Selasa, 26 Februari 2008

MEMBACA TANAH KELAHIRAN*

Berbagai macam perasaan campuraduk di dalam hati bila kita membicarakan tanah kelahiran atau kampung halaman. Bagi mereka yang telah jauh merantau tentu menyisakan kenangan tersendiri yang membangkitkan kerinduan masa lampau. Sedang bagi mereka yang tetap setia dan tinggal disini, kampung halaman memberikan warna-warni tersendiri dalam kehidupan. Beragam persoalan, gejolak dan masalah-masalah yang timbul mengiring perkembangan suatu daerah tentu menarik untuk disimak walau cuma sekedar omongan sambil lalu belaka mengiring kongkow-kongkow kita di warung kopi, angkringan, pasar ataupun tempat-tempat umum lainnya. Membaca tanah kelahiran berarti memandang bumi tempat kita mula berpijak sejak dari masa lalu, masa kini dan segala kemungkinan-kemungkinannya di masa datang. Siapa tahu masa depan kita tergambar di situ?

Begitu pula ketika kita merenung sejenak tentang Kulon Progo dengan segala perkembangannya. Banyak hal segera menggelayut di benak kita. Betapa kampung halaman tercinta ini telah menggeliat sedemikian rupa. Baru sekarang terpikir oleh kita, bahwa Kulon Progo yang dulu adalah daerah ndeso, tak dikenal banyak orang, kini mulai terdengar gaungnya hingga ke pelosok nusantara. Dulu, bila berbicara tentang Jogjakarta, orang hanya mengenal Sleman, Bantul atau mungkin Gunung Kidul yang lebih kesohor. Tetapi lihatlah sekarang, berbagai media baik lokal maupun nasional mulai melayangkan pandang ke daerah ini. Derap irama perubahan dan pembangunan terjadi di sini. Mulai dari rencana penambangan pasir besi di pesisir selatan, pembangunan dermaga dan pangkalan TNI AL di dekat Pantai Glagah, rencana pemindahan bandara internasional ke daerah sekitar Panjatan, juga mulai berdirinya pabrik-pabrik dan usaha-usaha berskala besar di pinggiran Kota Wates. Semua itu berlangsung secara dinamis khas Indonesia. Banyak diwarnai silang pendapat, pro kontra, demonstrasi dan lain sebagainya. Jadilah daerah kita tercinta ini mulai terasa gairah panasnya.

Era otonomi daerah memang menuntut setiap wilayah untuk mandiri tidak terlalu tergantung oleh pusat. Seiring dengan angin reformasi yang bertiup kencang, maka memang sudah sewajarnya setiap daerah, tak terkecuali Kulon Progo, mulai memberdayakan segala potensinya. Tetapi yang perlu diingat adalah bahwa semua pembangunan itu berawal dan berakhir untuk kepentingan rakyat. Jangan sampai dengan dalih pembangunan, ada sebagian masyarakat yang merasa dirugikan hak-haknya atau tidak mendapatkan manfaat dari pembangunan itu sendiri. Setiap komponen daerah, baik itu pemda, wakil rakyat ataupun masyarakat sendiri harus arif dan bijak dalam melihat segala persoalan. Perbedaan visi ataupun pendapat adalah hal yang wajar. Yang perlu dihindari adalah benturan-benturan secara fisik dalam menyelesaikan suatu masalah. Duduk bersama, saling tukar pikiran adalah jalan terbaik. Saya rasa pemimpin-pemimpin kita disini sudah cukup dewasa dan telah melakukan hal itu dengan baik.

Pembangunan juga harus berwawasan ke depan. Selain kesejahteraan rakyat secara umum, aspek-aspek lain juga harus diperhatikan. Salah satu diantaranya adalah masalah lingkungan. Jangan sampai kekayaan alamnya kita keruk dan habiskan sekarang tetapi meninggalkan masalah dan bahaya yang sangat besar bagi anak cucu kita di kemudian hari. Lihatlah bencana yang mendera negeri kita belakangan ini seperti banjir dan tanah longsor. Pembangunan yang tak berwawasan lingkungan adalah salah satu penyebabnya. Cukup menyedihkan memang, bila melihat lahan-lahan hidup seperti persawahan dan perkebunan juga dikorbankan untuk membangun pabrik, rumah dan gedung-gedung lainnya. Bagaimana nanti ketahanan pangan negeri kita dapat terjaga? Semoga ini juga menjadi masukan.

Wilayah Kulon Progo terdiri dari pegunungan dan dataran rendah. Pembangunan seperti diatas memang sudah dirasakan oleh penduduk di dataran rendah yang lebih dekat dengan pusat kota. Tetapi masih banyak juga daerah-daerah terpencil di lereng-lereng pegunungan yang belum terambah. Jalan memadai dan aliran listrik pun ada yang belum masuk kesana. Kalau tidak diperhatikan dengan serius, hal ini akan menimbulkan kecemburuan sosial antar daerah. Pemerataan pembangunan menjadi hal penting yang harus diperhatikan.

Catatan penting lainnya tentang Kulon Progo adalah bahwa daerah ini mulai dirambah institusi-institusi pendidikan seperti sekolah-sekolah tinggi dan universitas-universitas. UNY misalnya, membuka program D3 nya di Kota Wates. Hal ini juga terasa sekali dalam menghidupkan denyut nadi kehidupan di kota ini. Mulai banyaknya mahasiswa-mahasiswa luar daerah yang bermukim disini serta beraneka kegiatan yang dilakukan anak-anak muda dalam berbagai even seakan membangkitkan Kota Wates yang lama tertidur.

Memang mengasyikan membaca tanah kelahiran. Rasa rindu dan bangga becampur dengan angan-angan tentang sebuah kemakmuran, semua tertumpah disitu. Sebagai generasi muda yang masih memiliki kemurnian pikir sudah selayaknya kita terlarut di dalamnya. Kita berdayakan segenap potensi kita dalam segala hal untuk membangun kampung halaman tercinta ini. Suatu saat kita jugalah yang akan menerima tongkat estafet pembangunan dari bapak-bapak kita.

Akhirnya, maju terus Kulon Progo. Sejahteralah tanah kelahiranku tercinta. Kami akan selalu menjagamu....



Wates, 12 Januari 2007

* sekali-kali mbah im nulis agak serius...hehehe

Tidak ada komentar: