Selasa, 21 Maret 2017

KTP

(cerpen ini merupakan versi asli, sebelum ada pengurangan di beberapa paragraf awal, dimuat di "Kedaulatan Rakyat", Minggu tanggal 19 Maret 2017)


Wartono benar-benar gusar. Keinginannya untuk segera  meminang Surtini, janda beranak dua itu, terancam gagal. Bukan karena ada pihak-pihak yang tidak menyetujui hubungan mereka, ataupun wanita idamannya itu berpaling ke laki-laki lain.  Tetapi hal sepele yang menjadi penyebabnya. Ya, sebuah KTP. Kartu Tanda Penduduk yang tak kunjung diperolehnya, padahal benda itu menjadi salah satu syarat utama mengurus berkas-berkas pernikahan.

Sebenarnya persiapan Wartono sudah matang. Jauh-jauh hari ia sudah mencicil apa saja yang harus dipenuhi untuk mendapatkan pengesahan pernikahannya itu nanti.  Surtini yang sudah lima tahun menjanda pun tampak bahagia akan dipersunting lelaki yang masih jejaka, walaupun usianya tak muda lagi, lima tahunan di atasnya. Ya, Wartono bisa dibilang telat menikah. Usianya sudah sedikit diatas empat puluh tahun.  Di usia itu, seumur hidupnya ia belum pernah memiliki KTP. Ia merasa terlempar ke sisi paling kelam dari hidupnya bila mendengar istilah KTP. Wartono ingin bebas dan tidak tergantung dengan benda itu. Ia ingin membuktikan bahwa tanpa tanda pengenal yang melekat di tubuhnya ia bisa mencari penghidupan yang baik.

Kenangan-kenangan buruk itu melekat erat di ingatan Wartono. Tak bisa dilupakan, apalagi dihapus selamanya dari hidupnya. Tentang kedua orangtuanya, bapak dan simboknya, petani desa biasa yang kebetulan bisa sedikit bermain peran, sandiwara ataupun kethoprak, menjadi korban sesuatu yang tidak dipahaminya. Mereka tahu-tahu sudah masuk lingkaran, dicap sebagai pendosa dan pengkhianat oleh penguasa dan orang-orang disekitarnya. Masuk penjara beberapa saat, dan begitu keluar ada tanda khusus di kartu tanda penduduk atau KTPnya.

Tanda itu bertahun-tahun menghantui ia dan keluarganya. Perbedaan perlakuan dalam banyak hal dari lingkungan sekitar benar-benar dirasakannya. Ia dan kakak-kakaknya kesulitan dalam mencari pekerjaan, apalagi di instansi pemerintah. Ia yang sebenarnya ingin menjadi tentara mengurungkan niatnya, hanya karena ada tanda itu di KTP orang tuanya. Yang lebih parah lagi, kakak perempuannya gagal menikah, karena calon suaminya yang seorang tentara disyaratkan untuk tidak menikah dengan wanita anak dari orangtua yang mempunyai tanda khusus di KTPnya itu. Kakak perempuannya itu menjadi gila, dan menjadi penghuni rumah sakit jiwa sampai meninggal dunia. Bapak dan simboknyapun meninggal dunia sebagai orang yang dinilai berbuat salah kepada negara oleh orang-orang disekitarnya.

Tahun demi tahun terus bergulir, dan keadaan politikpun berubah. Pemerintah telah menghapus tanda itu, juga dosa dari orang-orang yang mempunyai KTP dengan tanda khusus itu. Namun,  hati Wartono kadung terluka. Ia bersumpah tak akan mencari KTP seumur hidupnya. Dengan jalan apa saja ia mencari penghidupan, mulai dari buruh ini itu sampai jualan apa saja. Sampai dengan kini, ia berjumpa dengan wanita yang sanggup meluluhkan hatinya yang sudah beku selama bertahun-tahun. Namun, untuk memiliki seutuhnya wanita itu, lagi-lagi ia harus berurusan dengan benda yang dibencinya itu.
****
Kang, jangan keras kepala begitu. Kita ini orang kecil, ikut aturan saja. Tidak usah bertingkah yang aneh-aneh, kata Surtini suatu ketika, begitu tahu Wartono tidak mau mencari KTP sebagai salah satu syarat mendaftarkan pernikahannya.

Lagi pula, menurut Pak Dukuh, sekarang bikin KTP itu mudah. Tidak ribet kayak dulu, cuma sekali seumur hidup, sudah elektronik katanya, lanjut wanita itu kemudian, membujuk calon suaminya.

Baiklah, kalau memang harus begitu. Sebenarnya Aku enggan berurusan dengan hal begini. Kalau tidak mengingat hubungan kita, Aku tak sudi mencari benda itu, demikianlah, akhirnya Wartono luluh juga, bersedia mencari KTP.

Awalnya, dengan setengah hati Wartono pergi mencari benda yang dibencinya itu. Namun lama-lama, ia berubah menjadi lebih bersemangat. Ternyata, keadaan memang sudah berubah. Birokrasi pemerintah tidak seburuk yang dibayangkannya. Tanpa uang sepeserpun, ia mencari surat pengantar dari tingkat RT, pedukuhan, desa, hingga akhirnya di tingkat kecamatan.

Kalau saja dulu keadaannya seperti ini, hidupku tentu tak sesulit ini, batin Wartono dalam hati.

Begini ya Pak Wartono, petugas pelayanan pembuatan KTP yang cantik itu menghentak lamunan Wartono, Data dan foto Pak Wartono sudah masuk, ini saya buat surat keterangan untuk pengambilannya nanti. Seminggu lagi Bapak kesini mengambil KTPnya,

Wah, terima kasih Mbak, eh Bu.Ternyata cari KTP itu mudah, Wartono girang bukan kepalang. Terbayang ia akan segera bersanding di pelaminan dengan Surtini.
***
Satu minggu telah berlalu. Wartono berkata kepada Surtini akan mengambil KTP elektronik di kantor kecamatan.

Surti, Kamu pasti akan pangling dengan fotoku di KTP nanti. Tidak kalah ganteng  dengan bintang sinetron yang Kamu kagumi itu, Wartono menggoda Surtini.

Ah, kita sudah sama-sama tua Kang. Tidak usah berlagak seperti anak muda. Sana cepat ambil KTPnya, keburu tutup nanti kantornya! balas Surtini sambil mencubit pinggang Wartono. Wartono terlonjak, sambil tertawa riang berkali-kali ia peluk calon isterinya itu.

Namun, keriangan Wartono berangsur surut, begitu tiba di kantor kecamatan, petugas yang cantik itu mengatakan bahwa KTP Wartono belum bisa jadi sekarang karena antrean warga yang minta dibuatkan KTP elektronik terlalu banyak.

Satu bulan lagi Bapak kesini, bawa surat keterangan yang kemarin itu kata petugas itu kemudian.

Wartono pulang dengan tangan hampa. Harapannya untuk memperoleh KTP belum kesampaian. Namun ia cukup tenang, masih ada waktu beberapa bulan ke depan, sebelum waktu yang dirancangnya untuk melangsungkan pernikahan dengan Surtini tiba.
****
Satu bulan kemudian, Wartono dengan penuh harap datang kembali ke kantor kecamatan. Namun, petugas cantik yang melayaninya dulu, sudah diganti dengan orang lain, seorang laki-laki setengah baya yang terlihat kikuk dalam banyak hal.

Dan sekali lagi, Wartono harus menelan kekecewaan. KTP elektronik yang diharapkannya belum jadi juga.

Waduh, maaf Pak. Blangko untuk mencetak KTP elektronik habis, Kita sedang menunggu kiriman dari pusat, warga yang minta dibuatkan KTP banyak soalnya, kata laki-laki itu.

Terus bagaimana dong Pak, sampai kapan saya harus menunggu? Bukan apa-apa, tapi KTP itu penting buat Saya untuk saat ini! Wartono mulai gusar.

Begini saja Pak, daripada Bapak ribet bolak-balik ke kantor kecamatan, biar nanti saya  serahkan KTP Bapak ke Pak Dukuh kalau sudah jadi. Bapak bisa langsung mengambilnya di tempat Pak Dukuh saja, saran petugas itu kemudian.

Akhirnya, Wartono menyetujui saran petugas pelayanan pembuatan KTP tersebut. Wartono kembali pulang dengan hampa, tanpa KTP di tangannnya.
****
Demikianlah, awal mula kegusaran Wartono. Ia merasa dipermainkan oleh keadaan sebagai rakyat kecil. Kepercayaannya yang mulai tumbuh pada elemen pemerintah menjadi kembali berkurang.

Sudah berkali-kali ia mendatangi rumah Pak Dukuh menanyakan apakah KTP elektroniknya sudah jadi, jawaban Pak Dukuh tetaplah sama bahwa ia diminta sabar menunggu, nanti kalau sudah jadi, ia sendiri yang akan mengantarnya langsung ke rumah Wartono.

Namun sudah berbulan-bulan, bahkan hampir mendekati satu tahun dari awal ia mengajukannya dulu, tak ada kabar bahwa KTP elektroniknya itu akan segera jadi, padahal waktu yang dirancangnya bersama Surtini untuk melangsungkan pernikahan sudah semakin dekat
****
Siang itu, udara terasa panas. Matahari bersinar begitu teriknya. Wartono sedang bersantai di beranda rumahnya, ditemani seorang wanita, sementara terlihat dua anak kecil bermain-main di dalam rumah. Ya, wanita itu adalah Surtini yang kini telah menjadi isterinya, sedang anak-anak kecil itu adalah anak-anak Surtini yang ikut dengannya, telah diangggap anak kandung sendiri oleh Wartono.

Akhirnya, Wartono dan Surtini memang bisa menikah secara resmi. KTP sebagai salah satu syarat kelengkapan untuk mengajukan berkas pernikahan ke instansi yang berwenang bisa ia peroleh juga, namun itu bukan KTP elektronik melainkan sebuah KTP sementara sebagai pengganti tanda pengenal sebelum yang elektronik jadi. KTP sementara itu dicetak dengan kertas biasa, foto Wartono terlihat kabur di dalamnya.

Sayup-sayup di televisi terdengar berita yang akhir-akhir ini menghebohkan, tentang korupsi besar-besaran yang dilakukan oleh pejabat negara dari berbagai kalangan. Ya, berita tentang mega korupsi proyek KTP elektronik nasional itu.

Mendadak, lelaki itu bangkit dari duduknya. Ia keluarkan dompet lusuh dari saku belakang celananya. Dengan rasa geram ia sobek sebuah kertas persegi panjang dari dalam dompet itu, kemudian ia lemparkan dengan keras ke dalam bak sampah.

Surtini kaget. Wartono merasa bapak dan simboknya,  juga kakak perempuannya yang telah tiada tersenyum bangga dengan apa yang ia lakukan. ●

Sabtu, 30 November 2013

MENUNGGU EMAK PULANG

(dapat ditemukan di Antologi "Kota Tanpa Wajah"

Emak tak juga pulang. Aku sudah lama menunggu. Ah, bukan lagi menunggu seperti waktu kecil dulu, aku sering ia tinggal pergi diam-diam tiap malam. Tetapi aku kini sudah letih menantinya, dari waktu ke waktu, hari ke hari, dan seterusnya hingga berbilang tahun. Emak tak pernah kembali ke rumah ini.

Malam sudah larut. Udara gerah sekali. Mungkin sebentar lagi turun hujan. Aku hanya berdua saja dengan Maja, adikku, di rumah ini. Terdengar sayup suara gelak tawa dari warung Yu Tum di kejauhan. Orang-orang sedang melempar kartu sambil menenggak minuman keras. Mungkin bapak  juga ada disana. Setiap malam ia tidak pernah ada di rumah. Kata orang-orang, bapak sibuk mengencani Yu Tum, janda muda yang genit itu.

Maja tertidur pulas, tampaknya ia kelelahan. Aku kasihan dengan adikku itu. Ia sering menangis, menanyakan kepulangan emak. Maja rindu emak, mengapa emak tak pulang-pulang. Aku memberikan pengertian kepadanya. Emak sedang pergi jauh ke kota, mencari uang buat kita. Nanti kalau sudah terkumpul banyak, emak pasti akan kembali dan membangunkan rumah yang bagus buat kita.

Tetapi lain dengan bapak. Bila Maja menangis dan bertanya kepadanya tentang emak, muka bapak menjadi merah padam, diliputi amarah. Tak tanggung-tanggung kemarahannya. Perabotan rumah pun kemudian bisa hancur berantakan dibuatnya.

“Kamu tak punya Emak. Akulah orang tuamu satu-satunya.”

Adikku takut sekali dengan Bapak.

Aku masih ingat, bertahun lampau, ketika untuk pertama kalinya emak pergi meninggalkan kami. Merantau ke kota. Ada tawaran sebagai pembantu rumah tangga dari orang kaya yang kebetulan berasal dari desaku sendiri. Bapak mengizinkan emak mengadu nasib ke kota, demi memperbaiki keadaan ekonomi keluarga yang tidak menentu. Bapak memang hanya seorang buruh serabutan, yang kerjanya tidak tetap, tergantung ada atau tidak orang yang membutuhkan tenaganya. Masih kuingat betul, waktu itu aku berumur lima tahun, sedang Maja baru berjalan dua tahun.

Dulu, emak selalu rutin tiap bulan mengirim uang ke rumah. Jumlahnya memang tidak seberapa, tetapi kalau saja bapak tidak punya kebiasaan buruk, judi dan mabuk-mabukan, tentu keadaan keluarga ini bisa berubah. Punya ini itu dan sekolahkupun bisa lancar. Bapak terus saja begitu, aku yang paling merasakan akibatnya. Ditinggal emak dan harus merawat Maja seorang diri. Juga perilaku Bapak yang kasar dan selalu uring-uringan jika sudah menenggak alkohol dan kehabisan uang. Aku sering menangis dalam hati. Ingin rasanya  meninggalkan rumah ini andai saja tak sayang Maja yang masih kecil.

Awalnya, emak sebenarnya selalu menengok rumah. Walau cuma sesaat, dua bulan sekali ia pasti pulang. Kuingat juga, dua lebaran ia selalu mudik ke kampung.  Tetapi jika emak pulang, bapak pasti mengajaknya bertengkar. Ada saja yang diributkan. Entah uang dari emak yang dianggap kurang atau menyoal apa saja yang dilakukan emak di kota. Bapak selalu curiga, emak berbuat hal yang tidak benar di sana. Kalau sudah begitu, pertengkaran hebat tak bisa dihindari. Ujungnya-ujungnya, emak menangis dan buru-buru kembali kota. Aku kasihan sekali dengan emak. Ia sudah bekerja keras, tetapi tidak pernah dipercayai oleh bapak. Aku kemudian berpikir, memang lebih baik emak tidak terlalu sering menengok rumah. Biasanya kalau tak pernah bertemu lama, hati bapak menjadi lembut terhadap emak.

Malam terus merambat.

Kutengok jam dinding tua di ruang depan, pukul 02.00 dini hari. Tak juga turun hujan, udara makin terasa gerah. Gelak tawa dari warung Yu Tum masih saja terdengar. Aku kadang heran terhadap pembiaran warga kampung terhadap warung yang nyata-nyata digunakan untuk hal yang tak baik itu. Mungkin mereka takut. Aku pernah dengar, beberapa orang penting dari kota kabupaten sering terlihat  menyambangi tempat itu.

Warung itu jugalah, salah satu yang membuat berantakan rumah tangga bapak dan emak. Betapa tidak, bapak lebih banyak berdiam disana daripada di rumah. Berjudi, mabuk-mabukan dan yang sering membuat emak berang kemudian menangis sesenggukan, bapak juga suka main perempuan. Entah, sudah berapa perempuan tidak baik yang ia tiduri. Bahkan, ketika emak masih disini, sesekali dengan teganya bapak membawa perempuan-perempuan itu ke rumah.

Kini, sudah lima tahun lebih, emak tak ada kabar beritanya. Ya, sejak terakhir kali emak pulang dan memergoki bapak sedang bergumul dengan Yu Tum di dalam kamarnya. Itulah pertama kali kulihat, emak naik pitam. Biasanya, emak selalu mengalah dan hanya menangis di hadapan bapak. Tetapi waktu itu, kemarahannya meledak. Bagai singa betina yang ganas, ia jambak rambut Yu Tum hingga tubuh perempuan penggoda itu terjengkang ke sudut ruangan. Detik berikutnya, beberapa tamparan pun mendarat di muka bapak. Bapak hanya diam, tak membalas.

“Bajingan!”, emak pergi dengan terus mengumbar kata-kata kotor.

Ya, aku ingat sekali. Aku melihat semua kejadian itu dari balik pintu. Air mataku meleleh, entah mengapa, aku tak kuasa melangkahkan kaki mengejar emak yang berlalu meninggalkan rumah. Sejak saat itu, emak tak pernah kembali lagi.

Aku tahu, sebenarnya bapak sangat menyesal sejak kejadian itu. Untuk beberapa waktu, perilaku buruknya menjadi berkurang. Ia lebih banyak di rumah, mencoba untuk memberi perhatian lebih kepada aku dan Maja. Bapak juga beberapa kali ke kota, berusaha menjumpai emak. Mungkin untuk meminta maaf. Tetapi emak terlanjur sakit hati. Ia tidak mau menemui bapak. Sampai kemudian majikannya mengabarkan ke kampung bahwa emak tidak lagi bekerja di tempatnya. Kata orang kaya itu, emak pindah kerja ke sebuah pabrik yang memberinya gaji lebih besar dari yang ia berikan selama ini.

Bapak terus melacak keberadaan emak di kota. Tetapi emak entah kemana, seperti hilang ditelan bumi. Sampai kemudian ada beberapa orang dari desaku, yang kebetulan bekerja di kota dan mengenal emak, mengabarkan bahwa emak telah menjadi Tenaga Kerja Wanita (TKW) di Timur Tengah. Keluarga di kampung tentu saja terkejut mendengar berita itu. Bagaimana mungkin emak bisa sampai kesana ? Dari mana ia bisa dapat uang dan mengurus segala keperluan untuk bekerja di luar negeri ? Aku tahu, bagaimanapun juga biaya untuk menjadi TKW resmi di luar negeri itu tidak sedikit.

Dan memang demikianlah, emak tak ada kabar beritanya lagi. Apalagi berkirim uang untuk keluarganya seperti dahulu. Pelan-pelan, perilaku bapak pun kembali seperti semula. Bahkan lebih parah lagi daripada yang dulu-dulu. Setiap malam ia tidak pernah ada di rumah. Pulang pagi-pagi dalam keadaan mabuk. Siang hari, kalau terbangun dan tidak ada makanan, bapak juga  selalu marah-marah. Kadang ia juga main tangan kepadaku. Ah, aku benar-benar tidak betah lagi disini. Emak, mengapa engkau tak pulang-pulang ?

Ya, kalau tak ingat Maja, aku sudah lama kabur dari rumah ini. Aku sangat menyayangi adik lelakiku itu. Dialah satu-satunya, saudara yang kumiliki. Kakek nenek, paman bibi, dan sauadara saudaraku lainnya, baik dari keluarga bapak maupun emak, sudah lama menjauh dari keluarga ini. Itu semua karena kelakuan bapak yang banyak ulah dan sering  menjengkelkan mereka. Hanya sedikit tetangga kanan kiri, yang merasa iba kepadaku dan Maja, kadang memberi bantuan tanpa kuminta. Entah itu uang, makanan, pakaian atau kebutuhan lainnya. Walaupun sangat berarti bagiku, aku menerimanya dengan hati-hati, jangan sampai ketahuan bapak. Kalau sampai tahu, bapak bisa marah besar.

Aku  masih ingat ketika dulu, Maja mendapat hadiah baju koko dari Haji Sulaeman, tetanggaku yang takmir masjid kampung. Bapak marah besar dan memukuli Maja tiada henti. Aku pasang badan melindungi Maja. Bapak semakin marah dan berusaha juga memukulku. Aku melawan, suasana menjadi gaduh. Akhirnya, pertumpahan darah keluarga bisa dihindari setelah beberapa tetangga sekitar melerainya. Bapak terhina oleh pemberian Haji Sulaeman tersebut. Bapak merasa masih mampu mencukupi kebutuhan keluarganya tanpa bantuan siapapun. Ah, tahukah kau bapak, dari dulu harga diri dan kehormatanmu sudah tak ada nilainya di mata tetangga-tetanga kita itu.

Azan Subuh segera membangunkan lamunanku. Pagi sebentar lagi tiba. Aku belum juga dapat memejamkan mata. Kutengok ke dalam kamar, Maja masih tertidur pulas.

“Arsya, bangun! Buka pintunya !” Aku tersentak. Pintu depan digedor keras.

“Cepat! Cepat !”, suara bapak berulang-ulang, membuatku ketakutan. Segera kubuka pintu.

“Minggir!” Bapak mengibaskan tubuhku. Bau minuman keras menyeruak dari mulutnya. Bapak sedikit mabuk. Yu Tum menggelayut manja di tubuhnya. Aku benar-benar muak.

Mereka berjalan memasuki kamar. Aku merasa hal buruk akan segera terjadi. Bapak mencengkeram tubuh adikku yang tertidur pulas dan menghempaskannya ke lantai.

“Heh, bangun anak jadah ! Keluar sana !”

Maja terkejut. Adikku yang baru saja tertidur pulas itu meringis-ringis. Ia tak segera keluar kamar, hanya diam. Bapak semakin marah. Beberapa pukulan dan tendangan segera mendarat di tubuhnya. Mendadak keberanianku tumbuh. Aku segera menghadang pukulan bapak. Sebisa mungkin, aku berusaha membalasnya. Bapak menjadi beringas.

“Kurang ajar ! Rupanya kalian mulai berani. Dasar anak-anak jadah ! Kalian bukan anak-anakku. Tak rugi kubinasakan kalian ! “ Bapak menyerang membabi buta dengan terus menghina emak dan menyebut aku dan Maja bukan anaknya yang sebenarnya. Perempuan penggoda yang dibawanya itu tersenyum sinis. Aku menjadi semakin muak. Begitu ada kesempatan, aku segera berlari ke dapur.

Aku tak tahu, seperti ada yang meggerakan tangan dan kakiku. Yang ada dalam pikiranku hanyalah keselamatan Maja. Detik berikutnya, beberapa tusukan pisau segera mengarah ke tubuh bapak. Darah segar muncrat. Bapak mengerang keras sambil mendekap dadanya. Yu Tum menjerit-jerit. Orang-orang segera datang menghambur ke dalam rumah. Kepalaku pening, kegelapan mendarat di pelupuk mataku. Maja memeluk tubuhku erat-erat.

***

Hampir satu tahun, aku menghuni penjara anak-anak ini. Ya, semenjak kejadian itu. Pengadilan memutusku bersalah, telah menghilangkan nyawa orang lain. Nyawa bapakku sendiri. Karena belum cukup umur, aku dimasukkan disini. Sebenarnya banyak orang dan kalangan bersimpati dengan kasusku. Mereka berusaha membebaskanku. Tetapi, aku merasa tenang tinggal disini. Seperti ada beban yang telah diturunkan dari pundakku.  Dendamku juga telah lepas. Apalagi Maja sekarang  telah dijadikan anak asuh oleh Haji Sulaeman. Tentu ia akan baik-baik saja disana.

Siang ini, beberapa orang yang selama ini membelaku, memberitahu bahwa emak sudah terlacak jejaknya. Beberapa hari lalu, ia mengirim banyak uang ke alamat Haji Sulaeman untukku dan Maja. Rupanya selama ini benar, emak menjadi TKW di Timur Tengah. Menurut kabar, tidak lama lagi ia akan pulang ke tanah air. Aku menjadi tambah bersemangat. Aku sekarang ingin segera bebas.

Emak, akhirnya engkau pulang juga. Aku masih setia  menunggumu, dari waktu ke waktu, hingga berbilang tahun. Aku senang akan segera bertemu denganmu kembali.

***

Hari ini, aku dibebaskan. Hari begitu cerah. Burung-burung berkicau riang, berloncatan dari dahan yang satu ke dahan yang lain. Aku memasuki pekarangan rumahku dengan pelan. Rumah ini tampak tak terawat, berantakan sekali. Rumput liar tumbuh subur disekitarnya. Sudah beberapa bulan, aku tak menginjakkan kaki di sini.

Salah seorang yang mengantar kepulanganku ke rumah, menggamit tanganku, berusaha menenangkan pikir dan membesarkan hatiku. Ya, cerahnya hari ini, tak secerah hatiku. Harapan-harapanku mendadak sirna.

Emak mungkin sebentar lagi pulang. Tetapi aku sudah membayangkan seperti apa nanti kepulangannya ke rumah. Ada kabar dari luar negeri, emak terkena hukuman rajam dari pemerintah setempat. Emak dituduh berzina dengan sesama tenaga kerja dari Indonesia. Aku tahu persis, siapa laki-laki itu. Dia adalah tetanggaku dulu, yang selalu didatangi emak tiap malam secara diam-diam, ketika bapak tak ada di rumah. Ya, aku semakin ingat, kala itu aku selalu menunggui emak tiap malam dan disuruh tak mengatakan hal itu kepada bapak.


Kepalaku pusing. Semua yang ada terasa ambruk

Senin, 05 September 2011

MUADZIN KETUJUH

(Dimuat di Jurnas, 7 Agustus 2011)

Akhirnya aku pulang ke kampung ini. Tempat aku dilahirkan dan dibesarkan. Entah, sudah berapa tahun aku meninggalkannya, berpindah-pindah dari satu daerah ke daerah lain, hingga beberapa tahun kemudian menetap di Jakarta sebagai salah satu pimpinan sebuah perusahaan besar. Usia memang tidak bisa dipaksakan, juga faktor kesehatan. Beberapa bulan yang lalu, aku mengajukan pensiun. Perusahaan ternyata menyetujuinya. Dengan berbagai pertimbangan matang, aku memutuskan akan menghabiskan masa tua di tanah kelahiran.

Anak-anakku sudah besar dan membangun rumah tangga sendiri-sendiri. Mereka sebenarnya tidak setuju aku kembali ke desa. Takut jika nanti terjadi apa-apa, tidak ada yang menjaga dan merawatku. Namun, tegas kukatakan kepada mereka, keputusanku ini sudah bulat. Dengan sisa-sisa tenaga yang ada, aku merasa masih bisa berbuat lebih banyak lagi bagi kampung halaman, yang dari dulu sampai sekarang, tetap saja tanpa kemajuan berarti ini.

Meski dalam hati, sebenarnya aku menangis. Aku sebisa mungkin mengingkarinya dan berusaha tetap tegar di hadapan anak-anakku. Ya, semenjak kepergian Laila, isteriku tercinta, mendahului menghadap sang pencipta beberapa tahun lalu, aku seperti kehilangan separuh jiwa. Tiada lagi pendamping yang setia menemani dan memberiku pertimbangan, baik dalam keadaan suka maupun duka. Aku benar-benar goyah dan kehilangan pegangan. Untuk melupakan semua itu, jujur, sebenarnya keputusan ini kuambil.

Dan beberapa hari yang lalu, aku telah menginjakkan kaki di kampung halaman. Yang kutuju pertama kali adalah sebuah rumah baru, terletak tak berapa jauh dari masjid kampung yang cukup besar. Beberapa tahun belakangan ini, aku memang mengirim uang ke kampung, menyuruh saudara jauhku membangunkan rumah diatas tanah peninggalan orang tua. Kini, setelah hampir sempurna, rumah itu kutempati seorang diri.

Ada kebiasaan baru, yang dulu sewaktu masih bekerja di kota, jarang bahkan tidak pernah kulakukan sama sekali. Ya, aku kini menjadi rajin ke masjid yang terletak di dekat rumahku. Masjid itu, sewaktu aku pertama kali datang, walau besar tetapi tampak kotor dan tidak terawat. Jarang ada orang yang sholat berjamaah di dalamnya, kecuali pada waktu sholat Jum’at saja. Aku tahu, daerah ini adalah daerah abangan. Penduduknya mempunyai pengetahuan dan pemahaman agama yang biasa-biasa saja.

Namun, ada kisah menggelitik tentang masjid itu, khususnya tentang muadzinnya, yang membuatku penasaran dan menjadi harap-harap cemas tentang suatu hal. Ya, tentang suatu hal yang kupikirkan sejak Laila meninggalkanku.. Meski tak masuk akal, kisah itulah sebenarnya yang membuatku begitu tertambat kepada masjid itu.

Setiap pagi menjelang, suaraku yang tak terlalu merdu, membelah kampung membangunkan orang-orang untuk segera menunaikan Sholat Subuh. Seperti halnya yang dilakukan oleh enam orang pendahuluku, muadzin-muadzin itu, yang sekarang telah beristirahat dengan damai di makam belakang masjid.

***

Mula-mula aku tak begitu peduli dengan masjid itu. Beberapa waktu terakhir ini, sholatku memang rutin, tetapi lebih banyak kukerjakan sendirian di rumah. Hingga suatu hari, entah mengapa, ada yang mendorongku bertanya kepada Sarkoni, orang yang rumahnya bersebelahan dengan rumahku.

“Mas Sarkoni, sepertinya ada yang aneh dengan masjid ini ? Besar tetapi kok tak terawat dengan baik. Jama’ahnya juga hampir tak ada.”

“Wah, itu ada ceritanya Pak Sambas.”

“Cerita gimana, maksud Mas Sarkoni ?”

“Begini Pak, ada kepercayaan oleh orang-orang kampung, mereka yang aktif di masjid, khususnya yang rutin azan, dapat ditebak bahwa ajal mereka sudah dekat.”

“ Kok bisa begitu ? Saya jadi bingung, Mas.”

“Benar, Pak Sambas. Ini dapat dibuktikan dari muadzin-muadzin masjid ini yang sekarang sudah meninggal.”

Aku benar-benar penasaran dengan penuturan Sarkoni. Melihat gelagatku yang ingin tahu lebih banyak, akhirnya Sarkoni mulai bercerita, tanpa kuminta.

“Dulu, pada awal-awal dibangun, masjid ini sebenarnya ramai sekali, Pak. Orang-orang kampung sini, yang minim pengetahuan agamanya, seperti mendapat kebanggaan tersendiri dengan adanya masjid ini. Tanah tempat masjid ini dibangun diperoleh dari wakaf Pak Kadus Mantan sedangkan dana dan pembangunannya dilakukan gotong royong oleh warga kampung sendiri. Alhasil, setelah masjid ini dapat berdiri dengan cukup besar, banyak pujian dari kampung-kampung lain. Warga pun antusias melakukan aktivitas keagamaan di disini.”

Sarkoni menghentikan ceritanya, mulai menyalakan sebatang rokok yang sedari tadi dimain-mainkan di jemarinya. Aku jadi tak sabar.

“Lantas ?”

“Tetapi lambat laun, ada sesuatu yang ganjil dirasakan oleh warga kampung. Setiap warga kampung yang berinisiatif menjadi muadzin, tak lama kemudian dipastikan akan meninggal dunia. Hingga kini, tidak ada yang berani mengkhususkan diri menjadi muadzin disini. Tak ada lagi yang mengumandangkan azan, memanggil warga untuk datang ke masjid. Karena itulah, lama-lama jama’ah masjid ini berkurang, bahkan nyaris tak ada sama sekali.”

Aku makin penasaran, “Masak bisa begitu sih, Mas ?”

“Bapak, boleh percaya boleh tidak, yang pasti sudah enam muadzin tetap masjid ini yang meninggal dunia. Kalau masih penasaran, Bapak boleh bertanya kepada warga lainnya.”

Memang demikianlah adanya, setelah beberapa waktu di kampung ini, aku banyak mendengar cerita tentang muadzin-muadzin itu. Mulai dari Pak Kadus Mantan (pendiri masjid), Pak Tejo Gusar (mantan pejabat kabupaten), Mbah Kasan Berahi (lelaki yang suka main perempuan) hingga Karto Kapak (preman kampung yang kemudian insyaf), sama persis dengan yang diceritakan Sarkoni. Ternyata setelah kutelisik lebih lanjut, muadzin-muadzin itu, kecuali Pak Kadus Mantan yang terkenal alim, banyak tersandung berbagai masalah dalam hidupnya. Menginjak usia senja, karena sebab yang berbeda-beda, mereka bertobat dan akhirnya khusyu di masjid hingga menghembuskan nafas terakhir. Dalam hati aku bergumam, sungguh beruntung sekali mereka. Memang seperti itulah sebenarnya yang diinginkan banyak orang. Walau dalam hidupnya banyak bergelimang dosa, tetapi dapat mati dalam keaadaan yang baik dan mulia atau khusnul khotimah.

Tiba-tiba terbersit dalam benakku, untuk mengikuti jejak mereka. Ya, bukankah masa laluku juga banyak diliputi kekelaman, tak jauh berbeda dengan mereka. Tipu daya dan keculasan sering kulakukan untuk kepentingan bisnis hingga bisa hidup makmur seperti sekarang. Lagi pula, sudah lama aku ingin menyusul Laila, isteriku yang sangat kucintai. Di dunia ini, tanpa Laila, hidupku benar-benar hampa.

Ah, mulai sekarang, akan kuhidupkan kembali toa masjid itu. Aku ingin mengumandangkan adzan setiap waktu sholat tiba. Akan kuramaikan kembali denyut nadi masjid itu. Semoga, ini merupakan jalan yang ditunjukkan Allah untuk bertemu kembali dengan isteriku di surga.

***

Maka, hari-hari berikutnya, aku mengurus masjid itu. Membersihkan bagian dalam masjid dan juga lingkungan sekitarnya yang tampak kotor. Beberapa bagian lain yang rusak, juga kuperbaiki. Peralatan dan perlengkapan yang belum ada, telah kubelikan pula. Semuanya dengan uang dari kantongku sendiri. Aku benar-benar ingin menghabiskan masa tuaku dengan merawat dan menghidupkan rumah tuhan itu dengan harapan Gusti Allah cepat pula memanggilku dalam keadaan yang benar-benar khusnul khotimah.

Setiap fajar menjelang, saat warga kampung masih terbuai mimpi, aku sudah bergegas ke arah masjid. Mengambil air wudlu, kemudian saat waktu Subuh tiba, aku bergerak mengambil toa lantas mengumandangkan adzan dengan penuh khidmat, walau suaraku tiada bisa merdu seperti muadzin-muadzin kebanyakan. Demikan juga di waktu-waktu sholat lainnya, aku melakukan hal serupa. Masjid itu kembali terdengar gaungnya. Jama’ah masjid pun mulai bertambah sedikit demi sedikit.

Aku mulai mendengar bisik-bisik warga kampung tentang keberanianku menjadi muadzin ketujuh masjid itu. Mereka sepertinya menebak-nebak dan menghitung hari, kapan kematianku tiba. Aku justru senang sekali. Aku makin giat dan khusyu beribadah di masjid itu. Aku benar-benar siap menyambut ajalku.

Waktu terus berlalu, hari berganti hari hingga berbilang tahun, namun kematian yang kunantikan tak kunjung tiba. Aku hampir putus asa. Tetapi aku tak menyerah. Kini, dalam doaku, aku lebih tekun meminta kepada tuhan supaya kematianku dipercepat. Tuhan maha mendengar, hingga saat itupun akhirnya tiba.

Subuh itu, seperti biasanya, aku mengambil air wudlu untuk menuanaikan Sholat Subuh. Ketika beranjak dari tempat wudlu masuk ke dalam masjid, mendadak keseimbanganku hilang. Tempat itu memang berlumut dan licin sekali. Aku terpeleset, kepalaku membentur tembok. Aku merasa seperti ada hantaman maha berat melanda tubuhku. Mendadak semuanya gelap. Gelap sekali. Hingga aku merasakan sesuatu yang lain. Ya, aku merasa tercerabut dari jasadku pelan-pelan, kemudian semuanya terasa ringan. Aku seperti melayang-layang di udara. Kulihat, orang-orang mulai ramai mengerubungi seonggok jasad, jasadku sendiri. Aku sekarang telah mati. Izrail telah datang menjemputku. Rohku dibawanya berputar-putar, melayang-layang bagai kapas tertiup angin, menuju surga yang kunantikan.

Aku melihat tempat itu. Ya, surga yang selama ini kunantikan. Disana, semuanya terasa berjalan dengan tenang dan damai. Aku melihat Laila, isteriku, tampak bahagia sekali. Ia tersenyum dan melambaikan tangan kepadaku. Aku membalas lambaian tangannya. Aku juga seperti mengenal baik orang-orang yang wajahnya tampak cerah dan bersinar itu. Mereka adalah muadzin-muadzin pendahuluku. Mereka juga terlihat bahagia menghuni surga. Aku senang sekali, sebentar lagi, aku akan segera bergabung dengan mereka disana.

Tetapi tak seperti yang kuduga, Izrail ternyata hanya melewati surga, tak meninggalkanku di tempat teduh itu. Aku dibawanya terus melayang, hingga ke suatu tempat yang sangat mengerikan. Jurang yang begitu dalam dengan api berkobar menyala-nyala. Berkali-kali kudengar lolongan dan rintihan orang yang disiksa. Sungguh! Aku sangat takut.

“Tempatmu disini. Engkau akan menghuninya sampai beberapa waktu ?”

Aku merinding sekali. Aku tak mau tinggal di tempat ini. Rohku meronta-ronta.

“Mengapa aku ditempatkan disini, padahal aku selalu memuliakan dan beribadah di masjid setiap waktu ?”

“Benar, engkau selalu melaksanakan perintah-perintah tuhan dengan baik, tetapi niatmu keliru. Padahal, segala amal ibadah itu dihitung berdasarkan niatnya. Masih banyak kewajibanmu di dunia yang harus kautunaikan dan kau sebenarnya bisa memetik lebih banyak pahala dari itu semua. Tahukah kau, mengharap mati dan melakukan suatu perbuatan yang meyebabkan mati itu adalah dosa besar.”

Rohku semakin meronta-ronta. Aku tak mau dilemparkan ke dalam api neraka. Aku menangis, memohon kepada Izrail untuk dikembalikan ke dunia, menebus kesalahan-kesalahanku. Tetapi semuanya telah terlambat.

“Untuk sementara waktu, tempatmu di neraka, wahai manusia…”

Rohku dilemparkannya ke dalam neraka. Segala kengerian menyambutku dibawah sana. Aku menjerit panjang. Sontak aku tersadar, ketika semua mata itu memandangku dengan harap-harap cemas. Ruangan yang sepertinya kukenal betul, bukan di neraka. Aku merasa bisa menghirup udara segar. Kulihat anak dan cucuku berkumpul di sekelilingku. Anak bungsuku mendekat, matanya tampak berkabut, kemudian mengelus-elus tanganku.

“Alhamdulillah, Ayah telah sadar”

Aku seperti terbangun dari mimpi buruk. Nafasku tersengal-sengal. Rasa takutku tak juga hilang. Aku merasa banyak makhluk ghaib mengikuti hingga ke kamar ini. Mereka mengintipku dari setiap lubang yang ada dengan mata menyala-nyala menakutkan, siap menyeretku ke tempat mengerikan itu sewaktu-waktu.

Kp, Desember 2010


catatan :

muadzin : orang yang mengumandangkan adzan di masjid

MERTUA DAN MENANTU

(Dimuat di Minggu Pagi no. 17 Minggu IV Juli 2011)

Hampir setiap pagi, suami isteri itu selalu dongkol dan menahan marah. Betapa tidak, mereka sudah semenjak Subuh tadi sibuk melakukan pekerjaan rumah tangga, menantunya masih meringkuk lelap di kamarnya. Sedang anak lelakinya, suami perempuan manja itu, sudah beberapa jam yang lalu berangkat memutar dagangannya ke toko-toko dan warung-warung di daerah itu. Ya, sudah beberapa hari ini, Handoyo mencoba peruntungan sebagai distributor barang-barang kebutuhan rumah tangga. Ia mengambil barang-barang tersebut di pusat kota dengan harga murah, kemudian mengedarkannya ke berbagai tempat tersebut dengan selisih harga yang lebih mahal.
“Keterlaluan sekali Bu, menantu kita itu, masak sudah jam segini belum juga bangun ?,” Pak Darminto mulai menggerutu.
Lha, gimana lagi Pak, Dia pilihan anakmu. Dari dulu sudah kuperingatkan agar tak Kamu ijinkan dia menikahi perempuan itu. Nyatanya kelakuannya seperti ini, setiap hari bikin mangkel saja,” Bu Darminto menyahut gerutu suaminya, dengan nada tinggi.
“Ah, mengapa Aku yang malah disalahkan. Kamu juga salah Bu, terlalu memanjakan si Han, sehingga tak pernah mau menurut perintah orang tua,” sergah Pak Darminto membela diri.
“Ah, Bapak ini selau begitu, tak mau disalahkan,” isterinya bersungut-sungut.
“Sudahlah Bu, jangan saling menyalahkan. Mungkin memang kita harus lebih bersabar. Kalau kita tegur si Narti, juga serba salah. Ia akan mengadu kepada suaminya, ujung-ujungnya malah kita yang bertengkar dengan anak sendiri. Mudah-mudahan seiring berjalannya waktu, menantu kita itu akan mengubah sifat-sifat buruknya,” Pak Darminto terlihat mulai bijak, sedang isterinya tampak masih belum bisa meredam kejengkelannya.
Suami isteri itu kemudian terdiam, mencoba berdamai dengan kedongkolan yang berkecamuk di dada mereka masing-masing. Tiba-tiba pintu kamar anaknya terbuka. Sunarti yang baru bangun tidur, dengan cuek dan mata masih mengantuk keluar kamar, berjalan menuju kamar mandi. Bu Darminto mengelus dada, sedang sang suami memalingkan muka, walau sebenarnya tak bisa dipungkiri, matanya melirik ke tubuh sintal Sunarti. Ya, tentu saja, menantunya itu keluar kamar dengan tubuh yang nyaris terbuka, hanya mengenakan tank top dan celana dalam tipis, terlihat jelas lekuk dan tubuh kuning langsatnya yang mulus.
Bu Darminto makin uring-uringan. Ia memandang suaminya, ada rasa cemburu di hatinya. Suaminya salah tingkah. “Eh Bu, Aku ke sawah saja dulu, matahari sudah makin tinggi.”
Hari merambat siang, dan keadaan seperti itu selalu mengulang hari-hari kemarin dan akan berulang kembali di hari-hari selanjutnya.
***
Handoyo pertama kali bertemu dengan Sunarti di sebuah counter HP. Mereka sama-sama kehabisan pulsa ketika itu. Selanjutnya mereka saling berkenalan, dan bertukar nomor HP. Handoyo merasa jatuh cinta pada pandangan pertama dengan gadis manis berbandal sintal kemanja-manjaan itu. Tiap hari ia datangi rumah Sunarti, yang ternyata tidak terlalu jauh dari rumahnya. Seminggu kemudian, di hadapan kedua orang tuanya, ia utarakan keinginannya melamar pujaan hatinya tersebut. Pak dan Bu Darminto tentu saja terkejut, tak pernah terlihat berpacaran dengan seorang perempuanpun, tiba-tiba saja anaknya itu minta dinikahkan. Lebih terkejut lagi, setelah tahu bahwa gadis yang dicintai oleh Handoyo adalah anak dari seseorang yang pernah bersinggungan dengan masa lalu pasangan suami isteri itu.
“Pokoknya Aku tidak setuju, Kamu menikahi gadis itu. Ibu punya firasat ia bukan perempuan baik-baik untukmu,” Bu Darminto mengutarakan ketidaksukaannya. “Lagi pula, Kamu mengenalnya kan baru sebentar, belum tahu banyak hal tentang dia to ?” suaminya menambahkan.
“Setuju atau tidak setuju, Aku tetap akan menikahi Sunarti. Kalau Bapak dan Ibu tidak mau melamarkan, akan kulamar sendiri ia pada orang tuanya,” Handoyo ngotot dengan keinginannya.
Demikianlah, setelah berdebat panjang, Handoyo tak surut langkah dengan keinginannya, akhirnya Pak dan Bu Darminto terpaksa memenuhi keinginan putera bungsunya itu. Apalagi setelah Handoyo mengancam akan meninggalkan rumah, apabila tetap tidak direstui meminang Sunarti. Maka, berlangsunglah kemudian acara lamaran itu. Beberapa hari setelahnya, dengan acara sederhana pula, yang cuma dihadiri kerabat dekat dan tetangga kanan kiri, Handoyo resmi menikahi Sunarti.
Banyak hal sebenarnya mengganjal di hati Pak dan Bu Darminto tentang pernikahan anaknya itu, terutama bagi Bu Darminto. Ya, betapa tidak, ternyata ibu Sunarti, dahulu kala adalah kekasih Pak Darminto. Seperti kasak-kusuk yang terdengar kemudian diantara para tetangga, dulu Pak Darminto dan ibu Sunarti adalah sepasang kekasih yang di mabuk cinta. Tetapi sayang, cinta mereka akhirnya kandas di tengah jalan. Pak Darminto tidak dapat membantah perintah orang tua, bahwa ia telah dijodohkan dengan gadis pilihan orang tuanya, ibunya Handoyo sekarang. Menurut cerita, setelah mengetahui kekasih hatinya itu menikah, ibu Sunarti seperti putus asa berkepanjangan hingga hampir gila. Pihak keluarga akhirnya membawa ibu Sunarti ke Jakarta, ke tempat saudara jauhnya, agar dapat melupakan kegagalan cintanya yang pahit itu.
Demikianlah, lama tak terdengar kabarnya, beberapa tahun yang lalu, ibu Sunarti pulang kembali ke tempat asalnya dengan membawa seorang anak gadis molek yang telah menginjak dewasa, anak kandungnya, yang sungguh mirip dengan dirinya di kala muda. Konon di Jakarta, ia pernah menikah dengan seseorang, tetapi takdir menghendaki bahwa suaminya meninggal akibat suatu penyakit berat. Merasa kesulitan mencari penghasilan di kota besar, akhirnya ibu Sunarti kembali pulang ke kampung halaman.
Cerita itu terdengar pula oleh Handoyo kemudian. Namun tetap tak mengurangi cintanya kepada Sunarti. Ia tetap menyayangi Sunarti, bahkan makin memanjakannya, hingga sering membuat ia harus beradu mulut dengan kedua orang tuanya, terutama dengan ibunya, yang sedari mula memang terang-terangan menyatakan ketidaksukaannya kepada menantunya itu.
***
“Pak, kamu dengar nggak gunjingan tetangga kiri kanan,” pagi-pagi Bu Darminto sudah kembali berbicara dengan nada keras.
“Gunjingan apa to Bu ?” Pak Darminto menjawab dengan agak acuh.
Ealah Bapak ini, pura-pura nggak tahu saja,” Bu Darminto terlihat mulai sewot. “Itu lho tentang kelakuan menantu ayumu. Dandanannya itu, kayak perek saja. Rambutnya disemir warna-warni, keluar rumah dengan pakaian minim, dan ini sungguh yang membuatku muak, perempuan kok nggak malu kemana-mana merokok klecas-klecis. Apa dia nggak tahu, duit yang ia hamburkan untuk itu semua berasal dari hasil kerja keras suaminya seharian.”
“Lalu, aku harus bagaimana ? Kalau Narti kutegur, yang marah malah si Han. Aku bosan bertengkar terus dengan anak sendiri “
Memang begitulah, suami isteri itu tak tahu harus berbuat apa terhadap menantunya, selain hanya bisa menahan dongkol di dalam hati. Beberapa kali ia menasehati Sunarti agar mengubah kebiasaan buruknya, tetapi tak digubris sama sekali, malah ia sering mengadu macam-macam kepada Handoyo, bahwa ia sering diperlakukan tidak baik oleh mertuanya. Handoyo langsung marah kepada orang tuanya, bila mendengar pengaduan seperti itu. Pak dan Bu Darminto, sekali lagi, hanya bisa mengurut dada, memperpanjang kesabaran.
Mereka sebenarnya merasa kasihan dengan anaknya tersebut. Handoyo adalah pekerja keras, namun selalu luput dari keberuntungan dan nasib baik. Berbagai usaha dilakoni, tak kenal lelah, tetapi hasil yang dituai tak juga memuaskan. Kakak-kakaknya sudah mentas semua, mempunyai rumah sendiri-sendiri. Tinggal dia seorang yang menemani mereka berdua. Kini, sekali kenal perempuan kemudian dijadikan isteri, ternyata tak bisa dikatakan sebagai perempuan baik-baik pula yang ia dapatkan.
***
Dua tahun lebih rumah tangga Handoyo dan Sunarti berjalan, namun belum juga dikarunia anak. Mereka tidak mempunyai masalah dengan kehidupan seksual. Sunarti beberapa beberapa kali dikatakan positip hamil, tetapi entah mengapa janin yang dikandungnya selalu mengalami keguguran.
Suatu hari, Sunarti mengadu kepada suaminya bahwa ia sudah tidak betah tinggal satu rumah dengan mertuanya. Ia merasa tertekan selalu dipandang rendah oleh mereka. Sunarti mengatakan bila kandungannya mengalami keguguran berkali-kali, karena ia berpikir terlalu berat dan tidak bisa bebas melakukan ini itu, juga akibat tekanan mental dari mertuanya. Perempuan itu mengiba kepada suaminya agar mencari rumah kontrakan saja, supaya nanti janin dalam kandungannya bisa diselamatkan.
Akhirnya, Handoyo memutuskan tinggal di rumah kontrakan. Pak dan Bu Darminto tak kuasa menahannya. Ada rasa senang sebenarnya di hati kecil mereka, bisa lepas dari seseorang yang selama ini membuat dongkol dan sebah, namun juga ada rasa tak tega pula, sebab harus membiarkan anak bungsunya tidak bersama mereka lagi.
Tetapi sebetulnya mereka tidak benar-benar jauh dari anak dan menantunya tersebut. Rumah yang dikontrak Handoyo masih satu lingkup dengan daerah itu. Handoyo pun pada siang hari, sesekali mampir ke rumah, mengambil barang dagangan yang memang sebagian masih ia taruh disitu. Terkadang pula, sehabis pulang dari sawah, Pak Handoyo menyempatkan diri menengok rumah kontrakan Handoyo, membawakan makanan atau sekedar menengok saja. Hanya Bu Darminto yang benar-benar tak sudi bertemu dengan menantunya lagi.
Beberapa bulan setelah tinggal di rumah kontrakan, Sunarti kembali positip hamil. Kali ini Handoyo betul-betul menjaganya, takut keguguran lagi. Dan benar, perut Sunarti semakin membesar, tampaknya kehamilan kali ini dapat diselamatkan. Handoyo senang bukan kepalang, ternyata keputusannya tinggal di rumah kontrakan adalah benar. Lelaki muda itu makin giat bekerja, tak kenal lelah ia memasarkan barang dagangannya setiap hari. Ia berharap, mempunyai uang yang cukup untuk biaya persalinan dan membesarkan anaknya nanti.
***
Siang yang garang, matahari benar-benar terik menyengat bumi. Bu Darminto sibuk sendirian di rumah. Suaminya dari pagi sampai tengah hari ini pergi ke sawah dan belum pulang. Entah apa yang membuat hati Bu Darminto tiba-tiba ingat menantunya yang sedang hamil. Perempuan paruh baya itu merasa bersalah, terlalu membenci Sunarti, hanya karena ia adalah anak dari seorang yang dulu pernah begitu lama mengisi hati suaminya.
Bu Darminto ingin menebus kesalahannya selama ini. Bagaimanapun juga Sunarti telah menjadi isteri anaknya, yang kelak akan menjadi ibu pula dari cucu-cucunya. Ia memasak bermacam-acam makanan. Sebelum mengantarkan ransum untuk suaminya ke sawah, ia mampir dulu ke rumah kontrakan Handoyo, memberikan sebagian hasil masakannya itu kepada anak dan menantunya.
Rumah kontrakan Handoyo begitu lengang. Handoyo pasti sedang memutar dagangannya di luar. Bu Darminto bergegas mengetuk pintu depan, tampak ia kerepotan karena membawa beberapa kotak makanan. Mendadak kegembiraannya sirna, berubah menjadi curiga dan amarah begitu melihat sebuah sepeda motor butut tersembunyi di samping rumah. Ya, itu adalah sepeda motor tua yang biasa dipakai suaminya pergi ke sawah, yang letaknya memang agak jauh dari rumahnya.
Sontak ia buka pintu depan yang tidak terkunci, kemudian berlari ke kamar yang cuma satu-satunya, dan mendapati pemandangan yang sungguh membuat bara di dadanya kembali menyala hebat. Di ranjang itu, laki-laki yang puluhan tahun setia ia dampingi sedang bermesraan dengan menantunya yang hamil tua.
Siang yang terik dan udara yang gerah, seperti mengalirkan energi panas ke sekujur tubuh Bu Darminto, naik sampai ke ubun-ubun.