Sabtu, 21 Maret 2009

LAMUNAN DI SEBUAH PAGI

Pagi ini saya nongkrong di depan rumah. Padahal biasanya jam segini masih terkapar pulas dibelai mimpi. Yah maklumlah, habis Subuh biasanya saya baru dapat memejamkan mata. Bermodalkan sebatang rokok dan segelas kopi hangat, saya pandangi jalanan di depan rumah yang mulai ramai. Lalu lalang kendaraan bermotor, sepeda onthel dan orang jalan kaki melintas di depan mata saya. Baru saya sadari kemudian, lingkungan sekitar saya tinggal perlahan-lahan ternyata mulai berubah. Menggeliat pasti menuju daerah ramai dan padat. Tak lama lagi kawasan ini akan menjadi kota atau mungkin sub kota. Tanda-tanda itu kelihatan jelas, sawah dan ladang mulai tergerus oleh perumahan, gedung-gedung dan juga pabrik. Anak-anak mudanya pun sudah mulai meninggalkan dunia pertanian yang lama mendarah daging, beralih ke usaha lain yang lebih menjanjikan uang dan tentu saja penghidupan yang lebih baik.

Begitulah, sejak di kampung saya berdiri pabrik wig asal Korea, perlahan-lahan roda ekonomi mulai menggeliat. Banyak pendatang bermunculan. Warung-warung makan dan kost-kostan tumbuh satu demi satu. Juga usaha-usaha lain yang menopang. Tentu saja suasana kampung yang dulu sepi mamring kini menjadi lebih bernyawa. Sebenarnya jauh sebelum itu, telah berdiri pula gedung-gedung milik instansi pemerintah di pinggiran kampung. Tapi memang suasana baru terasa lebih hidup setelah berdiri pabrik wig asal negeri ginseng itu. Konon pula, nanti di pinggiran kampung sebelah lain akan dibangun sebuah rumah sakit swata yang cukup besar, markas kodim juga akan berpindah ke kampung ini, pun juga pasar ikan yang mulai tersiar kabarnya segera dibangun. Saya jadi membayangkan betapa kampung saya akan berubah drastis beberapa tahun ke depan.

Ah, saya jadi rindu masa lalu. Teringat kenangan masa kecil, yang entah mengapa, terasa begitu indah. Saat kampung saya, bagi sebagian orang mungkin masih terbelakang. Belum ada listrik dan jalan yang beraspal. Tentu saja becek dan berlumpur pula di kala hujan. Tetapi bagi saya, suasana itu masih sangat murni dan alami. Rumah-rumah belum sepadat sekarang. Pepohonan, terutama kelapa masih begitu banyaknya, Sawah-sawah masih lapang. Dan yang kini benar-benar menghilang, kampung saya dulu dikepung oleh perkebunan tebu yang lumayan luas. Di pagi hari seperti ini, kicau burung dan suara hewan-hewan lain terasa merdu bersahutan terdengar di telinga. Kini, mungkin suara itu telah berubah menjadi deru mesin kendaraan bermotor dan alat-alat lain yang entah mengapa, terasa garang terdengar di telinga saya. Ah, kemana perginya kenangan itu ?!

Pikiran saya semakin melayang-layang. Kawan bermain dulu kini juga entah kemana ? Terpencar dan terpisah antara jarak dan waktu. Teringat kala mencuri dan membabat tebu hingga lari terkencing-kencing dikejar oleh mandor yang berwajah sangar. Teringat kenakalan-kenalan kecil sewaktu mencuri buah-buahan ranum di kebun tetangga. Teringat pula betapa getirnya menjadi anak orang biasa yang harus pontang-panting mencukupi biaya sekolah. Ah, saya serasa ingin kembali mencecap masa-masa itu....Dan yang pasti kenangan tetap tinggalah kenangan. Kehidupan terus berlanjut. Seperti orang bijak bilang, tiada yang abadi di dunia ini. Yang abadi adalah perubahan itu sendiri. Dan memang begitu bukan, kita selalu berubah dan berevolusi dari waktu ke waktu.

Tapi satu yang patut disyukuri hingga kini, banyaknya perubahan di kampung saya tidak serta merta menggerogoti suasana kekerabatan dan keintiman diantara warga. Meskipun banyak penduduk baru berdatangan, rasa gotong royong, yang menjadi ciri khas kampung di Jawa, masih terjaga baik. Acara kerja bakti dan pertemuan-pertemuan antar warga semacamnya masih tetap lestari. Bahkan terasa lebih harmonis. Warisan adiluhung yang selayaknya kita pelihara bersama.

Mungkin yang patut disayangkan dari perubahan dan modernisasi di kampung saya adalah hilangnya lahan-lahan produktif, seperti sawah dan perkebunan . Selain merupakan sarana menggantungkan hidup bagi sebagian warga, juga merupakan lahan bermain bagi anak-anak yang cukup luas. Karena telah banyak terkikis, maka tak dapat disalahkan bila anak-anak itu mencari lahan bermain lain seperti di arena playstation atau tempat-tempat sejenis. Saya juga sempat ngenes melihat gaji pegawai pabrik sekarang, walau sudah lumayan, tetapi masih jauh dibawah UMP. Sebandingkah dengan pengorbanan melenyapkan lahan-lahan itu ? Ah, lamunan saya sudah semakin ngaco saja kiranya...

Dan seperti yang sudah-sudah, lamunan ini harus segera berakhir ketika kantuk tiba-tiba menggerayangi segenap tubuh. Setelah semalaman kurang tidur, pagi ini saya harus segara menuntaskannya. Mungkin di alam mimpi nanti, saya malah lebih bisa merajut kenangan masa lalu yang lebih manis dan indah...hehe.

Salam,

Beranda, Suatu Pagi

Jumat, 13 Maret 2009

TAWA YANG INDAH.....

Inilah sepenggal kisah perjalanan keluarga kami. Hari Minggu, tanggal 8 Maret 2009, untuk pertama kalinya bapak dan ibu saya melepas anaknya ke jenjang pernikahan. Adik saya yang terakhir mendahului kedua kakaknya melepas masa lajang. Tidak ada yang wah dari pernikahan maupun resepsinya, kecuali kegembiraan dan tawa yang yang selalu menghiasi kedua keluarga ini. Seolah-olah menyambut dan menjadi saksi kedua mempelai menuju babak baru dalam kehidupan mereka.

Hujan yang turun menjelang ijab kabul dan langit cerah mewarnai acara resepsi semoga menjadi pertanda baik bagi perjalanan kehidupan rumah tangga mereka ke depan. Ucapan terima kasih yang tak terhingga kami haturkan bagi kerabat, sahabat, tetangga maupun handai taulan yang telah sudi membantu hajatan kecil keluarga kami. Semoga jalinan kekerabatan kita menjadi semakin erat karenanya.

Terakhir, dengan rasa syukur yang tiada terhingga kami sekeluarga hanya bisa berbagi kebahagiaan dengan Anda lewat postingan kecil ini. Semoga derai-derai tawa kami senantiasa mengalir seperti hari-hari ini menyambut esok yang lebih cerah dan indah.....

Terima kasih.





inilah sebuah awal itu....





Doa-doa kami....




khidmat....hehe




The make over...




adik iparku...lek !




adhi-adhiku ki pancen manis-manis....




penyamun di sarang penjahat...hehe,




genthone Tambak...hehe





keponakan-keponakan yang mengagumkan...




Ngantuk-ngantuk sithik...




Old crack sensation...hehe,





dukuhku mlebu internet...hehe




luber....




jane sik pengin tak jupuk gambare penyayine...hehe




tawa yang indah.....

Kamis, 29 Januari 2009

KETIKA WAKTU ITU TIBA



Gegaraning wong akrami dudu bandha, dudu rupa. Amung ati pawitane. Luput pisan kena pisan. Yen gampang luwih gampang. Yen angel, angel kalangkung. Tan kena tinumbas arta...( Serat Wulang Reh-Pakubuwono IV)

Demikian bunyi tembang Asmaradana yang sering dinukil pada wedding invitation itu. Kurang lebih isinya adalah bahwa dasar orang menikah itu bukan harta ataupun rupa tetapi hati yang menjadi modal utamanya. Mengapa saya tertarik menuliskannya pada postingan ini? Tak lain dan tak bukan karena beberapa hari ke depan banyak orang-orang dekat dan tercinta saya mulai melangkah ke jenjang pernikahan. Mulai adik kandung, sahabat, ataupun beberapa kenalan saya. Itung-itung tulisan ini sebagai kado buat mereka. Jadi...nikmatilah sedikit wejangan dari lelaki penunggu ilalang ini..hehe

Yah, begitulah. Menjelang hari bahagia itu tiba, saya dapat melihat sinar kebahagian terpancar dari wajah mereka. Muka selalu berseri-seri-seri, senyum dan tawa disana-sini. Perjuangan panjang merajut tali cinta sebentar lagi telah menemukan rumahnya. Terbayang onak duri selama menggapai pintu itu tidaklah mudah. Mulai dari perkenalan, berpacaran, mungkin diwarnai sedikit pertengkaran ataupun putus nyambung serta tetek bengek lainnya sampai pada akhirnya mencapai tahap pernikahan. Seolah terbayar sudah segala jerih dan payah. Walau sebenarnya, perjuangan yang lebih berat menanti mereka ke depan. Perjuangan mengisi organisasi kecil bernama rumah tangga dan mencetak generasi penerus yang secara norma masyarakat maupun agama pasti ada pertanggungjawabannya. Dengan semangat cinta mereka selama ini, saya berdoa dan yakin mereka akan mampu melaksanakan amanah itu dengan baik.

Disini, sedikit akan saya sentil mengenai fenomana pernikahan yang mulai mengalami pergeseran makna akhir-akhir ini. Pernikahan yang pada dasarnya adalah sebuah ikatan suci antara laki-laki dan perempuan untuk bersama-sama membangun biduk rumah tangga yang dirahmati tuhan, dimana di dalamnya terdapat unsur cinta dan tanggungjawab, seolah-olah hanya sekedar main-main dan seremoni semata. Lihatlah maraknya pernikahan siri dan fenomena kawin cerai di berbagai kalangan dewasa ini. Kawin siri pada intinya adalah pernikahan yang disembunyikan yakni melalui penghulu tidak resmi dan sudah tentu tidak memiliki akta pernikahan yang sah. Biasanya dilakukan oleh orang-orang yang keblinger dalam urusan seksual, seperti selingkuh atau hamil di luar nikah. Pernikahan seharusnyalah diberitahukan ke sebanyak mungkin orang agar tidak terjadi fitnah di kemudian hari. Pernikahan model begini yang akan menanggung akibatnya adalah anak-anak mereka kelak. Tanpa memiliki surat-surat yang sah akan mengalami kesulitan dalam mendapatkan hak-haknya.

Fenomena yang lebih memilukan lagi adalah kawin cerai. Sebuah penyakit kronis yang mulai menjangkiti kalangan elit sampai rakyat pinggiran negari ini. Pada waktu pernikahan menggelar resepsi dan pesta yang wah dan menghabiskan banyak uang. Tapi tak seumur jagung, pernikahan itu berakhir di pengadilan agama alias terjadi perceraian. Setelah bercerai, mereka menjalin hubungan baru, nikah lagi kemudian cerai lagi...begitu seterusnya. Pernikahan seperti hanya untuk melepas nafsu semata, bersenang-senang tanpa memikirkan mau dibawa kemana biduk rumah tangga tersebut ke depan.

Maka sudah selayaknyalah, kita mengembalikan kembali esensi pernikahan yang sesungguhnya. Saya rasa adik-adik dan kawan-kawan saya tersebut adalah orang-orang yang sudah teruji cinta, dan tanggungjawabnya. Kendala dan rintangan pasti akan menguji perjalanan suci mereka. Jadikanlah itu sebagai sebuah romantika menuju sebuah kehidupan yang selalu diliputi kebahagiaan. Walau mungkin sederhana, semoga kisah cinta kalian akan terukir indah sampai ke anak cucu esok...

Terakhir saya hadirkan pula puisi dari Joko Pinurbo sebagai penutup :


Rumah Cinta

Aku datang ke dalam engkau
ke rumah rantau yang melindap
di antara dua bukit
di mana senja mengerjap-ngerjap
dalam kerlap biru langit.

Ada sejoli celana berkibar-kibar
di balik jendela :
Hai, kami sedang belajar bahagia
Ada buku masih terbuka di atas meja
dan ada ayat rahasia :
Miskin mungkin bencana,
tapi kaya juga cuma karunia.

Aku pulang ke dalam engkau,
ke rumah singgah yang terlindung
diantara dua kubah
dimana ia datang berkerudungkan bulan,
merapikan tubuh yang berantakan
dan berkata : Supaya tidurmu makin sederhana.


Salam manis selalu,




Jumat, 19 Desember 2008

BELAJAT KEARIFAN DARI TIBET


Saya menulis ini karena terilhami filmnya Brad Pitt, Seven Years in Tibet. Beberapa hari lalu saya sempat meminjamnya di sebuah rental vcd. Ternyata masih ada juga film lawas ini. Sebenarnya sudah berkali-kali saya menontonnya, tetapi hanya sekilas dan tak utuh, maklum cuma di tv. So...begitu teringat kembali dengan film ini, buru-buru saya cari di beberapa rental. Saya ingin melihat kembali keheningan Himalaya dan Tibet yang menjadi latar film ini.

Film arahan sutradara Jean Jacques Annaud ini berkisah tentang petualangan seorang pendaki gunung asal Austria, Heinrich Harrer ( Brad Pitt ) yang terdampar di Tibet saat gagal melakukan pendakian ke Gunung Nanga Parbat, puncak tertinggi di Himalaya. Ia terpaksa kembali ke perkemahan bersama kawan-kawannya karena gagal mencapai puncak tersebut. Tetapi sesampai di perkemahan, Pasukan Inggris keburu menangkapnya. Waktu itu sedang berlangsung Perang Dunia II. Beruntung Harrer dan kawannya, Peter Aufschnainater ( David Thewlis ) berhasil meloloskan diri dan pada akhirnya terdampar di Lhasa, kota tersuci di Tibet, selama tujuh tahun.

Di Lhasa ia berteman dan menjadi tutor Dalai Lama ke-14 ( Jamyang Wamchuk) yang waktu itu baru berusia 11 tahun, pemimpin religius tertinggi Tibet. Hubungan keduanya mempengaruhi Harrer dari seorang Austria yang egois menjadi seorang yang menemukan kedamaian. Begitu juga dengan Dalai Lama yang menjadi tahu banyak hal tentang kehidupan barat.

Dalam versi nyata, ketika Tentara China menginvasi Tibet tahun 1951, Harrer kemudian melintas ke India melalui Jalan Sikkim, tak lama sebelum Dalai Lama terpaksa melarikan diri ke India dan kemudian mendirikan pemerintahan Tibet di pengasingan. Keduanya bertemu secara periodik pada tahun-tahun sesudahnya. Dalai Lama tidak pernah menyadari masa lalu Harrer sebagai Nazi hingga muncul berita-berita di media. Dalai Lama tetap mengatakan kepada sahabatnya tersebut bahwa bila hati nuraninya bersih, maka tak ada apapun yang perlu ditakuti olehnya.

Demikianlah, pikiran saya kemudian melayang ke masa sebelum pendudukan China, dimana Tibet dikenal sebagai Negeri Atap Dunia yang menggelitik rasa ingin tahu banyak orang karena pesona keindahan alamnya di ketinggian dengan segala ketertutupan dan tentu saja kisah pemimpin spiritualnya, Dalai Lama. Seorang Dalai Lama bukanlah raja, melainkan seorang pemimpin spiritual tempat rakyatnya bernaung. Tak masalah dimanapun keberadaannya, kehadiran seorang Dalai Lama membawa ketenangan dan kestabilan dalam jiwa rakyat Tibet. Itulah satu-satunya alasan mengapa ia harus hidup, bahkan dalam keadaan terbuang.

Rakyat Tibet adalah rakyat yang terbuka, cinta damai dan kaya spiritual. Mereka mungkin tertinggal secara teknologi, karena memang tak menginginkan itu. Mereka sengaja membiarkan roda kemajuan berjalan lambat agar roda-roda spiritual berjalan lebih pesat. Mereka memilih bagal ketimbang sepeda motor, memilih layang-layang ketimbang radio control dan mereka tak rela dijajah karena mereka adalah jiwa-jiwa yang bebas.

Ada salah satu ujaran menarik dari Dalai Lama ke-14 yang mengelitik saya. Menurut beliau seluruh ajaran Sang Buddha dapat dinyatakan dalam dua kalimat. Yang pertama, "Berusahalah untuk membantu makhluk lain". Yang kedua, "Jika tidak bisa, setidaknya jangan menyakiti makhluk lain". Kedua ajaran ini didasarkan pada belas kasih. Hal lain dalam ajaran Buddha adalah kebijaksanaan, yaitu kepiawaian dalam menjalankan nilai-nilai luhur yang merupakan upaya untuk pencapaian pencerahan sempurna. Tanpa pengetahuan dan tanpa sepenuhnya mendayagunakan kecerdasan, sangatlah sulit untuk mencapai kebijaksanaan yang nyata. Belas kasih dan kebijaksanaan merupakan landasan praktik kesempurnaan untuk pencapaian ke-Buddha-an. Seseorang yang bercita-cita mencapai ke-Buddha-an harus berjuang untuk memenuhi kedua landasan ini.

Hal-hal diatas mungkin kelihatan mustahil bagi orang jaman sekarang. Betapa kita membantu orang lain karena selalu ada pamrih, mungkin untuk merengkuh jabatan, meraup banyak uang ataupun juga agar diakui keberadaan kita...hehe. Bila itu tidak tercapai kebencian dan ingin meyakiti seolah menjadi sebuah pelampiasan. Adakah sekarang ini cinta suci, cinta yang benar-benar tulus seperti diujar Sang Budha diatas ? Yah, menurut saya pribadi hakekat cinta yang sebenarnya antar sesama manusia adalah saling mengasihi, dimana hati kita akan senang bila orang lain merasakan senang dan tentu saja hati kita merasa ikut susah bila orang lain mengalami kesusahan. Weh, aneh ya...kok malah ngelantur...hehe.

Ah, saya tutup saja cerita dan lamunan tentang Tibet yang tak menentu ini : D. Tentu kita semua berharap dan berdoa agar rakyat Tibet dapat segera hidup damai seperti dulu lepas dari pendudukan bangsa asing. Semoga !



Wates, in the morning



Minggu, 14 Desember 2008

MENYOAL ( KEMBALI ) TENTANG PEREMPUAN




Postingan kali ini kembali menyoal perempuan. Bukan karena menjadi pengamat perempuan atau terlibat gerakan feminisme, tapi ngga lucu bukan bila saya yang notabene laki-laki harus menulis sesuatu tentang kelaki-lakian atau maskulinitas. Nanti salah-salah malah dianggap gay...hehe. Yang jelas, saya menulis ini karena saya sangat menghormati dan mengagumi perempuan sebagai sesama makhluk tuhan, baik peran maupun keindahan fisiknya. Ibu saya perempuan, nenek saya perempuan, istri saya nanti perempuan, dari dulu banyak kawan-kawan saya juga perempuan. Singkat kata, melihat perempuan, ide dan pikiran saya bisa berkembang. Terkadang semangat pun bisa menyala-nyala. Apalagi bila perempuan itu yang sangat saya cintai dan kagumi : D.

Oke...saya akan mulai. Melihat perkembangan dewasa ini, terutama di negara kita, kaum perempuan harus bersyukur dan bangga. Terlepas masih ada sedikit banyak problematikanya disana-sini, kaum perempuan telah mengalami dinamisasi yang sangat pesat. Baik dalam peran maupun kiprahnya di ranah keluarga, masyarakat maupun dunia kerja. Lihatlah, begitu banyak perempuan yang sekarang dapat menempuh pendidikan tinggi kemudian berkiprah di berbagai bidang, swasta maupun pemerintahan. Tak jarang mereka malah memegang peranan penting dalam lingkup yang digeluti. Banyak pula yang mandiri sebagai entrepreneur-entepreneur tangguh yang menghidupi banyak kaum laki-laki. Pemilu mendatang juga diramaikan banyak caleg perempuan dengan adanya kuota tertentu bagi perempuan ( saya lupa berapa persen...hehe). Maka tak mengherankan poster-poster mereka yang kebanyakan muda-muda dan cantik menghiasi sudut-sudut kota. Niscaya, dengan modal intelektualitas tinggi dan fisik yang wah itu banyak dari mereka nanti akan melenggang mulus ke kursi wakil rakyat. Sejauh pengamatan saya, zaman sekarang perempuan lebih banyak dibutuhkan dan menarik perhatian dilihat dari berbagai sisi. Mencari pekerjaan pun lebih mudah kaum perempuan daripada laki-laki. Singkat kata, sekarang ini perempuan benar-benar telah menemukan masanya, Masa Perempuan atau Era Perempuan.

Maka demikianlah, cita-cita Ibu Kita Kartini untuk mengangkat derajat kaum perempuan saya rasa telah menemukan realisasinya dewasa ini. Tentang masih adanya sedikit banyak ganjalan, seperti masalah kekerasan dalam rumah tangga, poligami atau juga maraknya perdagangan perempuan dan pelacuran itu adalah dinamisasi menuju perubahan ke arah yang lebih baik. Tugas kita semua, terutama para aktivis kesetaraan gender,untuk mengolah pemikiran-pemikiran baru menuju era kesataraan yang lebih harmonis dan mengedepankan logika kemanusiaan. Wuih malah dadi serius kie....hehe.

Tetapi seiring dengan itu semua, tak terasa di berbagai bidang perempuan malah mengalami eksploitasi baik dari sisi intelektual maupun fisik. Lihatlah saja, produk maupun event-event tertentu yang seolah-olah selalu menunjuk kearah perempuan. Mulai dari menjual produk yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan perempuan tetapi memakai model perempuan-perempuan muda yang cantik dan seksi dengan busana amat minim sampai produk-produk semacam pemutih atau peramping tubuh yang dijejalkan sebagi kebutuhan wajib bagi perempuan. Alhasil, perempuan selalu menjadi objek yang tiada habisnya dalam putaran arus modernisasi. Sudahkah para perempuan menyadarinya....hehe.

Oh...ya, ini hampir kelupaan. Dalam dunia sastra pun perempuan sekarang terasa lebih berani. Baca saja cerpen-cerpen Djenar Maesa Ayu, novel-novel Ayu Utami dan juga skenario film besutan beberapa penulis perempuan dewasa ini yang mengungkap fantasi seksual yang luar biasa, bahkan mungkin jauh dari jangkauan kaum laki-laki...hehe. Dan karya itupun laris manis di pasaran. Perempuan memang mempunyai sentuhan lain dalam bicara seksualitas. Seksi, liar namun tidak garang : D. Apakah ini berarti sastrawan perempuan juga telah tereksploitasi ? I dont know…??

Disini saya juga tertarik sedikit menukilkan tulisan si libido junkie, Nova riyanti Yusuf ( NoRiYu ) dalam kolomnya di sebuah majalah. Dokter yang juga psikiater, penulis atau mungkin juga nanti politikus ini secara tidak langsung menggambarkan keterbukaan perempuan dalam mengungkap beberapa hal yang dulu dianggap tabu disamping isi tulisannya yang menyentil eksploitasi perempuan terhadap tubuhnya….

Tetapi waktu kemudian terus bergulir dan ia menyadari bahwa pusaran hidup tidak hanya mengitari daerah ‘dadanya’ saja, hidup adalah suatu ranah liar – bukan suatu surga kenikmatan –yang harus dijejaki dengan ‘perang gerilya’ untuk menumpas kegetiran realita. Hidup tidak hanya berleha-leha di sebuah salon kecantikan dengan turun mesin badan up and down. Tidak selesai problema hidup hanya dalam relaksasi sehari penuh dengan beragam fasilitas self indulging dari mulai spa, manicure, pedicure, hairspa, bahkan V-spa ( spa untuk vagina )

Bertaburan gadis dengan kaki menjenjang, payudara montok, perut ala Britney Spears, vagina plontos ( atau kadang-kadang Gogon Srimulat hairstyle, yaitu disisakan diujung mons pubis saja ). Well, this is hard news for you : your vagina and your boobs don’t sell anymore.

Begitulah, menyebut kata vagina mungkin dulu adalah keramat. Tetapi sekarang lambat laun liang keramat itupun mulai berangsur-angsur tiada angker. Bahkan norma tiada kuasa membendung peziarah-peziarah yang belum punya ikatan resmi berkunjung menziarahinya. Sesekali komersialisme membuat kita penasaran dan berusaha sembunyi-sembunyi mengintip rahasianya....hehe. Eksploitasi juga kah ?

Demikianlah tulisan saya. Mungkin banyak dari Anda menilai hanya serapah saya semata. Tetapi yang jelas mungkin hanya ini yang dapat saya persembahkan buat perempuan-perempuan tercinta yang berada di seputar saya sebagai penghoramatan menjelang Hari Ibu 22 Desember nanti. Anggap saja ini sebagi kritik orang awam yang membangun...hehe,

Radja, Monday midnigt

Sabtu, 29 November 2008

ANTARA JILBAB KETAT, G-STRING DAN MODERNISASI




Saya menulis ini hanya untuk fun saja tanpa telaah yang mendalam. Hanya berdasarkan yang saya lihat di lapangan, kemudian sedikit saya pikirkan terus saya ketik langsung dalam postingan ini. So…kalo ada fakta yang terlewat dan dalil yang keliru mohon dimaafkan kiranya.

Saya adalah orang yang bekerja di ruang public atau keramaian sehingga sedikit banyak sering mengamati tingkah laku dan gaya hidup orang-orang yang berlalu lalang di depan hidung saya. Salah satu yang menarik perhatian adalah gaya berpakaian remaja atau generasi muda perempuan kita sekarang ini. Bukannya mau pukul rata, tapi saya bisa memastikan bahwa remaja putri sekarang terkesan lebih bebas dan leluasa dalam berbusana dibandingkan dulu. Mereka terkesan ingin lebih mengeksplore potensi keperempuannya seperti bentuk tubuh yang ramping, dada yang montok ataupun bokong yang seksi. Alhasil seperti yang sering kita lihat, model-model pakaian remaja putri zaman sekarang adalah yang you can see dan serba pendek ataupun juga yang super ketat.

Trend inipun merambah pula ke busana muslim. Lihatlah jilbab-jilbab ( kalo tidak bisa dikatakan penutup kepala ) model sekarang. Seperti assesoris yang dililitkan di kepala saja, dengan kaos dan jeans ketat yang membungkus lekuk tubuh yang tercetak dengan jelas. Apabila mereka membungkuk atau membonceng kendaraan bermotor maka jeans itu akan segera tertarik ke bawah dan segeralah terlihat celana dalam atau g-stringnya. Sebagai lelaki normal saya sering tertawa sendiri melihat hal itu sekaligus bersyukur karena nikmat pemandangan yang gratis itu…hehe. Di lain pihak juga prihatin karena maksud jilbab yang sebenarnya menjadi demikian kabur. Alih-alih untuk menutup aurat agar tidak merangsang syahwat tetapi malah membuat mata lelaki menjadi semakin jelalatan : D.

Saya kemudian teringat buku ‘Renungan dari Yogya’ karya antropolog UGM, almarhum Masri Singarimbun, beliau menaruh iba kepada remaja-remaja kita yang kini hidup dalam fase abad manusia yang seolah diperbudak oleh peradaban hanya karena sebuah tuntutan modernisasi ataupun globalisasi, yang menciptakan humanisme global yang kering akan nilai-nilai spritualisme dan religius. Satu sisi remaja putri (cewek) kita dituntut selalu kukuh dan patuh dengan aturan norma agama maupun sosial yang ada, namun dilain sisi teknologi dan kebudayaan merangsang pola pikir dan gaya hidup para remaja untuk selalu permisiv terhadap nilai-nilai globalisasi yang mengaburkan batas nilai antara norma moral dan agama itu sendiri.

Demikianlah, agar tidak dikatakan ketinggalan jaman ataupun tidak gaul seolah dijadikan pembenaran atas model berpakaian mereka. Fungsi pakaian yang sebenarnya yakni untuk melindungi tubuh dan menjaga kesopanan menjadi tak ada lagi. Mungkin hanya dari segi estetika atau keindahan saja fungsi pakaian zaman sekarang menemukan fungsinya. Tak terasa dengan sendirinya mereka telah tereksploitasi keperempuanannya oleh arus zaman yang terkadang malah memperbudak atau membatasi gerak-gerik dalam beraktivitas. Lihatlah remaja-remaja putri yang sedikit-sedikit harus menarik kaos ketatnya ke bawah karena g-stringnya menyembul ke atas itu : D.

Oh…ya, bagi Anda yang belum kenal g-string, saya beritahu sedikit. Ini adalah bentuk celana dalam yang ngetrend jaman sekarang. Bentuknya minimalis, mungkin hanya seutas tali plus sehelai benang yang menutup bongkahan pantat. Orang-orang ada yang menyebutnya cemas kependekan dari celana masuk s***t. Menurut kamus wikipedia g-string merupakan busana yang dikenakan manusia paling awal pada zaman dulu kala. Mungkinkah semboyan back to nature benar-benar terealisasi dengan ini, dimana dalam berpakaian pun seakan kita mengacu masa purba dulu. Entahlah…hehe.

Itulah tulisan saya kali ini. Hanya sambil lalu dan intermezo semata. Yang jelas, saya akui sejuju-jujurnya, jiwa lelaki saya tetap merasa girang apabila melihat perempuan memakai kaos dan jeans ketat yang apabila merunduk g-stringnya nongol keatas. Apalagi kalo cewek itu tinggi semampai dan berambut panjang kaya Luna Maya….Whakaka ! Gawat boss….





SUATU SAAT DI KOTA BATU....


Salah satu view Kota Batu, dengan julukannya Swiss Kecil di Pulau Jawa dengan pegunungannya yang sejuk. Disini banyak tersedia villa dan hotel, cocok bagi Anda yang sedang berbulan madu….


A part of a big family…


Welcome to Jatim Park, salah satu tempat wisata di Kota Batu.


Dancing with Mbah Im….


Not twin….


Pacaran itu asyikkah ??


Not driver…


Flamboyan Raya No. 2, disini Dr Azhari mengakhiri jejaknya….


Prigen, wong ndeso gumun weruh dulure…


Prigen, animal instinc….


Sketsa : Perempuan tua penjaga toilet di daerah Watukosek, Pasuruan. Mbah mlebu internet…hehe.

Virgo, 29-11-08