung. Kemarin, Si Gopar kena tendang kakinya hingga menangis meraung-raung hanya karena tidak memakai kaus kaki dan bajunya tidak dimasukkan. Demikianlah, sepatu pul yang harusnya digunakan untuk mengolah si kulit bundar di lapangan hijau, kini dipakai Udin ke sekolah. Itupun dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Compang-camping disana-sini, bagian depannya juga mulai menganga pula.

Dikin menangis dalam hati mengingat semua itu. Betapa ia orang tua yang tidak berguna. Tak mampu memberikan kemewahan bagi keluarganya. Tetapi mau bagaimana lagi, ia telah berusaha sekuat tenaga. Hanya itulah yang ia mampu. Terngiang-ngiang kata Kliman, tetangganya, beberapa waktu yang lalu.

“Kin, Kamu sungguh beruntung punya anak pintar dan penurut seperti si Udin. Lain sekali dengan anakku, Si Gopar. Tak pernah berhenti membuatku mengurut dada. Minta ini itu yang tak jelas juntrungannya. Duit yang kuberikan untuk bayar sekolahpun ditilepnya untuk foya-foya. Kalau aku punya anak seperti Si Udin, sungguh bahagianya diriku...”

Semangat Dikin terlecut. Perlahan, ia ambil sepatu pantopel hitam mengkilat itu dari rak sepatu. Pas sekali dengan ukuran kaki anaknya. Den Yudha, putera Juragan Roni yang sebaya dengan Udin, pasti tidak akan tahu. Ia cuma pinjam satu hari saja untuk lomba besok.

***

Dikin menunggu di depan rumah. Ia pulang sebentar dari tempat kerjanya sekedar menanti kabar dari Udin yang hari ini maju lomba. Tadi pagi ia lepas anaknya itu dengan perasaan bangga. Udin tampak gagah sekali dengan sepatu pantopel hitam mengkilat itu. Doa-doa selalu ia panjatkan untuk keberhasilan Udin. Tetapi Dikin lupa memberitahu anaknya bahwa sepatu itu hanyalah pinjaman.
Hari makin siang. Udin pulang dengan wajah gembira dan berseri-seri. Tangannya menggenggam sebuah kertas. Sebuah piagam.

“Bapak. Regu Udin menang lagi Pak... Ini piagamnya. “

Dikin benar-benar gembira. Ia peluk anaknya dengan berkali-kali mengucap syukur. Baru ia sadari kemudian bahwa ada sesuatu yang ganjil pada diri Udin. Udin memakai sepatu butut macan terbang itu lagi.

“Udin, dimana sepatu yang Bapak berikan tadi pagi ? Kok tidak kamu pakai ?”

“Eh, maaf Pak. Udin lupa memberitahu Bapak terlebih dahulu. Sepatu itu terpaksa Udin jual. Kasihan si Gopar, ia belum membayar SPP berbulan-bulan. Seperti yang Bapak selalu bilang, kita harus selalu tolong menolong bukan ?!”

Dikin terkejut. Mendadak kakinya terasa lemas. Ia tak tahu harus marah atau bangga dengan anaknya itu.

Wates, 07 Agustus ‘09

Sabtu, 09 Mei 2009

RAHASIA BAPAK

( dimuat di Minggu Pagi, Minggu II Mei 2009)

Pagi ini, tak seperti biasanya bapak mendekatiku dan berusaha akrab. Sudah beberapa tahun hubungan kami mendingin. Walau bernaung di bawah atap yang sama, tegur sapa kami lakukan seperlunya saja. Bapak sudah pensiun dari instansi pemerintah tempat ia mengabdikan diri selama ini. Aktivitasnya diisi dengan tidur, jalan-jalan, terkadang merawat kebun di belakang rumah dan yang tak pernah ia tinggalkan : melamun di serambi depan rumah sambil mendengarkan lagu-lagu lawas kesukaannya. Sebuah tape recorder tua yang mulai bersuara kemresek selalu setia menemani. Konon, barang itu ia beli bersama ibu di kala muda. Mereka mengikat jalinan cinta berawal dari kesukaan yang sama yakni mendengarkan lagu-lagu lewat radio. Tentang kisah cinta mereka lebih lanjut, aku kurang tahu pasti. Mungkin layaknya roman picisan remaja zaman sekarang tetapi dalam era dan suasana yang berbeda. Tak pernah aku pikirkan !

“Wan…kamu sibuk tidak hari ini ? Antarkan aku ke ibumu ! “ katanya kemudian.

“Ah, aku banyak tugas hari ini …” jawabku sekenanya.

“Aku rindu ibumu Wan. Kalau kau ada waktu, tolong antarkan bapak ke ibumu !”

“ Memangnya mau apa bapak ke tempat ibu ? Membuat ibu makin menderita ?”

Aku segera menstater motor kemudian pergi meninggalkan bapak yang masih menatapku dengan penuh pinta dan harap. Sesaat kulirik, wajah tuanya tampak memelas dan airmukanya terlihat jelas

***

Banyak orang menganggap keluarga kami adalah keluarga yang sukses. Tetapi kami menganggapnya biasa-biasa saja. Sebuah keluarga yang tidak terlalu besar dan dapat digolongkan dalam skala menengah. Bapak adalah seorang pegawai pemerintah daerah yang mempunyai jabatan cukup terpandang. Ibu adalah aktivis perempuan di partai yang pernah sangat berkuasa di era orde baru dan sudah beberapa periode ini duduk di dewan perwakilan rakyat daerah. Tiga orang anaknya, aku yang paling bungsu, juga mempunyai prestasi lumayan baik di mata warga sekitar. Kedua orang kakakku sudah berkeluarga dan tinggal terpisah, sedang aku masih setengah jalan kuliah. Mas Herman kakakku tertua berkarier sebagai pegawai negeri seperti bapak tetapi di lain daerah meski masih dalam satu propinsi. Mbak Ratih, kakakku nomor dua, seperti cita-citanya sejak kecil, menjadi guru di sebuah sekolah menengah atas. Ia bersuamikan seorang insinyur pertambangan dengan gaji yang lumayan tinggi walau harus kerja di luar pulau dengan durasi kerja setengah bulan di pertambangan setengah bulan berikutnya off. Dilihat dari luar, bukankah ini yang dinamakan keluarga sukses itu ?

Sesuatu yang terlihat ideal dari luar belum tentu terasa nyaman pula di dalamnya. Kami, anak-anaknya, merasakan hal itu. Tetapi nasehat alamarhum kakek amat membekas dihati kami : jagalah kehormatan keluarga, jangan menceritakan aib sendiri kepada orang lain. Biarlah itu menjadi rahasia keluarga. Begitulah, kami selalu menyimpan perasaan hati masing-masing. Tidak pernah protes ini itu, apalagi berkeluh kesah pada orang lain tentang masalah keluarga. Kami ingin mencetak prestasi gemilang untuk menutupi kekurangan keluarga ini. Yang terpenting, di mata umum keluarga kami tetaplah terhormat dan menjadi panutan.

Sebenarnya semua keruwetan masalah ini berawal dari keinginan ibu untuk aktif di luar rumah, salah satunya adalah ikut bergabung dalam organisasi perempuan sebuah partai besar kala itu. Bapak yang selalu lemah jika berhadapan dengan ibu, mungkin karena saking cintanya, tanpa banyak pertimbangan akhirnya mengabulkan. Ibu yang semula hanyalah seorang ibu rumah tangga biasa akhirnya mulai berkecimpung di organisasi tersebut. Maka sejak saat itu, ibu mulai jarang berada di rumah menemani kami, anak-anaknya. Kegiatannya banyak diluar rumah. Entah itu pelatihan, rapat konsolidasi, bakti sosial atau kegiatan-kegiatan lain semacamnya, tak pernah kami ketahui secara pasti. Dan yang menjadi korban adalah anak-anaknya, terutama aku yang masih kecil. Hari-hariku banyak dihabiskan bersama rewang yang mulai didatangkan oleh bapak. Hanya sesekali ibu menanyakan kabar dan keadaanku di rumah. Untunglah, disela-sela kerjanya sebagai pegawai negeri yang agak nyantai, bapak bisa meluangkan waktunya untuk kami. Mengganti kasih sayang ibu yang direnggut kegilaannya berorganisasi.

Demikianlah, hari ke hari ibu semakin sering meninggalkan kami dan bapak kemudian seolah-olah menjadi bapak rumah tangga. Mengantarkan aku ke sekolah sebelum pergi ke kantor. Menemani belajar anak-anaknya. Terkadang malah memasak dan mencucikan pakaian jika rewang kami tidak datang. Anak-anaknya, terutama aku menjadi lebih dekat kepada bapak daripada ibu. Bapak menjadi tempat mengadu bila ada masalah. Bapak pula yang selalu menasehati kami agar belajar tekun supaya kelak menjadi orang yang berhasil. Pendek kata, bapak adalah orang tua jempol bagi kami.

Karier ibu di luar rumah semakin menjulang. Ibu juga kuliah lagi untuk mengejar prestise dan posisi bagus di organisasi. Jabatan pentingpun tak lama kemudian berhasil diraih. Karena posisinya yang strategis ia semakin diperhitungkan di partai politik tempat organisasi itu bernaung. Tak lama kemudian ibu pun melenggang dengan mulus sebagai anggota dewan tingkat daerah. Karena keterampilan bahasa dan kulewesannya bergaul, ibu bisa bertahan cukup lama disitu meski partai politiknya mengalami tekanan hebat di awal-awal era reformasi. Demikianlah, bapak semakin tenggelam dibawah bayang-bayang ibu.

Di dalam rumah ibu juga makin berkuasa. Ia akan marah-marah jika ada sesuatu yang tidak berkenan di hati. Segala keputusan berada di tangannya. Bapak yang seharusnya menjadi kepala rumah tangga ternyata tidak bisa berbuat apa-apa jika berhadapan dengan ibu. Ibu yang keras dan bapak yang lunak, berkah atau bencana aku tidak tahu. Yang jelas, apabila bapak tidak mempunyai kesabaran yang luar biasa, aku yakin biduk rumah tangga ini sudah lama hancur. Tetapi apalah artinya sebuah bangunan rumah tangga bila di dalam penghuninya merasa panas dan tidak nyaman. Ada bara terpendam yang sewaktu-waktu tanpa diduga bakal membakar rumah ini.

Sebenarnya aku tahu kalau ibu juga sangat mencintai bapak. Organisasi dan pergaulan lah yang merubah perangai ibu menjadi seperti itu. Aku sering mencuri-curi dengar bila ibu dan kawan-kawannya satu organisasi ngobrol di ruang depan. Mereka selalu mempersoalkan masalah kesetaraan hak antara laki-laki dan perempuan. Bicara mereka berapi-api dan selalu ingin menyerang ketidakadilan yang menimpa kaum perempuan di negeri ini. Dan yang sering menjadi sasaran adalah kaum laki-laki sebagai lawan jenisnya. Laki-laki yang seharusnya menjadi mitra seolah-olah malah menjadi musuh bagi mereka. Aku yang masih kecil kadang merasa ngeri mendengar pembicaraan mereka. Ah, harus seperti itukah emansipasi ?

Ibu dan bapak memang artis sandiwara yang hebat. Di luar rumah mereka menampakkan keharmonisan yang luar biasa. Pada acara-acara tertentu, seperti menghadiri sebuah undangan ataupun hajatan keluarga terkadang mereka datang berdua. Menunjukkan kepada dunia luar, inilah keluarga yang pantas menjadi teladan itu. Tetapi sesampai di rumah, ibu kembali berkuasa dan bapak seperti biasa selalu menurut perintah dan kemauan ibu.

Ibu sekarang telah mampu membeli rumah dan mobil sendiri dari hasil keringatnya sebagai anggota dewan. Baru aku ketahui juga bahwa barang-barang mewah yang mulai memenuhi rumah ini dibeli atau hutang atas nama ibu. Sedang bapak adalah tipikal orang yang sederhana. Ia tidak neko-neko sebagai pegawai negeri apalagi korupsi. Gajinya mungkin hanya terserap habis untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Tak pernah kudengar bapak bermimpi ingin memiliki ini itu. Ia sering berpesan kepada kami, anak-anaknya, apabila membutuhkan sesuatu untuk keperluan studi jangan sungkan-sungkan untuk meminta kepadanya.

Begitulah, dari hari ke hari aku makin sayang kepada bapak. Sampai pada suatu hari terjadilah peristiwa itu. Peristiwa yang lambat laun mulai mengubah perasaan sekaligus menggerus kepercayaan kami kepada bapak. Bapak mendapat surat panggilan dari kepolisian. Ia terseret kasus korupsi yang melanda beberapa pejabat penting di lingkungan instansinya. Walau hanya diperiksa sebagai saksi, tetapi hal tersebut sedikit banyak membuat kami, anak-anaknya merasa shock. Kepercayan kami kepada bapak menjadi goyah. Konon menurut kabar burung, bapak sebenarnya terlibat dalam kasus itu tetapi dapat lolos karena mendapat jaminan dari kekuasaan tertentu. Mungkin ibu mengambil peran dalam hal ini. Aku sering melihat ibu marah dan memaki-maki bapak jika menyinggung masalah tersebut. Walau berangsur-angsur suasana kembali pulih, tetapi mulai saat itu tingkat kepercayaan kami kepada bapak terus berkurang. Kami curiga, bapak yang pendiam ternyata menyimpan banyak rahasia yang tak kami ketahui.

Dan benarlah, hari-hari berikutnya borok bapak mulai kelihatan. Mulanya cuma kabar burung biasa kemudian berkembang menjadi berita besar di lingkungan kami. Bapak diisukan sering terlihat jalan berdua dengan beberapa perempuan. Kami awalnya tidak begitu menanggapinya. Ibupun seakan cuek saja. Sedang bapak, tetap begitu, selalu kelihatan lugu dan tidak berdosa. Seolah tidak terjadi apa-apa, apalagi menyangkut gosip miring tentang dirinya.

Hingga saat perempuan muda itu datang ke rumah kami. Menanyakan dan meminta pertanggungjawaban bapak. Aku yang pertama kali menemuinya sempat berang. Aku benar-benar tidak mempercayai semua ucapannya. Aku usir perempuan itu dari rumah. Tetapi hari berikutnya ia datang kembali dengan membawa amunisi yang lebih lengkap. Orangtua dan beberapa saudaranya ikut menyertai. Akhirnya, disaksikan Pak RT, bapak disidang pada hari itu. Ibu kebetulan ada di rumah. Dengan terbata-bata dan airmata berlinang bapak minta maaf dan mengakui perbuatannya. Bapak ternyata sudah lama menjalin hubungan terlarang dengan perempuan itu. Bahkan selama beberapa tahun belakangan ini bapak hidup satu atap di sebuah rumah kontrakkan tanpa kami ketahui sama sekali. Kini perempuan itu sudah beberapa bulan perutnya membesar. Ibu benar-benar shock dan hampir pingsan mendengarnya. Api dalam keluarga ini akhirnya tersulut sudah.

Bapak seperti orang bingung dan tak henti-hentinya minta ampun kepada ibu. Ibu hanya menangis sesenggukan tiada henti. Ibu yang biasanya perkasa di hadapan bapak, kini terlihat lunglai. Pengkhianatan bapak yang tiada terduga ini benar-benar mencabik-cabik dan menghancurkan hatinya. Aku tak tahu pasti apa sebenarnya yang dirasakan ibu. Kekokohan hatinya yang selama ini tak mau begitu saja dikalahkan itu seolah-olah sirna. Mungkin ini adalah tekanan terhebat dalam hidupnya.

Kami sekeluarga tidak bisa menerima perbuatan bapak. Mas Herman merasa malu dan tak mau bertatap muka lagi dengan bapak. Mbak Ratih pun demikian. Ibu sekarang telah pindah ke rumah yang dibelinya sendiri. Sesekali waktu mbak Ratih menemani saat suaminya dinas di luar pulau. Aku tak tahu mengapa ibu hanya meninggalkan bapak tanpa menuntut cerai seperti artis-artis di infotainment itu. Berat bagi keduanya, setelah seperempat abad lebih membina hubungan rumah tangga harus menerima kenyataan ini. Aku tahu ibu sangat mencintai bapak, begitu pula sebaliknya. Mungkin sudah takdir tuhan semuanya berjalan seperti ini, demikian aku sering menghibur diri. Aku tetap tinggal di rumah ini meski sebenarnya perasaanku juga terguncang hebat. Kuliahku berantakan dan sempat beberapa kali ingin mengundurkan diri.

Bapak dari hari ke hari semakin seperti orang linglung. Langkahnya hampa. Ia merasa sangat bersalah dan berdosa kepada ibu dan kami, anak-anaknya. Di masa tuanya ia harus menanggung beban yang cukup berat. Apalagi harus menafkahi anak yang telah lahir dari rahim perempuan itu. Memang perempuan itu tidak minta dinikahi, ternyata ia juga punya kekasih lain yang kemudian menikahinya. Tetapi bapak dituntut untuk membiayai anak tersebut hingga dewasa kelak. Dalam hati kadang aku menyalahkan ibu, bapak yang terdominasi kekuasaannya oleh ibu hanya kena jebak perempuan sialan itu. Seandainya ibu tidak ngotot berkarier di luar rumah, mungkin tidak akan terjadi peristiwa seperti ini. Entahlah... Aku jadi tambah pusing memikirkannya !

***

Aku pulang lebih awal siang ini. Perasaanku menjadi tak enak setelah meninggalkan bapak tadi pagi dengan penuh kesal. Aku merasa bersalah karena mengacuhkan permintaannya. Kudapati rumah kosong. Bapak tidak tampak ada di rumah. Hanya radio bapak yang bernyayi dengan serak kemresek lagu-lagu tempo dulu.

Sesaat aku mencari bapak hingga ke kebun belakang. Tak ada seorangpun disini. Tiba-tiba hpku menyala. Mbak Ratih menelepon.

“Wan…cepat kemari! Bapak kecelakaan. Sekarang ada di rumah sakit…”

Darahku terkesirap, kakiku terasa lunglai.

Tambak, 21 April 2009

Sabtu, 21 Maret 2009

LAMUNAN DI SEBUAH PAGI

Pagi ini saya nongkrong di depan rumah. Padahal biasanya jam segini masih terkapar pulas dibelai mimpi. Yah maklumlah, habis Subuh biasanya saya baru dapat memejamkan mata. Bermodalkan sebatang rokok dan segelas kopi hangat, saya pandangi jalanan di depan rumah yang mulai ramai. Lalu lalang kendaraan bermotor, sepeda onthel dan orang jalan kaki melintas di depan mata saya. Baru saya sadari kemudian, lingkungan sekitar saya tinggal perlahan-lahan ternyata mulai berubah. Menggeliat pasti menuju daerah ramai dan padat. Tak lama lagi kawasan ini akan menjadi kota atau mungkin sub kota. Tanda-tanda itu kelihatan jelas, sawah dan ladang mulai tergerus oleh perumahan, gedung-gedung dan juga pabrik. Anak-anak mudanya pun sudah mulai meninggalkan dunia pertanian yang lama mendarah daging, beralih ke usaha lain yang lebih menjanjikan uang dan tentu saja penghidupan yang lebih baik.

Begitulah, sejak di kampung saya berdiri pabrik wig asal Korea, perlahan-lahan roda ekonomi mulai menggeliat. Banyak pendatang bermunculan. Warung-warung makan dan kost-kostan tumbuh satu demi satu. Juga usaha-usaha lain yang menopang. Tentu saja suasana kampung yang dulu sepi mamring kini menjadi lebih bernyawa. Sebenarnya jauh sebelum itu, telah berdiri pula gedung-gedung milik instansi pemerintah di pinggiran kampung. Tapi memang suasana baru terasa lebih hidup setelah berdiri pabrik wig asal negeri ginseng itu. Konon pula, nanti di pinggiran kampung sebelah lain akan dibangun sebuah rumah sakit swata yang cukup besar, markas kodim juga akan berpindah ke kampung ini, pun juga pasar ikan yang mulai tersiar kabarnya segera dibangun. Saya jadi membayangkan betapa kampung saya akan berubah drastis beberapa tahun ke depan.

Ah, saya jadi rindu masa lalu. Teringat kenangan masa kecil, yang entah mengapa, terasa begitu indah. Saat kampung saya, bagi sebagian orang mungkin masih terbelakang. Belum ada listrik dan jalan yang beraspal. Tentu saja becek dan berlumpur pula di kala hujan. Tetapi bagi saya, suasana itu masih sangat murni dan alami. Rumah-rumah belum sepadat sekarang. Pepohonan, terutama kelapa masih begitu banyaknya, Sawah-sawah masih lapang. Dan yang kini benar-benar menghilang, kampung saya dulu dikepung oleh perkebunan tebu yang lumayan luas. Di pagi hari seperti ini, kicau burung dan suara hewan-hewan lain terasa merdu bersahutan terdengar di telinga. Kini, mungkin suara itu telah berubah menjadi deru mesin kendaraan bermotor dan alat-alat lain yang entah mengapa, terasa garang terdengar di telinga saya. Ah, kemana perginya kenangan itu ?!

Pikiran saya semakin melayang-layang. Kawan bermain dulu kini juga entah kemana ? Terpencar dan terpisah antara jarak dan waktu. Teringat kala mencuri dan membabat tebu hingga lari terkencing-kencing dikejar oleh mandor yang berwajah sangar. Teringat kenakalan-kenalan kecil sewaktu mencuri buah-buahan ranum di kebun tetangga. Teringat pula betapa getirnya menjadi anak orang biasa yang harus pontang-panting mencukupi biaya sekolah. Ah, saya serasa ingin kembali mencecap masa-masa itu....Dan yang pasti kenangan tetap tinggalah kenangan. Kehidupan terus berlanjut. Seperti orang bijak bilang, tiada yang abadi di dunia ini. Yang abadi adalah perubahan itu sendiri. Dan memang begitu bukan, kita selalu berubah dan berevolusi dari waktu ke waktu.

Tapi satu yang patut disyukuri hingga kini, banyaknya perubahan di kampung saya tidak serta merta menggerogoti suasana kekerabatan dan keintiman diantara warga. Meskipun banyak penduduk baru berdatangan, rasa gotong royong, yang menjadi ciri khas kampung di Jawa, masih terjaga baik. Acara kerja bakti dan pertemuan-pertemuan antar warga semacamnya masih tetap lestari. Bahkan terasa lebih harmonis. Warisan adiluhung yang selayaknya kita pelihara bersama.

Mungkin yang patut disayangkan dari perubahan dan modernisasi di kampung saya adalah hilangnya lahan-lahan produktif, seperti sawah dan perkebunan . Selain merupakan sarana menggantungkan hidup bagi sebagian warga, juga merupakan lahan bermain bagi anak-anak yang cukup luas. Karena telah banyak terkikis, maka tak dapat disalahkan bila anak-anak itu mencari lahan bermain lain seperti di arena playstation atau tempat-tempat sejenis. Saya juga sempat ngenes melihat gaji pegawai pabrik sekarang, walau sudah lumayan, tetapi masih jauh dibawah UMP. Sebandingkah dengan pengorbanan melenyapkan lahan-lahan itu ? Ah, lamunan saya sudah semakin ngaco saja kiranya...

Dan seperti yang sudah-sudah, lamunan ini harus segera berakhir ketika kantuk tiba-tiba menggerayangi segenap tubuh. Setelah semalaman kurang tidur, pagi ini saya harus segara menuntaskannya. Mungkin di alam mimpi nanti, saya malah lebih bisa merajut kenangan masa lalu yang lebih manis dan indah...hehe.

Salam,

Beranda, Suatu Pagi

Jumat, 13 Maret 2009

TAWA YANG INDAH.....

Inilah sepenggal kisah perjalanan keluarga kami. Hari Minggu, tanggal 8 Maret 2009, untuk pertama kalinya bapak dan ibu saya melepas anaknya ke jenjang pernikahan. Adik saya yang terakhir mendahului kedua kakaknya melepas masa lajang. Tidak ada yang wah dari pernikahan maupun resepsinya, kecuali kegembiraan dan tawa yang yang selalu menghiasi kedua keluarga ini. Seolah-olah menyambut dan menjadi saksi kedua mempelai menuju babak baru dalam kehidupan mereka.

Hujan yang turun menjelang ijab kabul dan langit cerah mewarnai acara resepsi semoga menjadi pertanda baik bagi perjalanan kehidupan rumah tangga mereka ke depan. Ucapan terima kasih yang tak terhingga kami haturkan bagi kerabat, sahabat, tetangga maupun handai taulan yang telah sudi membantu hajatan kecil keluarga kami. Semoga jalinan kekerabatan kita menjadi semakin erat karenanya.

Terakhir, dengan rasa syukur yang tiada terhingga kami sekeluarga hanya bisa berbagi kebahagiaan dengan Anda lewat postingan kecil ini. Semoga derai-derai tawa kami senantiasa mengalir seperti hari-hari ini menyambut esok yang lebih cerah dan indah.....

Terima kasih.





inilah sebuah awal itu....





Doa-doa kami....




khidmat....hehe




The make over...




adik iparku...lek !




adhi-adhiku ki pancen manis-manis....




penyamun di sarang penjahat...hehe,




genthone Tambak...hehe





keponakan-keponakan yang mengagumkan...




Ngantuk-ngantuk sithik...




Old crack sensation...hehe,





dukuhku mlebu internet...hehe




luber....




jane sik pengin tak jupuk gambare penyayine...hehe




tawa yang indah.....