Senin, 05 September 2011

MUADZIN KETUJUH

(Dimuat di Jurnas, 7 Agustus 2011)

Akhirnya aku pulang ke kampung ini. Tempat aku dilahirkan dan dibesarkan. Entah, sudah berapa tahun aku meninggalkannya, berpindah-pindah dari satu daerah ke daerah lain, hingga beberapa tahun kemudian menetap di Jakarta sebagai salah satu pimpinan sebuah perusahaan besar. Usia memang tidak bisa dipaksakan, juga faktor kesehatan. Beberapa bulan yang lalu, aku mengajukan pensiun. Perusahaan ternyata menyetujuinya. Dengan berbagai pertimbangan matang, aku memutuskan akan menghabiskan masa tua di tanah kelahiran.

Anak-anakku sudah besar dan membangun rumah tangga sendiri-sendiri. Mereka sebenarnya tidak setuju aku kembali ke desa. Takut jika nanti terjadi apa-apa, tidak ada yang menjaga dan merawatku. Namun, tegas kukatakan kepada mereka, keputusanku ini sudah bulat. Dengan sisa-sisa tenaga yang ada, aku merasa masih bisa berbuat lebih banyak lagi bagi kampung halaman, yang dari dulu sampai sekarang, tetap saja tanpa kemajuan berarti ini.

Meski dalam hati, sebenarnya aku menangis. Aku sebisa mungkin mengingkarinya dan berusaha tetap tegar di hadapan anak-anakku. Ya, semenjak kepergian Laila, isteriku tercinta, mendahului menghadap sang pencipta beberapa tahun lalu, aku seperti kehilangan separuh jiwa. Tiada lagi pendamping yang setia menemani dan memberiku pertimbangan, baik dalam keadaan suka maupun duka. Aku benar-benar goyah dan kehilangan pegangan. Untuk melupakan semua itu, jujur, sebenarnya keputusan ini kuambil.

Dan beberapa hari yang lalu, aku telah menginjakkan kaki di kampung halaman. Yang kutuju pertama kali adalah sebuah rumah baru, terletak tak berapa jauh dari masjid kampung yang cukup besar. Beberapa tahun belakangan ini, aku memang mengirim uang ke kampung, menyuruh saudara jauhku membangunkan rumah diatas tanah peninggalan orang tua. Kini, setelah hampir sempurna, rumah itu kutempati seorang diri.

Ada kebiasaan baru, yang dulu sewaktu masih bekerja di kota, jarang bahkan tidak pernah kulakukan sama sekali. Ya, aku kini menjadi rajin ke masjid yang terletak di dekat rumahku. Masjid itu, sewaktu aku pertama kali datang, walau besar tetapi tampak kotor dan tidak terawat. Jarang ada orang yang sholat berjamaah di dalamnya, kecuali pada waktu sholat Jum’at saja. Aku tahu, daerah ini adalah daerah abangan. Penduduknya mempunyai pengetahuan dan pemahaman agama yang biasa-biasa saja.

Namun, ada kisah menggelitik tentang masjid itu, khususnya tentang muadzinnya, yang membuatku penasaran dan menjadi harap-harap cemas tentang suatu hal. Ya, tentang suatu hal yang kupikirkan sejak Laila meninggalkanku.. Meski tak masuk akal, kisah itulah sebenarnya yang membuatku begitu tertambat kepada masjid itu.

Setiap pagi menjelang, suaraku yang tak terlalu merdu, membelah kampung membangunkan orang-orang untuk segera menunaikan Sholat Subuh. Seperti halnya yang dilakukan oleh enam orang pendahuluku, muadzin-muadzin itu, yang sekarang telah beristirahat dengan damai di makam belakang masjid.

***

Mula-mula aku tak begitu peduli dengan masjid itu. Beberapa waktu terakhir ini, sholatku memang rutin, tetapi lebih banyak kukerjakan sendirian di rumah. Hingga suatu hari, entah mengapa, ada yang mendorongku bertanya kepada Sarkoni, orang yang rumahnya bersebelahan dengan rumahku.

“Mas Sarkoni, sepertinya ada yang aneh dengan masjid ini ? Besar tetapi kok tak terawat dengan baik. Jama’ahnya juga hampir tak ada.”

“Wah, itu ada ceritanya Pak Sambas.”

“Cerita gimana, maksud Mas Sarkoni ?”

“Begini Pak, ada kepercayaan oleh orang-orang kampung, mereka yang aktif di masjid, khususnya yang rutin azan, dapat ditebak bahwa ajal mereka sudah dekat.”

“ Kok bisa begitu ? Saya jadi bingung, Mas.”

“Benar, Pak Sambas. Ini dapat dibuktikan dari muadzin-muadzin masjid ini yang sekarang sudah meninggal.”

Aku benar-benar penasaran dengan penuturan Sarkoni. Melihat gelagatku yang ingin tahu lebih banyak, akhirnya Sarkoni mulai bercerita, tanpa kuminta.

“Dulu, pada awal-awal dibangun, masjid ini sebenarnya ramai sekali, Pak. Orang-orang kampung sini, yang minim pengetahuan agamanya, seperti mendapat kebanggaan tersendiri dengan adanya masjid ini. Tanah tempat masjid ini dibangun diperoleh dari wakaf Pak Kadus Mantan sedangkan dana dan pembangunannya dilakukan gotong royong oleh warga kampung sendiri. Alhasil, setelah masjid ini dapat berdiri dengan cukup besar, banyak pujian dari kampung-kampung lain. Warga pun antusias melakukan aktivitas keagamaan di disini.”

Sarkoni menghentikan ceritanya, mulai menyalakan sebatang rokok yang sedari tadi dimain-mainkan di jemarinya. Aku jadi tak sabar.

“Lantas ?”

“Tetapi lambat laun, ada sesuatu yang ganjil dirasakan oleh warga kampung. Setiap warga kampung yang berinisiatif menjadi muadzin, tak lama kemudian dipastikan akan meninggal dunia. Hingga kini, tidak ada yang berani mengkhususkan diri menjadi muadzin disini. Tak ada lagi yang mengumandangkan azan, memanggil warga untuk datang ke masjid. Karena itulah, lama-lama jama’ah masjid ini berkurang, bahkan nyaris tak ada sama sekali.”

Aku makin penasaran, “Masak bisa begitu sih, Mas ?”

“Bapak, boleh percaya boleh tidak, yang pasti sudah enam muadzin tetap masjid ini yang meninggal dunia. Kalau masih penasaran, Bapak boleh bertanya kepada warga lainnya.”

Memang demikianlah adanya, setelah beberapa waktu di kampung ini, aku banyak mendengar cerita tentang muadzin-muadzin itu. Mulai dari Pak Kadus Mantan (pendiri masjid), Pak Tejo Gusar (mantan pejabat kabupaten), Mbah Kasan Berahi (lelaki yang suka main perempuan) hingga Karto Kapak (preman kampung yang kemudian insyaf), sama persis dengan yang diceritakan Sarkoni. Ternyata setelah kutelisik lebih lanjut, muadzin-muadzin itu, kecuali Pak Kadus Mantan yang terkenal alim, banyak tersandung berbagai masalah dalam hidupnya. Menginjak usia senja, karena sebab yang berbeda-beda, mereka bertobat dan akhirnya khusyu di masjid hingga menghembuskan nafas terakhir. Dalam hati aku bergumam, sungguh beruntung sekali mereka. Memang seperti itulah sebenarnya yang diinginkan banyak orang. Walau dalam hidupnya banyak bergelimang dosa, tetapi dapat mati dalam keaadaan yang baik dan mulia atau khusnul khotimah.

Tiba-tiba terbersit dalam benakku, untuk mengikuti jejak mereka. Ya, bukankah masa laluku juga banyak diliputi kekelaman, tak jauh berbeda dengan mereka. Tipu daya dan keculasan sering kulakukan untuk kepentingan bisnis hingga bisa hidup makmur seperti sekarang. Lagi pula, sudah lama aku ingin menyusul Laila, isteriku yang sangat kucintai. Di dunia ini, tanpa Laila, hidupku benar-benar hampa.

Ah, mulai sekarang, akan kuhidupkan kembali toa masjid itu. Aku ingin mengumandangkan adzan setiap waktu sholat tiba. Akan kuramaikan kembali denyut nadi masjid itu. Semoga, ini merupakan jalan yang ditunjukkan Allah untuk bertemu kembali dengan isteriku di surga.

***

Maka, hari-hari berikutnya, aku mengurus masjid itu. Membersihkan bagian dalam masjid dan juga lingkungan sekitarnya yang tampak kotor. Beberapa bagian lain yang rusak, juga kuperbaiki. Peralatan dan perlengkapan yang belum ada, telah kubelikan pula. Semuanya dengan uang dari kantongku sendiri. Aku benar-benar ingin menghabiskan masa tuaku dengan merawat dan menghidupkan rumah tuhan itu dengan harapan Gusti Allah cepat pula memanggilku dalam keadaan yang benar-benar khusnul khotimah.

Setiap fajar menjelang, saat warga kampung masih terbuai mimpi, aku sudah bergegas ke arah masjid. Mengambil air wudlu, kemudian saat waktu Subuh tiba, aku bergerak mengambil toa lantas mengumandangkan adzan dengan penuh khidmat, walau suaraku tiada bisa merdu seperti muadzin-muadzin kebanyakan. Demikan juga di waktu-waktu sholat lainnya, aku melakukan hal serupa. Masjid itu kembali terdengar gaungnya. Jama’ah masjid pun mulai bertambah sedikit demi sedikit.

Aku mulai mendengar bisik-bisik warga kampung tentang keberanianku menjadi muadzin ketujuh masjid itu. Mereka sepertinya menebak-nebak dan menghitung hari, kapan kematianku tiba. Aku justru senang sekali. Aku makin giat dan khusyu beribadah di masjid itu. Aku benar-benar siap menyambut ajalku.

Waktu terus berlalu, hari berganti hari hingga berbilang tahun, namun kematian yang kunantikan tak kunjung tiba. Aku hampir putus asa. Tetapi aku tak menyerah. Kini, dalam doaku, aku lebih tekun meminta kepada tuhan supaya kematianku dipercepat. Tuhan maha mendengar, hingga saat itupun akhirnya tiba.

Subuh itu, seperti biasanya, aku mengambil air wudlu untuk menuanaikan Sholat Subuh. Ketika beranjak dari tempat wudlu masuk ke dalam masjid, mendadak keseimbanganku hilang. Tempat itu memang berlumut dan licin sekali. Aku terpeleset, kepalaku membentur tembok. Aku merasa seperti ada hantaman maha berat melanda tubuhku. Mendadak semuanya gelap. Gelap sekali. Hingga aku merasakan sesuatu yang lain. Ya, aku merasa tercerabut dari jasadku pelan-pelan, kemudian semuanya terasa ringan. Aku seperti melayang-layang di udara. Kulihat, orang-orang mulai ramai mengerubungi seonggok jasad, jasadku sendiri. Aku sekarang telah mati. Izrail telah datang menjemputku. Rohku dibawanya berputar-putar, melayang-layang bagai kapas tertiup angin, menuju surga yang kunantikan.

Aku melihat tempat itu. Ya, surga yang selama ini kunantikan. Disana, semuanya terasa berjalan dengan tenang dan damai. Aku melihat Laila, isteriku, tampak bahagia sekali. Ia tersenyum dan melambaikan tangan kepadaku. Aku membalas lambaian tangannya. Aku juga seperti mengenal baik orang-orang yang wajahnya tampak cerah dan bersinar itu. Mereka adalah muadzin-muadzin pendahuluku. Mereka juga terlihat bahagia menghuni surga. Aku senang sekali, sebentar lagi, aku akan segera bergabung dengan mereka disana.

Tetapi tak seperti yang kuduga, Izrail ternyata hanya melewati surga, tak meninggalkanku di tempat teduh itu. Aku dibawanya terus melayang, hingga ke suatu tempat yang sangat mengerikan. Jurang yang begitu dalam dengan api berkobar menyala-nyala. Berkali-kali kudengar lolongan dan rintihan orang yang disiksa. Sungguh! Aku sangat takut.

“Tempatmu disini. Engkau akan menghuninya sampai beberapa waktu ?”

Aku merinding sekali. Aku tak mau tinggal di tempat ini. Rohku meronta-ronta.

“Mengapa aku ditempatkan disini, padahal aku selalu memuliakan dan beribadah di masjid setiap waktu ?”

“Benar, engkau selalu melaksanakan perintah-perintah tuhan dengan baik, tetapi niatmu keliru. Padahal, segala amal ibadah itu dihitung berdasarkan niatnya. Masih banyak kewajibanmu di dunia yang harus kautunaikan dan kau sebenarnya bisa memetik lebih banyak pahala dari itu semua. Tahukah kau, mengharap mati dan melakukan suatu perbuatan yang meyebabkan mati itu adalah dosa besar.”

Rohku semakin meronta-ronta. Aku tak mau dilemparkan ke dalam api neraka. Aku menangis, memohon kepada Izrail untuk dikembalikan ke dunia, menebus kesalahan-kesalahanku. Tetapi semuanya telah terlambat.

“Untuk sementara waktu, tempatmu di neraka, wahai manusia…”

Rohku dilemparkannya ke dalam neraka. Segala kengerian menyambutku dibawah sana. Aku menjerit panjang. Sontak aku tersadar, ketika semua mata itu memandangku dengan harap-harap cemas. Ruangan yang sepertinya kukenal betul, bukan di neraka. Aku merasa bisa menghirup udara segar. Kulihat anak dan cucuku berkumpul di sekelilingku. Anak bungsuku mendekat, matanya tampak berkabut, kemudian mengelus-elus tanganku.

“Alhamdulillah, Ayah telah sadar”

Aku seperti terbangun dari mimpi buruk. Nafasku tersengal-sengal. Rasa takutku tak juga hilang. Aku merasa banyak makhluk ghaib mengikuti hingga ke kamar ini. Mereka mengintipku dari setiap lubang yang ada dengan mata menyala-nyala menakutkan, siap menyeretku ke tempat mengerikan itu sewaktu-waktu.

Kp, Desember 2010


catatan :

muadzin : orang yang mengumandangkan adzan di masjid

MERTUA DAN MENANTU

(Dimuat di Minggu Pagi no. 17 Minggu IV Juli 2011)

Hampir setiap pagi, suami isteri itu selalu dongkol dan menahan marah. Betapa tidak, mereka sudah semenjak Subuh tadi sibuk melakukan pekerjaan rumah tangga, menantunya masih meringkuk lelap di kamarnya. Sedang anak lelakinya, suami perempuan manja itu, sudah beberapa jam yang lalu berangkat memutar dagangannya ke toko-toko dan warung-warung di daerah itu. Ya, sudah beberapa hari ini, Handoyo mencoba peruntungan sebagai distributor barang-barang kebutuhan rumah tangga. Ia mengambil barang-barang tersebut di pusat kota dengan harga murah, kemudian mengedarkannya ke berbagai tempat tersebut dengan selisih harga yang lebih mahal.
“Keterlaluan sekali Bu, menantu kita itu, masak sudah jam segini belum juga bangun ?,” Pak Darminto mulai menggerutu.
Lha, gimana lagi Pak, Dia pilihan anakmu. Dari dulu sudah kuperingatkan agar tak Kamu ijinkan dia menikahi perempuan itu. Nyatanya kelakuannya seperti ini, setiap hari bikin mangkel saja,” Bu Darminto menyahut gerutu suaminya, dengan nada tinggi.
“Ah, mengapa Aku yang malah disalahkan. Kamu juga salah Bu, terlalu memanjakan si Han, sehingga tak pernah mau menurut perintah orang tua,” sergah Pak Darminto membela diri.
“Ah, Bapak ini selau begitu, tak mau disalahkan,” isterinya bersungut-sungut.
“Sudahlah Bu, jangan saling menyalahkan. Mungkin memang kita harus lebih bersabar. Kalau kita tegur si Narti, juga serba salah. Ia akan mengadu kepada suaminya, ujung-ujungnya malah kita yang bertengkar dengan anak sendiri. Mudah-mudahan seiring berjalannya waktu, menantu kita itu akan mengubah sifat-sifat buruknya,” Pak Darminto terlihat mulai bijak, sedang isterinya tampak masih belum bisa meredam kejengkelannya.
Suami isteri itu kemudian terdiam, mencoba berdamai dengan kedongkolan yang berkecamuk di dada mereka masing-masing. Tiba-tiba pintu kamar anaknya terbuka. Sunarti yang baru bangun tidur, dengan cuek dan mata masih mengantuk keluar kamar, berjalan menuju kamar mandi. Bu Darminto mengelus dada, sedang sang suami memalingkan muka, walau sebenarnya tak bisa dipungkiri, matanya melirik ke tubuh sintal Sunarti. Ya, tentu saja, menantunya itu keluar kamar dengan tubuh yang nyaris terbuka, hanya mengenakan tank top dan celana dalam tipis, terlihat jelas lekuk dan tubuh kuning langsatnya yang mulus.
Bu Darminto makin uring-uringan. Ia memandang suaminya, ada rasa cemburu di hatinya. Suaminya salah tingkah. “Eh Bu, Aku ke sawah saja dulu, matahari sudah makin tinggi.”
Hari merambat siang, dan keadaan seperti itu selalu mengulang hari-hari kemarin dan akan berulang kembali di hari-hari selanjutnya.
***
Handoyo pertama kali bertemu dengan Sunarti di sebuah counter HP. Mereka sama-sama kehabisan pulsa ketika itu. Selanjutnya mereka saling berkenalan, dan bertukar nomor HP. Handoyo merasa jatuh cinta pada pandangan pertama dengan gadis manis berbandal sintal kemanja-manjaan itu. Tiap hari ia datangi rumah Sunarti, yang ternyata tidak terlalu jauh dari rumahnya. Seminggu kemudian, di hadapan kedua orang tuanya, ia utarakan keinginannya melamar pujaan hatinya tersebut. Pak dan Bu Darminto tentu saja terkejut, tak pernah terlihat berpacaran dengan seorang perempuanpun, tiba-tiba saja anaknya itu minta dinikahkan. Lebih terkejut lagi, setelah tahu bahwa gadis yang dicintai oleh Handoyo adalah anak dari seseorang yang pernah bersinggungan dengan masa lalu pasangan suami isteri itu.
“Pokoknya Aku tidak setuju, Kamu menikahi gadis itu. Ibu punya firasat ia bukan perempuan baik-baik untukmu,” Bu Darminto mengutarakan ketidaksukaannya. “Lagi pula, Kamu mengenalnya kan baru sebentar, belum tahu banyak hal tentang dia to ?” suaminya menambahkan.
“Setuju atau tidak setuju, Aku tetap akan menikahi Sunarti. Kalau Bapak dan Ibu tidak mau melamarkan, akan kulamar sendiri ia pada orang tuanya,” Handoyo ngotot dengan keinginannya.
Demikianlah, setelah berdebat panjang, Handoyo tak surut langkah dengan keinginannya, akhirnya Pak dan Bu Darminto terpaksa memenuhi keinginan putera bungsunya itu. Apalagi setelah Handoyo mengancam akan meninggalkan rumah, apabila tetap tidak direstui meminang Sunarti. Maka, berlangsunglah kemudian acara lamaran itu. Beberapa hari setelahnya, dengan acara sederhana pula, yang cuma dihadiri kerabat dekat dan tetangga kanan kiri, Handoyo resmi menikahi Sunarti.
Banyak hal sebenarnya mengganjal di hati Pak dan Bu Darminto tentang pernikahan anaknya itu, terutama bagi Bu Darminto. Ya, betapa tidak, ternyata ibu Sunarti, dahulu kala adalah kekasih Pak Darminto. Seperti kasak-kusuk yang terdengar kemudian diantara para tetangga, dulu Pak Darminto dan ibu Sunarti adalah sepasang kekasih yang di mabuk cinta. Tetapi sayang, cinta mereka akhirnya kandas di tengah jalan. Pak Darminto tidak dapat membantah perintah orang tua, bahwa ia telah dijodohkan dengan gadis pilihan orang tuanya, ibunya Handoyo sekarang. Menurut cerita, setelah mengetahui kekasih hatinya itu menikah, ibu Sunarti seperti putus asa berkepanjangan hingga hampir gila. Pihak keluarga akhirnya membawa ibu Sunarti ke Jakarta, ke tempat saudara jauhnya, agar dapat melupakan kegagalan cintanya yang pahit itu.
Demikianlah, lama tak terdengar kabarnya, beberapa tahun yang lalu, ibu Sunarti pulang kembali ke tempat asalnya dengan membawa seorang anak gadis molek yang telah menginjak dewasa, anak kandungnya, yang sungguh mirip dengan dirinya di kala muda. Konon di Jakarta, ia pernah menikah dengan seseorang, tetapi takdir menghendaki bahwa suaminya meninggal akibat suatu penyakit berat. Merasa kesulitan mencari penghasilan di kota besar, akhirnya ibu Sunarti kembali pulang ke kampung halaman.
Cerita itu terdengar pula oleh Handoyo kemudian. Namun tetap tak mengurangi cintanya kepada Sunarti. Ia tetap menyayangi Sunarti, bahkan makin memanjakannya, hingga sering membuat ia harus beradu mulut dengan kedua orang tuanya, terutama dengan ibunya, yang sedari mula memang terang-terangan menyatakan ketidaksukaannya kepada menantunya itu.
***
“Pak, kamu dengar nggak gunjingan tetangga kiri kanan,” pagi-pagi Bu Darminto sudah kembali berbicara dengan nada keras.
“Gunjingan apa to Bu ?” Pak Darminto menjawab dengan agak acuh.
Ealah Bapak ini, pura-pura nggak tahu saja,” Bu Darminto terlihat mulai sewot. “Itu lho tentang kelakuan menantu ayumu. Dandanannya itu, kayak perek saja. Rambutnya disemir warna-warni, keluar rumah dengan pakaian minim, dan ini sungguh yang membuatku muak, perempuan kok nggak malu kemana-mana merokok klecas-klecis. Apa dia nggak tahu, duit yang ia hamburkan untuk itu semua berasal dari hasil kerja keras suaminya seharian.”
“Lalu, aku harus bagaimana ? Kalau Narti kutegur, yang marah malah si Han. Aku bosan bertengkar terus dengan anak sendiri “
Memang begitulah, suami isteri itu tak tahu harus berbuat apa terhadap menantunya, selain hanya bisa menahan dongkol di dalam hati. Beberapa kali ia menasehati Sunarti agar mengubah kebiasaan buruknya, tetapi tak digubris sama sekali, malah ia sering mengadu macam-macam kepada Handoyo, bahwa ia sering diperlakukan tidak baik oleh mertuanya. Handoyo langsung marah kepada orang tuanya, bila mendengar pengaduan seperti itu. Pak dan Bu Darminto, sekali lagi, hanya bisa mengurut dada, memperpanjang kesabaran.
Mereka sebenarnya merasa kasihan dengan anaknya tersebut. Handoyo adalah pekerja keras, namun selalu luput dari keberuntungan dan nasib baik. Berbagai usaha dilakoni, tak kenal lelah, tetapi hasil yang dituai tak juga memuaskan. Kakak-kakaknya sudah mentas semua, mempunyai rumah sendiri-sendiri. Tinggal dia seorang yang menemani mereka berdua. Kini, sekali kenal perempuan kemudian dijadikan isteri, ternyata tak bisa dikatakan sebagai perempuan baik-baik pula yang ia dapatkan.
***
Dua tahun lebih rumah tangga Handoyo dan Sunarti berjalan, namun belum juga dikarunia anak. Mereka tidak mempunyai masalah dengan kehidupan seksual. Sunarti beberapa beberapa kali dikatakan positip hamil, tetapi entah mengapa janin yang dikandungnya selalu mengalami keguguran.
Suatu hari, Sunarti mengadu kepada suaminya bahwa ia sudah tidak betah tinggal satu rumah dengan mertuanya. Ia merasa tertekan selalu dipandang rendah oleh mereka. Sunarti mengatakan bila kandungannya mengalami keguguran berkali-kali, karena ia berpikir terlalu berat dan tidak bisa bebas melakukan ini itu, juga akibat tekanan mental dari mertuanya. Perempuan itu mengiba kepada suaminya agar mencari rumah kontrakan saja, supaya nanti janin dalam kandungannya bisa diselamatkan.
Akhirnya, Handoyo memutuskan tinggal di rumah kontrakan. Pak dan Bu Darminto tak kuasa menahannya. Ada rasa senang sebenarnya di hati kecil mereka, bisa lepas dari seseorang yang selama ini membuat dongkol dan sebah, namun juga ada rasa tak tega pula, sebab harus membiarkan anak bungsunya tidak bersama mereka lagi.
Tetapi sebetulnya mereka tidak benar-benar jauh dari anak dan menantunya tersebut. Rumah yang dikontrak Handoyo masih satu lingkup dengan daerah itu. Handoyo pun pada siang hari, sesekali mampir ke rumah, mengambil barang dagangan yang memang sebagian masih ia taruh disitu. Terkadang pula, sehabis pulang dari sawah, Pak Handoyo menyempatkan diri menengok rumah kontrakan Handoyo, membawakan makanan atau sekedar menengok saja. Hanya Bu Darminto yang benar-benar tak sudi bertemu dengan menantunya lagi.
Beberapa bulan setelah tinggal di rumah kontrakan, Sunarti kembali positip hamil. Kali ini Handoyo betul-betul menjaganya, takut keguguran lagi. Dan benar, perut Sunarti semakin membesar, tampaknya kehamilan kali ini dapat diselamatkan. Handoyo senang bukan kepalang, ternyata keputusannya tinggal di rumah kontrakan adalah benar. Lelaki muda itu makin giat bekerja, tak kenal lelah ia memasarkan barang dagangannya setiap hari. Ia berharap, mempunyai uang yang cukup untuk biaya persalinan dan membesarkan anaknya nanti.
***
Siang yang garang, matahari benar-benar terik menyengat bumi. Bu Darminto sibuk sendirian di rumah. Suaminya dari pagi sampai tengah hari ini pergi ke sawah dan belum pulang. Entah apa yang membuat hati Bu Darminto tiba-tiba ingat menantunya yang sedang hamil. Perempuan paruh baya itu merasa bersalah, terlalu membenci Sunarti, hanya karena ia adalah anak dari seorang yang dulu pernah begitu lama mengisi hati suaminya.
Bu Darminto ingin menebus kesalahannya selama ini. Bagaimanapun juga Sunarti telah menjadi isteri anaknya, yang kelak akan menjadi ibu pula dari cucu-cucunya. Ia memasak bermacam-acam makanan. Sebelum mengantarkan ransum untuk suaminya ke sawah, ia mampir dulu ke rumah kontrakan Handoyo, memberikan sebagian hasil masakannya itu kepada anak dan menantunya.
Rumah kontrakan Handoyo begitu lengang. Handoyo pasti sedang memutar dagangannya di luar. Bu Darminto bergegas mengetuk pintu depan, tampak ia kerepotan karena membawa beberapa kotak makanan. Mendadak kegembiraannya sirna, berubah menjadi curiga dan amarah begitu melihat sebuah sepeda motor butut tersembunyi di samping rumah. Ya, itu adalah sepeda motor tua yang biasa dipakai suaminya pergi ke sawah, yang letaknya memang agak jauh dari rumahnya.
Sontak ia buka pintu depan yang tidak terkunci, kemudian berlari ke kamar yang cuma satu-satunya, dan mendapati pemandangan yang sungguh membuat bara di dadanya kembali menyala hebat. Di ranjang itu, laki-laki yang puluhan tahun setia ia dampingi sedang bermesraan dengan menantunya yang hamil tua.
Siang yang terik dan udara yang gerah, seperti mengalirkan energi panas ke sekujur tubuh Bu Darminto, naik sampai ke ubun-ubun.

Senin, 28 Maret 2011

PELAJARAN MENJADI BAHAGIA

(dimuat di Harian Global Medan, Tanggal 26 Maret 2011)


“Jadilah orang yang selalu berbahagia, sebab itu sesuatu yang mahal harganya, melebihi kekayaan apapun” demikian nasehat Bapak yang sering diucapkan kepada anak-anaknya. Hari ini, kata-kata Bapak itu seperti berdengung-dengung kembali di telingaku.

Tadi Subuh, Lik Warso tiba-tiba meneloponku dari Kota S, “Bapakmu kembali sakit, Win. Sebaiknya sesegera mungkin Kamu pulang !”

Aku membodoh-bodohi diriku sendiri, mengapa tidak bertanya lebih lanjut tentang sakitnya Bapak. Mau telepon balik, aku juga ragu. Lik Warso, mulai pikun dan sering kebingungan bila menjawab telepon. Lagi pula ia tidak punya alat komunikasi sendiri. Tentu, tadi pagi ia diantar ke wartel atau dipinjami HP oleh tetangganya.

Bapak memang sering sakit-sakitan. Beberapa bulan terakhir, intensitas sakitnya bertambah padat. Dalam satu minggu, aku bisa tiga kali bolak-balik antara Kota W dan Kota S. Memang jarak tersebut sebenarnya tidaklah terlalu jauh, tetapi pekerjaanku tidak mungkin kutinggalkan begitu saja. Jika kupaksa ngelajo, kondisi badanku juga kurang mendukung. Akhir-akhir ini aku sering kecapaian.

Terakhir kali aku pulang ke Kota S tiga hari lalu. Bapak terlihat lumayan sehat dari biasanya, cuma batuk-batuk kecil saja. Tetapi aku merasa ada perilaku yang aneh pada dirinya. Bapak seperti ingin selalu dekat denganku. Waktu aku pamit kembali ke Kota W, ia juga agak berat melepasku. Mendadak, aku seperti mendapat firasat buruk. Jangan-jangan telepon Lik Warso, hanyalah penghalus bahasa belaka, bahwa Bapak telah……

Ah, kutepis jauh-jauh pikiran buruk itu. Aku segera memacu sepeda motor tuaku menuju stasiun Kota W. Pagi ini, dengan pramex semoga aku lebih cepat sampai ke Kota S.

***

Matahari bersinar cerah, meskipun terlihat agak mendung di langit timur sana. Aku tiba di stasiun pukul 09.10 tepat. Masih banyak waktu, pikirku. Baru saja aku telepon sahabatku yang bekerja di sebuah stasiun radio, kereta api pramex jurusan K-S berhenti di Stasiun Kota W sekitar pukul setengah sepuluhan. Aku memang jarang menggunakan alat transportasi yang satu ini. Aku lebih suka naik bus, sekalian dapat menghapal ruas-ruas jalan yang belum kukenal baik. Hanya karena sering mendengar omongan orang, bahwa naik pramex itu lebih nyaman dan cepat sampai tujuan, hari ini aku mencobanya.

Aku terkejut melihat jadwal kereta yang terpampang di sebelah loket. Pramex terakhir berangkat jam 9.04 tadi.

“Kereta api pramex sudah berangkat ya Mas ?”

“Baru saja meluncur tuh, Mas ?”

Petugas loket karcis itu menjawab sekenanya, tanpa menoleh ke arahku. Dalam hati aku dongkol bukan main. Di saat diburu waktu begini, aku mendapat pelayanan yang kurang mengenakan. Tetapi aku kembali teringat kata-kata Bapak. Sabar dalam keadaan dan situasi apapun adalah salah satu kunci meraih kebahagian. Dan seperti yang kulihat selama ini, Bapak adalah orang paling sabar yang pernah kukenal. Itulah pelajaran pertama dari Bapak tentang bagaimana menjadi manusia yang berbahagia.

“Kalau mau ke Kota S, yang paling duluan kereta api apa ya Mas ?”

“Sebentar lagi kereta api ekonomi L lewat. Masnya bisa naik kereta api itu, pakai tarif sampai Kota M.”

Akhirnya, dengan ongkos yang lumayan murah, aku memutuskan naik kereta api ekonomi tersebut. Setelah interaksi lebih lanjut, lama-lama aku simpati juga dengan petugas loket itu. Ia terlihat lelah, mungkin ia sedang lembur. Padahal ini musim liburan, penumpang kereta api lebih ramai daripada hari biasanya.

Aku teringat peristiwa beberapa tahun silam, ketika aku baru saja lulus kuliah. Ada oknum pegawai perusahaan kereta api mendatangi Bapak, berjanji bisa memasukanku sebagai karyawan asal disediakan uang dengan jumlah nominal yang tidak sedikit. Bapak menolak tawaran itu. Meski sudah menjadi rahasia umum, bahwa praktek kolusi seperti itu jamak terjadi di sekitar kita pada saat penerimaan pegawai negeri ataupun perusahaan pemerintah, beliau tetap tidak terpengaruh. Kalau punya uang sebanyak itu, lebih baik digunakan untuk usaha, dagang atau semacamnya daripada untuk nyogok. Mulanya aku kesal dengan sikap Bapak tersebut. Tetapi lama kelamaan, aku bisa mengerti dan bersyukur dengan pekerjaan-pekerjaan yang kujalani selama ini. Walau dengan gaji yang tidak besar, sepertinya aku lebih nyaman dibandingkan jika aku jadi bekerja di perusahaan kereta api dahulu. Lihatlah petugas loket itu, tampak lelah dan kuyu. Ia bekerja lebih keras dibandingkan diriku. Mungkin ia tidak sempat menikmati gajinya dengan gembira. Selalu terpikir untuk menutup biaya masuk ke perusahaan yang tidak sedikit jumlahnya. Sejenak aku bisa melupakan gundah, tertawa sendiri dalam hati.

Peluit panjang berbunyi, kereta api ekonomi L telah tiba dari barat. Penumpang mulai beranjak dari peron. Aku berbaur dengan kerumunan orang, menggapai kereta api yang mulai langsam. Wajah Bapak tetap menggantung dalam pikirku bersama-sama pelajaran-pelajarannya tentang kebahagiaan.

***

Lelaki paruh baya itu biasa dipanggil Mbah Sarji. Nama aslinya sebenarnya Sarjito. Tetapi sejak muda dahulu, ia memang telah dipanggil dengan embel-embel mbah, sesuatu yang menunjukan kedewasaan berpikir dan cara menyelesaikan masalah yang nuwani dibandingkan dengan kebanyakan orang lainnya. Ya, Mbah Sarji itulah Bapakku. Orang paling santai yang pernah kutemui di muka bumi ini. Lelaki yang selalu menerima keadaan apa adanya dengan penuh rasa syukur. Seorang Bapak dengan tujuh orang anak, yang selalu menasehatkan tentang pentingnya meraih sebuah kebahagiaan.

Aku bersyukur sekali punya orang tua seperti Mbah Sarji. Walau hidup menduda setelah Ibu wafat beberapa tahun yang lampau, ia tidak pernah bertingkah dan mengeluh macam-macam seperti orang tua pada umumnya di kala senja. Bapak tetap tegar dan melakukan aktivitas apa saja untuk mengisi hari-harinya di masa pensiun. Ia tidak pernah mempersoalkan anak-anaknya yang memutuskan berkarya dan membangun rumah tangga sendiri di berbagai kota yang jauh darinya. Ia sudah terbiasa hidup sendiri. Bahkan, ia juga tidak berkeluh kesah apabila di Hari Lebaran, hanya aku seorang yang bisa pulang ke rumah dan sungkem kepadanya.

Bapak selalu terlihat bahagia. Sedikit banyak hal itu membantuku mengurangi beban pikiran, yang akhir-akhir ini begitu tersita dengan beberapa persoalan pelik di sebuah lembaga swadaya masyarakat yang selama ini aku geluti. Di lingkungan tempat tinggalnya, Bapak sangat dihormati oleh tetangga sekitar karena sikap-sikapnya yang mudah dan mau bergaul dengan siapa saja. Selain itu, disana juga masih ada Lik Warso, saudara jauh sekaligus kawan setia Bapak semenjak muda yang setiap saat dapat kumintai tolong menjaga Bapak atau setidaknya memberitahuku kalau ada apa-apa dengan Bapak. Meskipun Bapak tidak pernah meminta, sebagai anak bungsu yang bermukim paling dekat dengannya, kadang aku merasa amat bersalah tidak bisa menemaninya setiap waktu akhir-akhir ini.

Dulu, Bapak adalah guru sekolah dasar. Sedang Ibu berjualan di pasar untuk membantu menopang ekonomi keluarga. Meski berstatus sebagai seorang pegawai negeri, jika dibandingkan nilai dan kebutuhan waktu itu, gaji Bapak tidaklah seberapa. Apalagi untuk menghidupi tujuh orang anak-anaknya. Berbeda jauh dengan jaman sekarang. Konon gaji pegawai negeri lumayan gede dengan berbagai tunjangan dan kemudahan yang menggiurkan. Untuk masukpun harus bersaing dengan ribuan orang lewat tes yang kadang tak jelas bagaimana penilaiannya. Oleh karena itu, Bapak tidak banyak berharap anak-anaknya sekolah tinggi ataupun kelak seperti dirinya berkarier sebagai aparat pemerintah dalam jangkauan yang lebih luas.

“Silakan kalau Kalian ingin sekolah tinggi, Bapak akan membantu. Tetapi dengan catatan, Kalian harus yakin dengan itu hidup Kalian akan menjadi lebih baik. Juga jangan setengah-tengah. Kalau nanggung, lebih baik Kalian belajar dari pengalaman hidup saja. Insyaallah, dengan keberanian dan kejujuran, hidup Kalian akan lebih bahagia”, demikan petuah Bapak lainnya yang masih kuingat.

Entah karena terpengaruh oleh omongan Bapak atau tidak, yang jelas dari ketujuh anaknya, hanya aku seorang yang merasakan bangku kuliah. Keenam kakakku hanya tamat SMA. Namun demikian, mereka dapat bekerja dan berkiprah baik di masyarakat dengan berbagai profesi. Ada yang menjadi pedagang, petani, wiraswasta dan juga pekerja swasta biasa di ibukota. Meski tidak terlihat keren, pekerjaan saudara-saudaraku tersebut terbilang layak jika dibandingkan dengan pekerjaan kebanyakan orang di kota kelahiranku itu.

Mungkin malah aku sendiri, yang dianggap tidak berhasil menurut pandangan orang-orang. Betapa tidak, lulus kuliah saja hampir sepuluh tahun. Itupun dengan nilai yang pas-pasan. Selama kurun itu, hampir tidak ada prestasi membanggakan yang dapat kuukir. Malah sering dicokok aparat keamanan, dijadikan target operasi. Tidak terhitung pula, aku keluar masuk tahanan polisi. Itu semua berkaitan dengan aktivitasku dalam kelompok mahasiswa yang menurut beberapa pihak terhitung radikal. Beberapa kali aku menjadi koordinator lapangan aksi demonstrasi besar. Pernah pula menggerakan aksi buruh dan tani menuntut hak-haknya yang terabaikan. Aku benar-benar telah merasakan pahit getirnya dunia aktivis mahasiswa.

Selepas kuliah pun, keberuntungan ternyata tidak banyak berpihak padaku. Setelah angin reformasi berhembus, banyak kawan-kawanku seperjuangan yang berhasil menjadi orang penting. Ada yang masuk dalam lingkaran kekuasaan, menjadi pejabat ataupun wakil rakyat. Ada pula yang berkarier sebagai pengacara, pengusaha dan berbagai profesi mentereng lainnya. Sedangkan diriku, bertahun-tahun luntang-lantung tanpa kerjaan. Akhirnya, berlabuh di sebuah lembaga swadaya masyarakat yang kembali harus bersinggungan dengan kekuasaan. Secara materi, aku juga belum mendapatkan sesuatu yang berarti dari jerih payahku selama ini. Namun jujur, sebenarnya aku bahagia dengan semua yang kulakukan ini.

Bapak tahu sepak terjangku. Namun ia tidak pernah mempersoalkan hal itu. Ia tidak mendukung ataupun melarang semua itu. Dan aku tahu diri, sebisa mungkin namanya tidak tersangkut dengan segala aktivitasku.

“Jika sesuatu itu menurutmu benar, maka lakukanlah. Tetapi setiap perbuatan itu ada resikonya. Berani berbuat, berani pula bertanggung jawab.” lanjut Bapak suatu kali.

Ah, Mbah Sarji. Meskipun hidupmu selalu terlihat enteng, semoga aku bisa memberikan kebahagiaan seperti yang benar-benar tersimpan dalam hati kecilmu.

***

Akhirnya, sampai juga aku di Stasiun J Kota S. Ya, setelah hampir tiga jam terperangkap dalam gerbong kereta api yang panas, berdesakan dengan para pengamen dan pedagang asongan. Terpikir olehku, andai saja aku tadi langsung pakai motor, tentu malah lebih cepat sampai ke tujuan. Kereta api ekonomi ini bergerak terlalu lambat, selalu berhenti di stasiun-stasiun kecil untuk menjejalkan penumpang.

Keluar dari Stasiun J, buru-buru kucegat ojeg yang mangkal di luar stasiun. Perasaanku makin tak enak. Aku ingin segera tahu keadaan Bapak. Rasa bersalah dan rindu yang tak biasa tiba-tiba menyergap dalam diriku. Kuminta tukang ojeg ini memacu motornya secepat mungkin. Aku turun dari ojek, tepat di gang sempit menuju tempat tinggal Bapak.

Siang agak redup, suasana terasa lengang. Entah kemana orang-orang, tak tampak tetangga kiri kanan. Setengah berlari kuhampiri rumah sederhana itu. Pintu dan jendelanya terkunci dan tertutup rapat. Kuketuk pintu pelan-pelan, sambil memanggil nama Bapak. Tak ada tanda-tanda ada orang di dalam rumah. Hatiku makin resah dan kemrungsung.

“Win, pulang juga rupanya Kamu ?!”

Aku kaget. Sosok tua yang badannya sedikit membungkuk itu muncul dari samping rumah. Terbatuk-batuk sambil memantik korek api, menghidupkan rokok kemenyan linting kesukaannya.

“Bapak tidak apa-apa ?”

“Hehe, Kaupikir aku mati ya ? Sebelum melihatmu menikah, Aku tak akan mati.”

Jawaban Bapak yang sekenanya dan terkesan bercanda itu, membuat hatiku berdesir. Walau hidupnya terlihat santai, ternyata Bapak masih memikirkanku yang hampir kepala empat ini belum juga berumah tangga. Ah, seandainya Bapak tahu keadaanku yang sesungguhnya. Sampai kini, aku tak pernah bisa menaruh hati kepada seorang perempuanpun yang ada di sekitarku. Aku mempunyai orientasi seksual yang berbeda dengan lelaki normal pada umumnya.

Mendadak, aku ingin menangis dan mohon ampun kepada Bapak.


Catatan :

- ngelajo : melakukan perjalanan rutin bolak-balik (misal : kerja, sekolah) dalam jarak yang cukup jauh

- nuwani : berlaku lebih dewasa

- kemrungsung : tergesa-gesa